Triandika Weblog Rotating Header Image

Java

Weekend: Gunung Pancar & Sentul Paradise Park

Gara-gara ada liputan di National Geografic Traveller edisi Bulan Mei 2013 tentang aktivitas weekend sekitar Jakarta yakni di air panas Gunung Pancar dan Sentul Paradise Park, maka minggu lalu kami mencoba kesana. Kalau mengikuti petunjuk arah dari NetGeo tersebut, sungguh sangat tidak membantu karena kurang jelas. Untung kami bisa memanfaatkan GPS, namun hanya air panas Gunung Pancar Sentul yang bisa muncul, sedangkan air terjun bidadari tidak belum ada.

Jam 8 berangkat dari rumah dengan rute jalan baru pemda Cibinong kemudian naik tol sekali karena keluar Sentul selatan (Sentul City). Namun petunjuk GPS ternyata lebih memilih tidak naik tol (lumayan ngirit hehe). Namun ternyata jalannya 20% kecil, 30% aspal bolong2 dan 10% batu-batu. Ternyata jalan menuju air panas Gunung Pancar melintasi gerbang Jungleland, Sentul City (jangan masuk gerbang, lewat ke kanan sampai +/- 3 Km).  Yang awalnya menyesal (kenapa ga lewat sentul) jadi baik-baik aja, karena jalan utama dari sentul city ke Jungleland ternyata belum ada di GPS.

Jam 10 kami sampai di Kawasan Wana Wisata Gunung Pancar yang dikelola oleh PT . Bayar tanpa tiket Rp 10rb dengan total 3 dewasa+1 anak + mobil (seharusnya sesuai tarif tertera Rp 8rb niih). Di wana wisata ini adalah lokasi track downhill yang sangat terkenal, karena juga menjadi venue Sea Games tahun 2012 lalu. Cukup adem suasana hutan dan banyak yang hanya leyeh-leyeh atau makan di pinggir jalan menikmati suasana hutan sesekali ada sepeda downhill terlihat.

Langsung menuju gerbang air panas, bayar lagi Rp 25rb (kali ini ada tiket). Begitu sampai, penilaian pun jatuh. Secara NatGeo sampai meliput, ternyata jauh lebih buruk dari Guci atau Baturaden. Bahkan dengan air panas di Serpong yang sempat kami kunjungi tahun lalu, Gn Pancar ini tidak lebih baik. Dari sisi fasilitas permainan anak, di Serpong jauh lebih banyak. Praktis di Gn Pancar hanya ada 2 kolam umum air panas (laki2 dan perempuan) serta kamar2 berendam yang disewakan Rp 15rb per 30 menit.

Berikut ini beberapa foto2nya. Sayang juga sudah bayar Rp 35rb tapi ga nyoba berendam hehe.

DSC05716

DSC05721

Karena kurang nyaman dengan area yang tidak luas dan masih menunjukan jam 11.30, maka agenda makan siang digeser ke tujuan berikutnya yang juga diliput NatGeo, Sentul Paradise Park. Tanya-tanya satpam di Gn Pancar, lokasi Air Terjun Bidadari tersebut mengambil arah ke desa Bojongkoneng (desa ini bisa dilihat di GPS, salah satu yang kelihatan SDN 2 atau 3), dari Sentul City ambil pertigaan Pos Aju Koramil. Kalau anda dari Jakarta, itu sebelum Masjid. Karena kami dari Jungleland, maka setelah Masjid Sentul City.

Jam 12.30 sudah masuk Gerbang Sentul Paradise Park (SPP), harga tiket 25rb per orang dewasa dan Rp 10rb mobil. Jalan masuk ke SPP ini cukup jauh dari jalan utama aspal, sekitar 1 Km ke gerbang dan 1 Km dari Gerbang ke lokasi wisata, dan kondisi jalan batu-batu. Bagi mobil yang kurang sehat dan cukup tua (serta kurang skill :D), tidak disarankan ke sini karena terjalnya tanjakan dengan jalan batu2 lepas yang membuat gigitan ban kurang kuat. Bisa dilihat, kondisi jalan dari gerbang seperti di bawah.

Sebaiknya jangan mengambil lahan parkir yang diatas, alias terus saja kalau ada tulisan parkir karena ada tempat parkir di bawah juga. Namun, view dari parkir atas itu sangat bagus, langsung bisa melihat semua obyek dalam satu waktu (plus untuk foto2 pribadi oke hehe).

