Triandika Weblog Rotating Header Image

Daytrip: Sukabumi dengan KA Pangrango

Safa Peace

Niat untuk mencoba KA Pangrango Bogor-Sukabumi akhirnya kesampaian hari libur 25 Desember kemarin. Dua minggu sebelumnya adalah rencana awal, tapi karena kehabisan tiket kereta maka akhirnya pesan 7 hari sebelum hari-h melalui online ticketing. Dan ternyata benar, tiket Sukabumi di hari weekend/libur sebaiknya dibeli beberapa hari sebelumnya (bisa dipesan mulai 7 hari sebelum berangkat). Maklum, KA ini sekarang menjadi primadona baru masyarakat baik Sukabumi/Bogor ataupun wisatawan yang ingin mencoba kereta seperti kami. Kami memilih kereta paling pagi dari Bogor 7.35 dan kembali ke Bogor 15.20 dari Sukabumi.

Karena kami membeli tiket online, maka kami harus menukarkan print tiket online ke tiket asli di counter atau stasiun kereta yang online. Yang agak tidak mengenakan adalah prosedur penukaran harus dilakukan maksimum 1 jam sebelum keberangkatan. Saya telepon ke CS KAI, apakah SOP 1 jam itu artinya sistem nya tidak bisa input data lagi atau itu hanyalah prosedur pencegahan supaya penumpang tidak tergesa-gesa. Namun CS tidak bisa menjawab pertanyaan saya tersebut.

Logikanya, penumpang sudah bayar tiket jadi tidak ada alasan tidak bisa berangkat gara-gara tidak print tiket asli (ingat, KA belum seperti pesawat dengan sistem boarding). Lalu, ketentuan pembatalan perjalanan bisa dilakukan sampai 30 menit sebelum berangkat atau dianggap hangus. Terakhir, last minute pun orang masih bisa beli tiket secara manual artinya sistem masih buka. Jadi, SOP 1 jam harus print tiket asli tersebut hanya menyusahkan penumpang, contohnya jalur Bogor-Sukabumi ini.  Koq bisa?

Jadi karena 7.35 berangkat maka sesuai SOP jam 6.35 harus sudah print tiket. Nah.. KRL (Manggarai) ke Bogor sebelum jam segitu adalah KRL yang di Depok Baru (DPB) jam 5.33 sampai Bogor Jam 6.01, karena KRL berikutnya di DPB jam 6.19 sampai Bogor Jam 6.46. Jadi, saya adalah korban nya yang harus ambil KRL DPB Jam 5.33, dan ternyata banyak orang masih bisa print tiket sampai jam 7! Artinya, lain kali kalau mau mencoba rute ini, maka bisa ambil KRL DPB Jam 6.19, sehingga ada waktu santai untuk persiapan.

DPB 5.30

Oiya, KA Pangrango ini naik turun penumpang dari Stasiun Paledang Bogor, dari stasiun KRL jalan kaki ke selatan menyeberang jalan sekitar 300 meter/10 menit menyusur rel. KA Pangrango pertama berangkat dari Sukabumi jam 5.10 dan sampai Bogor jam 7.20, sedang terakhir dari Bogor jam 6.00, sangat cocok juga bagi orang Sukabumi yang ingin jalan2 1 hari di Bogor.

Stasiun Paledang ini menurut saya bukanlah stasiun, tapi halte kereta. Bagaimana disebut stasiun jika fasilitas dasar tempat duduk, toliet tidak ada. Menurut satpamnya, akan dilakukan pembenahan lagi ke depannya dan tidak mungkin menyatukan stasiun KRL dengan KA Sukabumi karena KRL sendiri sudah cukup crowded. Namun menurut saya, area terbatas dan lokasi yang mepet dengan rumah penduduk membuat St Paledang sulit dikembangkan menjadi stasiun yang layak. Sayang, padahal bisa lebih baik dengan mengembangkan stasiun KRL yang ada sehingga bisa cukup memperbaiki fasilitas 1 stasiun dan terintegrasi antara KRL dan KA Sukabumi.

St Paledang

Halte Paledang

KA Pangrango datang tepat waktu, saatnya menikmati kereta Ekonomi AC yang murah meriah (Rp 15 ribu sekali jalan).

Naek KA

Safa Tidur

KA Ekonomi AC

Waktu tempuh 2 jam 10 menit tidak begitu terasa, dan Safa pun cukup lelap tidur hehe.