DSC05727

View dari parkir atas

DSC05738x

View dari parkir bawah (panoramic)

Jadi cukup lumayan wisata air terjun dan pemandian ini. Lumayan mengobati kekecewaaan akibat air panas sebelumnya, pangsa pasarnya pun banyak mobil > 200 jt yang datang kesana. Sayangnya fasilitas ganti baju sedikit, dan bale-bale untuk duduk2 atau makan harus bayar Rp 30rb/2 jam. Akhirnya kami pun makan siang di mobil dengan menurunkan jok belakang + tengah, lumayan hehe. DSC05734 - x

Setelah makan siang dan tidak terlalu terik, kami baru turun ke bawah untuk menikmati air mancur, air terjun dan kolam nya.

DSC05766DSC05760

DSC05749

Jam 3, kami keluar dari area SPP Dan benar, beberapa kendaraan cukup kesulitan naik menuju jalan aspal. Lewat Sentul City, masuk tol sentul selatan, keluar sentul utara (sirkuit sentul), langsung menuju jalan pemda cibinong dan lewat GDC. Jam 4, kami sudah sampai di rumah.

Bagaimana dengan jarak? Dari rumah ke Gn Pancar (via jalur non-tol) sekitar 45 Km. Lalu Gn Pancar-SPP sekitar 15 Km. Pulang SPP- rumah lewat tol juga sekitar 45 Km. Cukup dekat dan mudah terjangkau. Selain itu dari sisi harga dan obyek yang ditawarkan, value for money cukup bagus. Kecuali air panas Gn Pancar,  walaupun masih bisa diterima, dengan bersepeda atau lebih menikmati suasana hutan yang sejuk. Dan efektifnya anda bisa mengunjungi kedua obyek ini dalam satu hari.

Beach Tour: Tanjung Lesung & Carita Anyer

Memang perjalanan tour kali ini tidaklah sepanjang mountain tour akhir 2010 lalu, namun sebenarnya beach tour ini melengkapi koleksi pantai selatan jawa barat yang sudah kami jelajahi (tapi belum tidak semua ditulis di blog hehe), yakni Pelabuhan Ratu 2011, Pangandaran 2009 dan 2012. Beach Tour ini kami lakukan di sebuah long weekend bulan Maret 2013.

Anyer sendiri pernah kami kunjungi tahun 2009 sebelum Safa lahir saat ada acara kantor. Oleh karenanya, Carita yang lebih timur akan menjadi tempat menginap karena Tanjung Lesung sangat ‘tidak masuk budget’ karena lebih berbentuk resort. Namun, rute perjalanannya, kami  akan mengunjungi Tanjung Lesung dan sekitarnya, dan menjelang makan siang akan menuju Carita.

Berangkat jam 5.30 pagi, kami langsung meluncur menuju Tanjung Lesung dengan mengambil jalur Pandeglang. Keluar Tol Serang Timur, jam masih Jam 7. Secara jarak, Depok-Tanjung Lesung via Pandeglang sekitar 210 Km seperti yang ditunjukan Google Map dibawah.

Depok-Tjg Lesung

Jalur Serang-Pandeglang-Tanjung Lesung secara umum cukup baik, hanya beberapa spot terutama antara Pandeglang-Tanjung Lesung di area pegununganyang jalannya berlubang. Jika menyukai Durian, maka setelah keluar kota serang ada beberapa Depot Durian Jatuhan yang bisa menjadi pilihan. Karena kami mengejar waktu jam 9 sampai Tanjung Lesung supaya pantai tidak terlalu panas (plus konon durian disitu > 75 ribu :D), maka menjadi catatan saja untuk trip berikutnya.

Jam 9 kami sampai di lokasi komplek Resort Tanjung Lesung. Ada gerbang yang dijaga satpam dan baru dibuka jam 7 pagi untuk pengunjung dari luar yang akan diberikan Guest Pass. Di dalam komplek resort jalan sangat mulus dan sudah siap dikembangkan menjadi 2 lajur di masa depan. Masih ada cukup banyak sawah di komplek tersebut. Konon di area komplek ini nantinya akan dibangun bandara kecil seperti bandara di Pangandaran. Belakangan diketahui bahwa pengelola komplek tersebut sama dengan pengelola kawasan industri Jababeka di Cikarang, Bekasi.