View

View KA

Dan.. tiba di Sukabumi, disambut bangunan klasik stasiun yang masih gagah. Betul2 sayang kalau rute ini dulu sempat mati, dan akan lebih baik jika rute ini dilanjutkan kereta terusan ke Cianjur lalu Bandung.

We are here, Sukabumi

Safa LoL

Luar St Sukabumi

Dari stasiun, kami menuju Sela Bintana (SB), sebuah hotel***+resort yang juga dibuka untuk umum dan terdapat fasilitas umum yang cukup nyaman. Kenapa SB? Karena SB yang paling bisa dijangkau dengan rute day trip Sukabumi. Dari stasiun sekitar 30 menit, naik angkot pink kemudian ganti angkot merah sampai mentok. Sekali naik, angkot Sukabumi 3 ribu per dewasa jauh dekat.

Berikut ini beberapa fasilitas SB. Kawasan SB ini lumayan dingin, jadi cukup nyaman.

Harga tiket nya 5 ribu per orang, atau paket naik mobil hingga bus. Hati2.. sebaiknya anda meminta bukti karcis karena normalnya petugas tidak akan memberikannya (baca: dikorupsi). Bukan masalah ada plang jelas (jika tidak ada karcis, maka tidak diasuransikan), namun kesempatan korupsi harus dicegah :).

Tiket Sela Bintana

Peringatan Tiket

Kami menikmati SB dengan cara menyewa tikar (nyewa 10 ribu) sambil makan makanan kecil. Safa bermain busa sabun untuk membuat balon.Safa Balon Tiup

Tidak lupa.. foto keluarga. heheKeluarga

Setelah dhuhur, kami makan di warung yang banyak ada di sebelah kiri pintu gerbang SB. Jam 2, kami meluncur ke bawah menuju tujuan berikutnya, Pabrik Moci.

Warung Makan SB

Jika anda ingin ke pabrik Moci seperti kami, sebaiknya turun dari kawasan SB paling lambat jam 13.30, sehingga cukup waktu memilih-milih Moci dan mengejar angkot ke stasiun. Dan karena keterbatasan waktu tersebut, kami ‘gagal’ mendapatkan moci yang paling top di Sukabumi, Moci Lampion. Kawasan pabrik moci ini, adalah berupa jalanan masuk pemukiman yang katanya total ada 5 pabrik moci di dalamnya.

Dari SB ke Pabrik Moci (30 menit), naik angkot merah lagi kemudian pindah angkot kuning, jangan lupa bilang ke Pabrik Moci. Untuk ke stasiun, naik kuning lagi arah yang sama terus pindah ke angkot pink. Dari pabrik mocil ke stasiun sekitar 15 menit. Jangan lupa selalu sebutkan tujuan sehingga sopir angkot akan mudah berhenti dan mengoper ke angkot berikutnya.

Pabrik Moci

Moci Store

Safa Angkot

Sampai kembali ke stasiun Sukabumi. Oiya, jangan lupa saat print tiket pagi di Paledang sekalian untuk tiket pulang nya sehingga begitu di stasiun Sukabumi tidak tergesa-gesa. KA Pangrango dari Bogor tiba jam 15.15 dan kami pun siap untuk naik kembali.

Sudah menjadi skenario, untuk pulang kami naik eksekutif (Rp 35 ribu) sehingga lengkap pengalamannya. Hmm.. harga memang ga bohong, nyaman bukan? hehe. Dan Safa juga menikmati nya sebelum terleap tidur lagi.

Naik KA Eks

KA Nyaman

KA Eksekutif

Ada yang bilang toilet kereta jorok? Saya menilai sekarang jauh lebih baik dari dulu, yang ekonomi tidak kotor dan yang eksekutif cukup bersih.

Oiya, satu saran lagi perihal pemilihan kursi terutama jika pesan melalui online ticketing. Kursi KA Ekonomi saling berhadapan, misal kursi nomor 1 berhadapan dengan 2, no 3 dengan 4 dst. Tampilan online, 3 seri CDE 1 tempat duduk dan 2 seri AB 1 tempat duduk. Padahal realitanya, 3 seri ABC 1 tempat duduk, 2 seri DE 1 tempat duduk. Sedang untuk KA Eksekutif, urutan seri nya di gerbong ABDC (artinya A dan C di jendela), bukan ABCD seperti tampak online. Kedua hal susunan kursi ini harus diperbaiki oleh KAI di tampilan online nya.