Komplek? Ya..Tanjung Lesung adalah komplek tertutup yang terdiri atas beberapa hotel berlokasi di bibir pantai. Pengunjung non-tamu hotel memang masih mungkin menikmati pantai non-hotel, namun pantai di hotel tentu lebih bersih dan menarik. Sedangkan pantai di luar komplek ada sebelum masuk ke komplek tersebut.

Kami langsung menuju ke paling ujung  jalan dari komplek menuju ke Pantai Badur. Dengan membayar Rp 20 ribu (1 mobil) dan Rp 5 rb/orang (bonus teh botol, jadi net nya Rp 3rb lah ya) yang tampak bukan dari pengelola Tanjung Lesung, tapi semacam ‘Karang Taruna’ desa. Tapi cukup ramah, dan terkesan tidak memalak karena ada karcisnya. Buat satpam gerbang Tanjung Lesung sendiri, sebenarnya tidak ada biaya masuk namun seringkali ada yang meminta dengan dalih sukarela (tanpa kercis).

Apa yang ada di Pantai Bodur? Berikut snapshots nya.

DSC05056

Untung kami tidak disini sekitar jam 9.30, jadi belum terlalu panas, sepi dan cocok untuk foto-foto. Konon kalau sore lebih ramai, banyak yang berenang di lokasi ini. In overall, pantainya memang bukan 100% pasir putih karena ada bagian2 batunya, namun cukup eksotis apalagi bila ketemu beberapa spot seperti bangku yang tampak yang menarik seperti di bawah (bayangkan dengan sudut yang tepat, di bangku tersebut ada orang yang memandang pantai, atau pasangan yang duduk saling memandang hehe).

DSC05052

Berikutnya, kami menuju ke Beach Club, dimana pengunjung yang tidak tinggal di hotel harus membayar Rp 75 rb/mobil untuk bisa masuk (sudah jauh-jauh kesini, kami masuk juga lah). Apa yang ada di beach club ada fasilitas beach sports macam boat, banana, snorkling dll dan juga tenda untuk bermalam, serta sebuah dermaga. Secara umum di beach club ini mahal-mahal biaya sewa alat olahraganya, pun dari awal kami hanya ingin membunuh rasa ingin tahu dan (pastinya) foto-foto. Kalau mau lebih murah dan optimal, bawa alat renang sendiri karena pantai disini lebih nyaman berenang dibanding di Badur tadi. Fasilitas mandi, mushola dll juga jauh lebih bagus (baca: ada harga ada rupa).

DSC05103

DSC05105-e

DSC05127

Setelah Dhuhur, kami langsung menuju ke kawasan Pantai Carita Labuan sekitar 50 Km dari Tanjung Lesung. Sambil jalan sembari browsing Kuliner di Labuan dan pilihan jatuh ke RM. Ibu Entin. Lokasi sekitar 1 Km dari pertigaan dari Labuan ke Lanjung Lesung atau Carita. Luar biasa mantap dan relatif lebih murah dibanding di Jakarta. Menu yang terkenal dari Ibu Entin ini adalah Otak-otak (Rp 1500 per bungkus) dan udangnya. Mantap lah pokoknya..hehe.

DSC05138

Sekitar jam 2.30 kami sampai di kawasan pantai Carita. Ayah safa sudah pernah menginap disini tahun 2006 (baru sidang ada proyek survei) dan waktu itu gagal menginap di pinggir pantai karena budget tidak memungkinkan hehe. Kali ini berusaha mencari lokasi cottage tersebut dan ketemu, Desiana Cottage. Here it goes..

DSC05219DSC05151

DSC05226

Dengan beberapa tipe room dan cottages (range harga Rp 250 rb – Rp 1.6 jt), harga yang ditawarkan masih sangat logis mengingat lokasi dan fasilitas prime nya di pinggir pantai. Langsung kami nyebur pantai sore hari itu, dan pagi hari keesokan harinya. Untuk makan malam, seafood di pasar ikan Carita cukup enak walaupun parkir nya terbatas (bahu jalan) dan nunggu antrian masakan cukup lama.  Banyak mobil parkir di pasar ini karena disini banyak orang membeli ikan dan makan seafood.