Akhirnya Jam 17.35 kami sampai di Paledang, dan menyeberang jalan menuju stasiun KRL menuju Depok. KRL berangkat dari Bogor jam 18 dan kami sampai di rumah Jam 19, Alhamdulillah.

Menyeberang Jalan Bogor

Ternyata cukup banyak orang yang melakukan day trip, karena banyak bertemu orang yang sama dari pagi hingga sore. Orang-orang mulai menikmati ke  Sukabumi dengan KA, karena jika perjalanan darat konon bisa sampai 4-5 jam. Apalagi jika bersama anak-anak, maka rute Sukabumi ini jadi rute KA antar kota non KRL yang nyaman, plus cukup 1 hari saja. Jadi, selamat mencoba..

Tour Bromo+Malang: Batu Kota Menawan

Batu Secret Zoo

Setelah menikmati Bromo selama satu malam++, berikutnya adalah perjalanan ke Malang pada hari yang sama Selasa 13 Agustus.

Menuju Malang dari Tosari kami memutuskan melewati Nongko Jajar, tanpa perlu kembali ke Kota Pasuruan. Selain karena alasan jarak lebih dekat, juga ingin tahu kondisi jalan akses yang lain. Walaupun kata Sopir Jeep jalan yang rusak hanya 2 Km, aktualnya malah lebih. Jarak Tosari-Malang lewat Nongko Jajar ini juga sekitar 40 Km, bertemu dengan Jalur Malang-Surabaya sudah mendekati Malang. Cukup efisien, dimana Jam 4, kami sudah masuk Gerbang PTN Malang lewat Jalan Soekarno Hatta kemudian ke belakang kampusnya lewat Jl Veteran ke daerah kos-kosan untuk menurunkan barang.

Selanjutnya, kami langsung menuju ke Kota Batu dengan makan malam dulu di depan Universitas Muhammadiyah Malang. Karena belum ada hotel yang dipesan tetap, maka masuk kota Batu sambil telepon mencari-cari hotel yang pas: pusat kota, ada kolam renang, twin bed (kami dewasa 4, anak 2). Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Perdana di Jl Sudirman Batu, harga Rp 250 ribu/malam. Parkirnya luas, kamarnya walaupun model lama namun bersih dan luas, dan walaupun tidak ada kolam renang tapi ada prosotan anak (kesukaan Safa), plus dekat ke kota maupun ke pemandian Songgoriti, salah satu agenda kami di Batu.

Rabu 14 Agustus, jam 8 pagi kami sudah meluncur ke Jatim Park 2. Kami mengambil paket normal Jatim Park 2 hari libur Rp 90 ribu / orang (Batu Secret Zoo/BSZ + Museum), tidak neko-neko mengambil paket kombinasi Jatim Park 1 dll karena menurut info waktu 1 hari menikmati di Jatim Park 2 saja sudah cukup padat. BSZ baru buka pukul 9, namun sudah banyak pengunjung yang datang. Dan mulailah kami menikmati BSZ ini.

First impression, bersih. Kami bahkan berani beradu dengan harga 90 ribu (BSZ+Museum) sangat layak, apalagi jika hari biasa 65 rb. Sedangkan secara penataan, manajemen dan penataan, BSZ tidak kalah dengan pengalaman Singapore Zoo yang 2x harga tiketnya. Meskipun atraksi nya tidak sebanyak di Sing Zoo, namun arena permainan dan Museum buat kami menjadikan Jatim Park 2 layak di jadikan regional best value-for-money zoo!

Berikut beberapa snapshot jalan-jalan di Batu Secret Zoo.

DSC06174 DSC06202

DSC06238

Betul seperti perkiraan, bahwa waktu menikmati Jatim Park 2 dalam 1 hari penuh pun terasa kurang, bila kita ingin benar-benar bermain dan belajar di BSZ dan Museum. Kami sendiri ‘sedikit menyesal’ karena hanya menikmati Museum sebentar mulai Jam 5.30 sampai 18.00 karena ingin ‘puas’ menikmati BSZ, padahal di dalam Museum sangat banyak hal yang bisa diamati dan dipelajari. Saran kami jika ingin berkunjung ke Jatim Park 2, anda setidaknya sudah keluar BSZ menuju Museum Jam 16 supaya tidak ketinggalan pemutaran film dokumenter terakhir di ruang film (terakhir Jam 16.30 kalau tidak salah).

Apa saja yang ada di Museum tersebut? Sayangnya kamera kami habis baterai dan hanya bisa menggunakan kamera HP.  Ada patung tiruan binatang, binatang yang diawetkan, dan diaroma kehidupan binatang. Excellent!

Diaroma

Safa Diaroma

Museum Light

Kami benar-benar memaksimalkan kunjungan hingga Jam 18.00 pintu keluar Museum akan ditutup. Hari sudah cukup gelap, dan kami segera menuju ke Hotel Perdana sekitar 3 Km dari Jatim Park 2. Setelah makan malam di jalan menuju hotel, bersih-bersih di Hotel, lalu bersiap untuk perjalan keesokan hari sekaligus kembali ke Magetan.

Kamis 15 Agustus, agenda kami adalah alun-alun Batu dan Songgoriti sedemikian rupa sehingga sekitar Jam 14 kami bisa meluncur kembali ke Magetan. Jam 8 pagi check out dan kami langsung menuju ke alun-alun Batu.

Kesan kami, Luar Biasa! Ini adalah alun-alun terbaik yang pernah kami lihat seumur hidup di Indonesia. Taman yang rapi, bersih, rindang, ada air mancur permainan, area bermain anak dan Bianglala (operasi mulai Jam 9.30 tiket hanya Rp 2 ribu per orang sekali putar). Beberapa keluarga juga sedang menikmati alun-alun Batu tersebut. Sungguh jadi gambaran bagaimana fungsi ruang publik menjadi tempat rekreasi sehat bagi masyarakat. Anda pasti iri jika melihat alun-alun itu ternyata tidak ada di kota tempat tinggal anda.

DSC06286

DSC06306

DSC06321

Naik Bianglala

Setelah naik Bianglala, kami segera menuju ke kawasan pemandian Songgoriti, berjarak sekitar 2.5 Km dari Alun-alun Batu. Kawasan Songgoriti ini adalah kawasan kolam renang dan juga pemandian air panas alami. Ada 2 komplek kolam renang dimana salah satu nya mini water park, kemudian ada 1 komplek khusus pemandian air panas. Jika ada baru sekali kesini, maka sebaiknya anda bertanya karena ketiga kolam renang tersebut tiketnya berbeda-beda. Karena kami tidak tahu pada awalnya, kami masuk ke mini water park (tiket 15 rb). Jika ke kolam renang biasa Rp 10 rb, dan pemandian air panas berdurasi per jam. Oiya, air kolam renang biasa nya dingin…brrrrrr. hehe

Oiya, sebelum berenang, sebaiknya anda memuaskan diri untuk berbelanja oleh-oleh khas Malang di Pasar Wisata Songgoriti. Aneka macam makanan, pakaian dan barang tersedia disana. Kenapa belanja dulu? Karena lebih enak jika belanja dulu, berenang baru makan siang daripada urutan yang lain hehe.

DSC06329

DSC06335

DSC06347

Jadi nya kami makan siang agak terlambat sekitar jam 13.30, namun sudah bersih dan tinggal pergi. Jam 14.30, kami meninggalkan kawasan Songgoriti untuk kembali ke Magetan melalui jalur Pujon-Kediri-Nganjuk-Madiun. Tidak lupa 2 jam kemudian kami mampir di Kediri untuk membeli Tahu Po khas Kediri dan bumbu petisnya. Jam 20 kami sudah sampai di Magetan dengan selamat, total sekitar 600 km perjalanan, Alhamdulillah.

Perjalanan Bromo + Malang ini sangat berkesan berbeda dengan tour-tour berkendara kami yang lain. Bromo yang eksotis dan Batu kota wisata yang nyaman. Kami bahkan sempat mengungkap keinginan Batu harus menjadi kunjungan wajib di masa mendatang. Mudah-mudahan bukan sekedar keinginan sesaat, karena hal yang sama pernah kami janjikan untuk perjalanan Dieng yang ternyata belum terjadi hingga hari ini hehe.

Jika anda hobi jalan-jalan bersama keluarga, maka rute Bromo + Batu ini harus anda coba, minimal sekali seumur hidup! :)

[ Part 2 of 2 ]

Tour Bromo+Malang: Dari Tosari menikmati Bromo

Setelah di atas Kawah

Lebaran lalu, kami menjadwalkan untuk melakukan jalan-jalan ke Bromo & Malang setelah mudik Magetan. Salah satu alasan sekalian mengantar boyongan keponakan yang masuk PTN di Malang. Itinerary disusun dan diputuskan ke Bromo melalui Pasuruan sekaligus mampir ke rumah seorang teman disana. Kami berenam kepala dengan dewasa 4 orang (Ayah+Bunda, Ibu, keponakan), 1 anak 9 tahun, dan Safa!