DSC05160DSC05206

Sudah merupakan tradisi baru bahwa setiap ke Pantai kami mencari TPI alias Tempat Pelelangan Ikan. Sengaja dari rumah membawa box ikan, maka pagi hari kami menuju TPI di Labuan, sekitar 10 Km dari Carita. Memang ada tempat jual ikan di dekat Carita, namun di TPI atau pasar ikan ada sesuatu yang berbeda (harga di TPI lebih murah dibanding di pasar ikan carita). Dan uniknya, pasar ikan yang lebih besar ternyata harus menyeberangi sungai supaya cepat daripada berkendara menuju kesana. Agak unsafe juga sebenarnya naik perahu seperti foto-foto di bawah, tapi kami enjoy saja sambil menertawkan anak-anak nelayan mandi hehe.

wow.. hati-hati.

wow.. hati-hati.

No comment :p

No comment :p

Foto sendiri

Foto sendiri

Minta tambah hehe

Minta tambah hehe

Setelah main di pantai lagi, kami segera berkemas pulang. Tepat jam 12 check out dan lengsung menyusuri ke barat menuju Anyer, terus sampai Cilegon. Sebenarnya awalnya kami berencana mengoptimlkan waktu dengan mampir makan siang di Pantai Anyer atau sebelumnya di sepanjang pesisir Carita ke Anyer, namun karena Safa tidur dan kami sendiri sudah pernah ke Anyer, maka kami batalkan rencana tersebut.

Jadilah makan siang di Cilegon dan kami ingin variasi tidak makan seafood dan turunannya. Dengan metode browsing seperti sebelumhya, pilihan jatuh di Sate H Asmawi di dalam Kota Cilegon kiri jalan jalur Cilegon ke Serang. lumayan mantap juga sate dan sop disini hehe.

DSC05231

Setelahnya, kami langsung meluncur ke Depok dengan istirahat sholat di Tol Merak – Jakarta (ngantuk, pagi renang di pantai terus makan sate). Alhamdulillah..tepat maghrib kami sudah sampai di rumah.

Untuk rute, sengaja kami menggunakan rute yang berbeda untuk membandingkan antara kedua rute tersebut. Seperti dikatakan diatas, Depok-Pandeglang-Tanjung Lesung sekitar 210 Km dan Tanjung Lesung-Carita sekitar 50 Km. Sedangkan Carita-Cilegon-Depok sekitar 180 Km. Jadi, rute Cilegon memang lebih jauh namun menjanjikan jalan lebih mulus dan pemandangan pinggir pantai sepanjang Carita – Anyer. Namun, resiko tersendat di jam2 tertentu karena truk2 industri di Cilegon.

Dan menurut kami, jika akan pergi ke Tanjung Lesung (atau Pulang Umang atau Peucang, Ujung Kulon), Carita dan bahkan Anyer, anda harus menggunakan dua rute tersebut (lewat Serang-Pandeglang dan Anyer-Cilegon), karena ada spot-spot yang bisa dinikmati di kedua rute tersebut seperti diatas. Anda juga bisa melakukan semua diatas di weekend biasa dengan budget terukur untuk menikmati pantai bersih yang bisa dijangkau mudah dari Jakarta.

Mountain Tour: Guci, Dieng, Baturraden

Liburan akhir tahun adalah kesempatan bagi keluarga untuk jalan-jalan. Setelah beberapa opsi tujuan wisata dan mengingat kunjungan keluarga Magetan di awal dan akhir masa liburan, maka pilihan dijatuhkan pada tour wisata pegunungan di Jawa Tengah yakni Guci Tegal, Dieng Wonosobo dan Baturraden Banyumas.

Ini bukan jalan-jalan dengan kendaraan pribadi yang pertama buat kami dimana Safa baru saja menginjak 1 tahun. Karena pada lebaran kemarin dengan Safa baru 8 bulan, kami juga mudik dengan kendaran pribadi dari Depok-Magetan dilanjutkan ke Bandung. Namun bedanya, perjalanan ini full di “jalanan” , sedangkan mudik menuju rumah tertentu untuk tinggal lebih lama. Maka, berbekal alat-alat yang didaftarkan saat mudik kemarin (serta padatnya jadwal), persiapan tour baru mulai dilakukan malam hari sampai pagi harinya sesaat sebelum berangkat, Jum’at 24 Desember 2010.