Berangkat dari Magetan Jam 7 pagi hari Senin 12 Agustus, kami sempat terjebak sedikit macet di Saradan dan lebih parah macet di kota Nganjuk. Akhirnya kami melewati jalan alternatif ke kiri, menyusur Sungai Brantas (terbesar di Jatim), dan tembus langsung ke Mojokerto, tanpa harus ke masuk kota Jombang yang mungkin macet (juga). Makan siang bekal di dekat stadion Mojosari (Kab Mojokerto), lalu sampai di Pasuruan Jam 14.30. Ramai lebaran masih terasa jarak sekitar 200 Km Maospati-Pasuruan harus ditempuh berkendara +/- 6 Jam.

Makan siang

Dari Kota Pasuruan kami menuju Tosari, desa wisata pintu masuk ke kawasan Wisata Bromo. Selain Tosari, ada 2 pintu masuk utama lain menuju Bromo, yaitu dari Ngadisari Probolinggo dan Kab Malang. Jika mengunjungi Bromo, pastikan anda masuk dan pesan hotel di tempat yang sama. Jarak Tosari Pasuruan ke Ngadisari Probolinggo sekitar 80 Km, kerasa kalau salah masuk (hehe). Kami memilih Tosari karena dari Geografis lebih dekat dari Magetan dibanding Probolinggo, dan bisa sekalian manpir ke teman (kemudian menurut Sopir Jeep, Tosari juga relatif lebih murah dan secara rute wisata lebih dekat – Dari Probolinggo harus lewat Kawah Bromo untuk menuju Pananjakan). Kota Pasuruan ke Tosari 40 Km, jalan beraspal nyaman, berkelok dan nanjak sehingga mepet jika papasan, maka harus berhati-hati dan sedia klakson sebelum belokan.

Tepat jam 17.30 kami sudah ketemu dengan Pak Puji (petugas di Bromo sekaligus ‘agen’ untuk penginapan dan Jeep, HP 081233193114) di pintu gerbang “Selamat Datang” Bromo. Selain Pak Puji, kemudian kami juga mendapat CP kedua yaitu Pak Karno (HP 085815576997). 2 Hari sebelumnya Ayah sudah ber-sms-an dengan Pak Puji untuk deal info Mobil dan Penginapan. Begitu sampai Pasuruan konfirmasi dan langsung cek on the site sesampai di Tosari.

Untuk menuju Desa Tosari tidak harus masuk gerbang, tapi ke kanan nanjak sekitar 500 meter ketemu Pasar. Tepat sebelum maghrib, kami sudah sampai penginapan disambut dinginnya udara. Makan malam, cukup mudah dengan membeli di pasar. Penginapan kami depan Mushola, sekitar 300 meter menanjak dari Pasar.

Cek kamar, deal harga Rp 350/malam (air panas, twin bed) untuk berenak kepala tadi (plus bawa karpet sendiri buat di tengah2 twin bed). Disini konsepnya ‘rumah kosong’ dengan kamar-kamar disewakan dengan beberapa tipe. Ada ruang tamu dan tv, dan juga dapur bersama. Masak air panas untuk Pop Mie, Teh dan menghangatkan makanan jadi mudah.

Kemudian konfirmasi paket perjalanan bromo ke Pak Puji. Intinya ada 2 paket, seharian dan setengah hari. Kami memilih paket sehari yakni 4 lokasi (Pananjakan, Pasir Berbisik, Bukit Teletubbies dan Kawah Bromo) dengan menyewa Jeep seharga Rp 650 Rb. Harga ini sudah standar karena ada koperasi nya, dan biasanya sudah termasuk fee untuk semacam Pak Puji tersebut (diberikan voucher asli Rp 600 rb). Selain Jeep, biaya masuk harus bayar kembali per orang dewasa Rp 10 rb. Kami akan dijemput di penginapan jam 2.30 dini hari sehingga bisa sampai di Pananjakan Jam 4. Tour akan berakhir sekitar Jam 12.

Jreng…jreng.. jam 2 pagi Selasa 13 Agustus kami sudah bangun dan siap-siap, dan berangkat setengah jam kemudian. Beginilah beberapa penampakan kami dan Safa dini hari itu, sampai menunggu Sunrise di Pananjakan.

Dalam Jeep

Dingin Pananjakan

Jika Jeep telat datang, maka jalan akan semakin jauh dari pintu masuk Pananjakan karena semua Jeep parkir di pinggir jalan. Kami sendiri harus jalan sekitar 500 meter menuju Gerbang Pananjakan. Banyak yang menawari ojek 10rb, tapi buat kami jalan pagi2 lebih sehat (alasan ngirit hehe).

Dan, the show is coming.. Sunrise mulai terlihat menyinari area Bromo. Eksotis. Pantes saja banyak orang2 luar yang ikut berjubel2 mengabadikan momen tersebut dari sini. Mungkin karena mash musim lebaran, hari Selasa pagi itu memang cukup ramai, mencari celah foto harus antri atau ‘booking ‘ dari awal datang. Bahkan tempat duduk juga penuh. Jangan lupa sebaiknya untuk sholat dulu secepatnya waktu shubuh tiba di semacam bale-bale dekat Toilet, karena takut terlupa karena ‘sayang’ pemandangan dan berjubel tadi.

3 in 1

Gerbang Pananjakan

Dari Pananjakan, langsung turun menuju tujuan kawasan Bromo, yakni Kawah, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies. Waktu sekitar Jam 7 ketika kami turun dari Pananjakan. Lalu, kami menjadikan kawah sebagai tujuan terakhir sebelum pulang, meskipun untuk menuju Pasir dan Bukit harus lewat Kawah dulu. Pasir berbisik (bersisik) merupakan hamparan pasir yang seperti membentuk sisik-sisik, dan ada material khusus yang membuatnya berpendar.

Pasir Berbisik

Berikutnya, adalah di bukit Teletubbies. Sayangnya, manajemen baterai kamera kami jelek sehingga mulai dari sini kami harus menghemat dan terpaksa mengkombinasikan dengan kamera HP.

Keluarga

Action on Bushes

Oiya, untuk makan kami sendiri ‘sarapan kecil’ beli roti di area Pananjakan. Sedangkan sarapan besarnya jam 10 di warung dekat Kawah Bromo. Warungnya juga cukup eksotis. Anda harus menutup diri dengan baik, karena di sekelilingnya banyak bertebaran debu-debu. Walaupun sempat was-was, kami tetap saja makan dan habis (lapar hehe).

Warung Kawah

Berikutnya adalah lokasi terakhir, Kawah Bromo. Disinilah benar2 emosi diuji. Anda ingat Cerpen “Becak”, dimana nego seorang anak muda dengan tukang becak dengan hasil anak muda akhirnya jalan dari stasiun sampai rumahnya. Nah.. disini ayah yang mencoba nego tidak mulai dari turun Jeep (jarak parkir ke puncak kawah +/- 1.5 Km, berpasir lalu berkelok nanjak dan tangga), tapi ingin setelah candi supaya lebih murah, akhirnya harus mengendong Safa 14 Kg kemudian naik tangga sampai puncak kawah Bromo. Pfuh…

(masih) Jalan bersama

Saat Naik Saat Turun

Baru pulangnya dari kawah, setelah turun tangga Safa + keponakan naik Kuda ke batas parkir Jeep seharga Rp 50 rb. Walaupun kalau dihitung2, pas tawaran bolak-balik tadi sama saja (100 rb), tapi biar ga sakit hati lumayan ada ‘hemat’ Rp 50 rb (hehe).

Naik Kuda

Pulang ke Penginapan

Lalu kami kembali ke penginapan, beres-beres, check out dan Jam 2 melanjutkan perjalanan ke Malang. Kesan dari kunjungan Bromo kali ini, Jika anda orang Indonesia dan ngaku hobi jalan2, maka anda harus pernah ke Bromo, minimal sekali dalam seumur hidup! :).

[ Part 1 of 2 ]

Weekend: Gunung Pancar & Sentul Paradise Park

Gara-gara ada liputan di National Geografic Traveller edisi Bulan Mei 2013 tentang aktivitas weekend sekitar Jakarta yakni di air panas Gunung Pancar dan Sentul Paradise Park, maka minggu lalu kami mencoba kesana. Kalau mengikuti petunjuk arah dari NetGeo tersebut, sungguh sangat tidak membantu karena kurang jelas. Untung kami bisa memanfaatkan GPS, namun hanya air panas Gunung Pancar Sentul yang bisa muncul, sedangkan air terjun bidadari tidak belum ada.