Jam 9 akhirnya mobil bergerak meninggalkan rumah, telat 1 jam dari rencana awal karena perihal packing.  Rute yang di ambil Pantura menuju Tegal, dilanjutkan jalan alternatif ke Wonosobo kemudian ke Purwokerto menuju Baturraden. Ternyata tol dan lalu lintas cukup padat (tampaknya karena liburan dan kami berangkat terlalu siang) sehingga Jam 12 baru keluar Cikampek via pintu Dawuan. Jam 17, sampai di Tegal untuk mendapatkan detil info jalan menuju Guci dan rekomendasi hotel disana.

Alhamdulillah, jam 18 sudah masuk Guci dan segara check-in di Hotel Mutiara. Hotelnya setara melati, namun karena sedang peak season maka harga nya naik hampir 2 kali lipat. Namun plusnya, hotel tempat menginap menyediakan kolam renang dari sumber air panas Guci, sehingga kami sekeluarga tidak perlu beramai-ramai mandi air panas di pemandian umum (Ayahnya Safa tetap mandi di pemandian Guci 🙂 ).

Agenda kami, Sabtu Jam 10 keesokan harinya harus sudah keluar dari Guci dan sejujurnya tidak banyak info mengenai obyek wisata apa saja Guci itu. Pagi hari setelah melihat pemandian Guci, berkeliling dengan kuda adalah satu cara yang cepat untuk mengetahui cepat obyek-obyek di area Guci.

Jam 10 sesuai rencana, kami bergerak ke Dieng dengan mengambil jalan alternatif dari Guci menuju Belik dan Purbalingga lalu ke Wonosobo. Jam 15.30, gerbang Dieng terlewati dan segera menuju ke Penginapan Bu Jono yang sudah dipesan 3 hari sebelumnya. Agenda kami di Dieng selama 2 malam, dan dengan banyak obyek wisata yang ada, mau tak mau maka kami memilih beberapa yang utama. Idealnya, minimal 3 malam dihabiskan untuk eksplorasi semua obyek di Dieng.

Tentang penginapan, harga nya sangat sepadan (mungkin karena sudah booking jadi aman), homey place to stay dan pelayanan yang memuaskan (makan, briefing dan peta wisata Dieng, tour guide dan keramahan). Very recommended.  Satu hal lebihnya, menantu laki-laki dari Bu Jono (sudah meninggal) adalah Geologi ITB 1972 dan orang Bandung (Sunda). Jadinya kami sering sekali diajak ngobrol banyak hal sembari kami makan. Klop dengan Bunda Safa berbicara Sunda dan Bandung :).

Tentang suhu udara, info yang kami dapat maksimum 15 deg Celcius. Di pagi hari terutama saat kami mendaki Sikunir 2,500 m DPL, saya percaya itu mendekati 5 Deg Celcius plus angin yang cukup kencang.

Agenda kami, hari Senin jam 10 sudah bergerak meninggalkan Dieng mengambil jalan alternatif melalui Pasar Batur menuju Banjarnegara. Sebenarnya kami ingin terus mengambil alternatif tidak masuk kota Banjarnegara, tapi melalui Rakit menuju Purwokerto. Namun, info di perjalanan bahwa kondisi jalan menuju Rakit banyak berlubang. Paling tidak dengan sudah mencoba akses lain dari/ke Dieng, maka kami mendapatkan kondisi jalan menuju Dieng dari Wonosobo lebih baik dibandingkan akses dari Banjarnegara. Padahal, sekitar 60% obyek wisata Dieng dikelola karena masuk wilayah Banjarnegara.

Jam 15.30, kami sampai di Baturraden dengan diiringi hujan lebat mulai dari Purwokerto. Tidak ada persiapan hotel untuk Baturraden, tidak ada teman yang pasti memberikan nama yang pasti untuk menginap. Jalan satu-satunya adalah berkeliling seputaran Baturraden, kemudian masuk ke area penginapan persis di depan Lokawisata dan Alhamdulillah, Wisma Wijayakusumah yang dimiliki oleh Korem tersebut masih ada cottage yang kosong. Karena model cottage, kami cukup mengambil 1 unit dan kasur angin yang dibawa cukup membantu untuk tidur Bibi. Harganya relatif terjangkau namun tidak ada air panas. Hitungan kami karena sudah berpengalaman di Dieng 2 malam, maka semalam Baturraden tanpa air panas bukanlah hal menakutkan.

Karena hujan sore itu, maka kami praktis tidak bisa menikmati Baturraden di waktu sisa dari jam 16 padahal seperti biasa, agenda kami maksimum jam 11 Selasa 28 Desember sudah keluar Baturraden menuju Depok (estimasi perjalanan 9 jam!). Akhirnya, hanya Lokawisata yang terdiri atas beberapa obyek yang berhasil dikunjungi mulai Selasa pagi. Sedangkan obyek yang lain misalnya Wanawisata, air terjun dan Pancuran Pitu (yang lokasinya juga di Lokawisata tapi jalan kaki 2 km) tidak bisa terkunjungi. Paling tidak kami mengenal, bahwa Baturraden adalah obyek wisata yang sangat cocok untuk keluarga terutama anak-anak untuk bermain seharian karena banyak pilihan obyek disana.

Perjalanan kembali ke Depok melalui jalur tengah (Purwokerto) bertemu dengan arus balik mudik kami (jalur selatan utama) dari Magetan di daerah Rawalo. Jadi selain untuk berwisata, tour ini juga untuk penguasaan medan jalur-jalur alternatif yang bisa di ambil untuk perjalanan mudik atau wisata ke depannya.  Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan mental keberanian untuk melakukan jelajah tersebut.

Alhamdulillah, jam 21.30 kami sampai rumah di Depok. Yang utama, Safa baik-baik saja dan cukup pulas tidurnya di perjalanan pulang. Bunda Safa dan bibi juga sempat tidur cukup. 9 Jam di perjalanan dari Baturraden ke Depok ditambah 2 jam untuk 2 kali istirahat adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Total hampir 1,200 km dilalui selama 5 hari 4 malam. Muncul keinginan baru, 1 minggu penuh di perjalanan setelah Safa lebih 2 tahun. Tentu sebelum adiknya Safa lahir nanti, InsyaAllah.. 🙂

Notes:

  • Terima kasih kepada Aditya Bram Telkomsel atas info dan bantuannya untuk Guci.
  • Peta panduan perjalanan dari Peta Mudik Nissan 2010 (lebih baik dibanding Telkomsel :p).
  • Detail waktu dan biaya perjalanan, bisa didapatkan disini. Album foto sebagian bisa dilihat disini.
  • Selama perjalanan, kami melengkapi daftar standar perlengkapan untuk perjalanan jauh (ver. triandika).

@triandika

Lintas Generasi di Bogor dan Ulat Sutra

Pada kesempatan akhir pekan, kami di undang dalam pertemuan para ex pekerja Oil & Gas area Jabodetabek yang diadakan di kota Bogor. Perkumpulan ini kurang lebih awalnya di galang oleh ex Vico Indonesia (diantaranya yang mempunyai lapangan gas di Badak, Kalimantan Timur), yang kemudian bergabung ke Oil & Gas yang lain, seperti Medco, HESS, EMP dll. Karena sifatnya silaturahim, maka tidak ada salahnya kami dalam waktu senggang off duty datang jalan-jalan ke Bogor.

Dalam silaturahim sendiri tentu ada beberapa agenda, diantaranya tukar informasi, bakti sosial, arisan, dan sebagainya. Sesuai dengan latar belakangnya, maka para peserta silaturahim adalah bapak-bapak dan istri nya yang rata-rata sudah diatas usia 50 tahun atau seusia orang tua kami. Sangat jauh dengan kami, pasangan muda usia kurang dari setengahnya. Tentu awalnya kami merasa ‘risih’ karena perbedaan usia tersebut, namun suasana akrab dan kekeluargaan menghapus pelan-pelan rasa canggung itu.

Sebenarnya ini bukan kali pertama kami bergaul dengan bapak-ibu yang usianya jauh di atas kami, karena di komplek perumahan kami (perumahan sejak tahun 70-an), hampir 80% penghuninya diatas 50 tahun. Selalu ada plus minus nya, bagaimanapun kami memandang hal-hal tersebut sebagai semacam “balancing” bagi kehidupan muda kami.

Silaturahim tersebut dilaksanakan di Rumah Sutra Alam, daerah Ciapus Kabupaten Bogor. Hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik kami untuk ikut datang, sambil melihat langsung proses pembuatan kain sutra di tempat tersebut. Sekarang kami akan ajak para pembaca untuk menelusuri perjalanan study tour kami ke Rumah Sutera Alam.

penjelasan murbei

Ini adalah salah seorang pekerja di Rumah Sutera yang sedang menjelaskan seluk beluk tanaman murbei. Dari tanaman inilah proses pembuatan benang sutera itu bermula. Tanaman murbei berasal dari Cina. Di Indonesia sendiri, murbei tumbuh di daerah basah, di lereng gunung yang banyak terkena sinar matahari. Di lahan sekitar 4 hektar ini, murbei dibudidayakan secara stek. Tidak hanya sebagai makanan ulat sutera, ternyata tanaman ini juga mengandung banyak manfaat untuk kesehatan. Daun murbei dipercaya dapat menormalkan tekanan darah, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah, menurunkan kadar gula darah, menguatkan fungsi liver, memperlambat penuaan, mencegah flu, batuk, demam dan sakit kepala.. setidaknya begitulah yang kami baca dari kemasan Murbey Tea, yang sengaja kami beli disana sebagai oleh-oleh.Cukup dengan harga 15 ribu, kita bisa merasakan sensasi berbeda dari sebuah teh celup. Rasanya enak dan kaya manfaat.. (promosi nih). btw, anak farmasi itb kayanya belum ada yang meneliti ini deh :p (more…)

Dari Pangandaran Hingga Palembang

Menjadi ‘pengantin jarak jauh’ memang tidak mudah. Dalam sebulan hanya sekitar 10 hari bertemu. Karena itu sebisa mungkin waktu yang sempit tersebut dimanfaatkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi maupun sosial direncanakan bersama-sama. Salah satunya adalah berjalan-jalan.

Alhamdulillah akhir februari lalu kami berkesempatan berjalan-jalan ke pantai pangandaran, pantai selatan yang beberapa tahun lalu diterjang tsunami. Kami berangkat menggunakan bis budiman Bandung-Pangandaran non AC dari terminal Cicaheum. Perjalanan ditempuh selama 5,5 jam dengan sekali pemberhentian istirahat di kota Tasikmalaya. Setelah itu kami memakai jasa tukang becak untuk mengantarkan kami ke penginapan. Hotel Sunset menjadi pilihan, karena lokasinya depan pantai dan harganya standar. Kelebihan hotel ini karena selain interior kamarnya yang nyaman juga dekat sekali dengan pantai. Sedangkan hotel lainnya ada yang jauh dari pantai dan ada juga yang berhadapan langsung dengan kios-kios yang berdempetan, sehingga dari segi pemandangan kurang bagus dibanding Sunset Hotel. Hanya saja kekurangan hotel ini adalah ’minim’nya sarana swimming pool (sempit) dan beberapa kekurangan yang sangat teknis, seperti keran air minum yang tersendat, handuk yang ternyata sedikit bolong, dan lemari yang beralas lantai..hehe. Tapi overall, jika teman2 sekeluarga berlibur ke Pangandaran, kami rekomendasikan hotel ini sebagai tempat peristirahatan.

cimg5578Pagi-pagi saat matahari terbit adalah waktu yang tepat tuk berolahraga. Kami berlari-lari kecil di pantai, mengagumi hamparan laut tak berbatas, mengukir nama kami di pasir sambil tersenyum. Flash..blitz pun menyala, tak bosan memuaskan sifat narsis yang terkadang muncul :).

cimg5660Ke Pangandaran rasanya tak lengkap jika tidak ke pasir putih. Arah barat laut dari Sunset hotel. Untuk mencapainya bisa dengan jalan darat atau jalan laut. Jika anda pilih jalan laut, yang tentunya lebih cepat dan menantang, anda harus lihai dalam menego supir perahu. Terdapat beberapa pilihan paket, yaitu hanya diantar ke pasir putih saja, mengelilingi pantai baratcimg5654 pangandaran saja atau paket setengah perjalanan, atau mengelilingi pantai barat hingga timur pangandaran atau paket kumplit. Pemandangan yang ditawarkan adalah gua sarang burung walet, karang-karang yang memiliki bentuk tertentu seperti batu kipas, karang iguana, karang buaya dan cimg5620karang kodok lompat, gaban atau rumah kecil di tengah laut, tempat nelayan menjaring ikan di malam hari, dan tentunya yang tak kalah menantang adalah gempuran ombak di sepanjang perjalanan. Betapa Allah telah menundukkan laut dan juga bahtera untuk manusia, agar laut itu bisa dilintasi dan agar nelayan dapat mencari penghidupan dengannya, dan agar kami bisa berfoto..hehe.

cimg5669Di pasir putih, petualangan takkan seru jika hanya berenang karena disana ada tempat wisata yang sayang jika tidak dikunjungi, diantaranya adalah gua-gua alam dan gua-gua jepang, tempat pertahanan diri dari tentara sekutu dan tempat pembantaian para pekerja romusha. Anda pun bisa tetap foto sambil bertualang asal pintar memilih tempat dan tema. Misalnya ”kemunculan dari gua bawah tanah” seperti kami :). Selama anda bisa menikmati setiap tempat yang anda kunjungi maka nikmatilah..sebelum itu hanya akan menjadi kenangan.

dsc00154Pilihan selain berenang adalah snorkling. Di pasir putih terdapat penyewaan alat snorkling lengkap, biasanya sudah sepaket dengan perjalanan naik perahu. Snorkling sambil menikmati taman laut kemudian pulang dengan menaiki kayu penyeimbang perahu berkecepatan tinggi di sisi kanan atau kiri tentu akan menjadi pengalaman tak terlupakan.

Ketika malam tiba, jangan lupa untuk berjalan-jalan ke pasar ikan di dekat pantai timur Pangandaran. Dari Sunset Hotel memang jauh, namun banyak becak yang setia menunggu. Konsep rumah makan di pasar ikan cukup unik, yaitu kita bisa pilih ikannya langsung di tempat. Tak lupa kami sarankan agar anda bertanya terlebih dahulu mengenai jumlah porsi untuk satu jenis makanan. Alih-alih anda hanya memesan 2 jenis makanan, malah terpaksa menghabiskan 4 porsi. Ya, karena 1 jenis makanan bisa dinikmati oleh 2 hingga 3 orang bahkan 4 orang.

First Flight..

cimg56922 hari telah berlalu, saatnya kami untuk pulang dan berbenah rumah. Namun agenda berubah setelah Mas Trian mendapat email undangan training di Palembang selama 2 hari. Ahad kami pulang ke Bandung, Selasa pagi kami berangkat ke Palembang. Sungguh ini pengalaman pertama saya naik pesawat, berada dekat dengan awan-awan putih yang melayang, ada yang tebal, ada yang tipis. Dari ujung timur, mentari mulai meninggi, sinarnya melukis cakrawala dengan warna keemasan. Indah tak dinyana, terimakasih ya Allah, terimakasih Mas.

cimg5771Di palembang, kami berjalan-jalan ke tempat yang direkomendasikan seorang kawan, asli Palembang :). Tidak ada salahnya jika anda juga berkunjung ke tempat-tempat tersebut jika anda sekeluarga ke Palembang. Diantaranya adalah sentra songket yang tidak hanya menawarkan kain songket khas palembang tapi juga berbagai cindera mata.

Untuk wisata kuliner, selain pempek ada martabak har, cimg5726yaitu martabak mini semacam telur dadar yang berisi daging dengan bumbu kuah santan dan sambal. Untuk wisata religi, ada Mesjid Agung Palembang. Selain itu tentu harus menyempatkan diri untuk mengambil foto di tempat yang benar-benar khas Palembang. Apalagi jika bukan jembatan Ampera dan Sungai Musinya.

triandika_amperaJembatan Ampera yang berdekatan dengan Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II terlihat lebih indah di malam hari. Dan tampaknya warga disana tak mengenal hari kerja maupun libur, sebab baik weekend maupun weekdays, lokasi tempat melihat jembatan Ampera yang gagah menjulang terlihat ramai.

Waktu berjalan-jalan pun usai, kami harus kembali pada aktivitas rutin. Saya ke Bandung dan Mas Trian ke field. 2 minggu lagi baru bisa berjumpa. Alhamdulillah untuk kesempatan menikmati indahnya melintasi selat, Alhamdulillah untuk kesempatan memijak bumi sumatera selatan, Alhamdulillah…

Get Adobe Flash player