Jam 8 berangkat dari rumah dengan rute jalan baru pemda Cibinong kemudian naik tol sekali karena keluar Sentul selatan (Sentul City). Namun petunjuk GPS ternyata lebih memilih tidak naik tol (lumayan ngirit hehe). Namun ternyata jalannya 20% kecil, 30% aspal bolong2 dan 10% batu-batu. Ternyata jalan menuju air panas Gunung Pancar melintasi gerbang Jungleland, Sentul City (jangan masuk gerbang, lewat ke kanan sampai +/- 3 Km).  Yang awalnya menyesal (kenapa ga lewat sentul) jadi baik-baik aja, karena jalan utama dari sentul city ke Jungleland ternyata belum ada di GPS.

Jam 10 kami sampai di Kawasan Wana Wisata Gunung Pancar yang dikelola oleh PT . Bayar tanpa tiket Rp 10rb dengan total 3 dewasa+1 anak + mobil (seharusnya sesuai tarif tertera Rp 8rb niih). Di wana wisata ini adalah lokasi track downhill yang sangat terkenal, karena juga menjadi venue Sea Games tahun 2012 lalu. Cukup adem suasana hutan dan banyak yang hanya leyeh-leyeh atau makan di pinggir jalan menikmati suasana hutan sesekali ada sepeda downhill terlihat.

Langsung menuju gerbang air panas, bayar lagi Rp 25rb (kali ini ada tiket). Begitu sampai, penilaian pun jatuh. Secara NatGeo sampai meliput, ternyata jauh lebih buruk dari Guci atau Baturaden. Bahkan dengan air panas di Serpong yang sempat kami kunjungi tahun lalu, Gn Pancar ini tidak lebih baik. Dari sisi fasilitas permainan anak, di Serpong jauh lebih banyak. Praktis di Gn Pancar hanya ada 2 kolam umum air panas (laki2 dan perempuan) serta kamar2 berendam yang disewakan Rp 15rb per 30 menit.

Berikut ini beberapa foto2nya. Sayang juga sudah bayar Rp 35rb tapi ga nyoba berendam hehe.

DSC05716

DSC05721

Karena kurang nyaman dengan area yang tidak luas dan masih menunjukan jam 11.30, maka agenda makan siang digeser ke tujuan berikutnya yang juga diliput NatGeo, Sentul Paradise Park. Tanya-tanya satpam di Gn Pancar, lokasi Air Terjun Bidadari tersebut mengambil arah ke desa Bojongkoneng (desa ini bisa dilihat di GPS, salah satu yang kelihatan SDN 2 atau 3), dari Sentul City ambil pertigaan Pos Aju Koramil. Kalau anda dari Jakarta, itu sebelum Masjid. Karena kami dari Jungleland, maka setelah Masjid Sentul City.

Jam 12.30 sudah masuk Gerbang Sentul Paradise Park (SPP), harga tiket 25rb per orang dewasa dan Rp 10rb mobil. Jalan masuk ke SPP ini cukup jauh dari jalan utama aspal, sekitar 1 Km ke gerbang dan 1 Km dari Gerbang ke lokasi wisata, dan kondisi jalan batu-batu. Bagi mobil yang kurang sehat dan cukup tua (serta kurang skill :D), tidak disarankan ke sini karena terjalnya tanjakan dengan jalan batu2 lepas yang membuat gigitan ban kurang kuat. Bisa dilihat, kondisi jalan dari gerbang seperti di bawah.

Sebaiknya jangan mengambil lahan parkir yang diatas, alias terus saja kalau ada tulisan parkir karena ada tempat parkir di bawah juga. Namun, view dari parkir atas itu sangat bagus, langsung bisa melihat semua obyek dalam satu waktu (plus untuk foto2 pribadi oke hehe).

DSC05727

View dari parkir atas

DSC05738x

View dari parkir bawah (panoramic)

Jadi cukup lumayan wisata air terjun dan pemandian ini. Lumayan mengobati kekecewaaan akibat air panas sebelumnya, pangsa pasarnya pun banyak mobil > 200 jt yang datang kesana. Sayangnya fasilitas ganti baju sedikit, dan bale-bale untuk duduk2 atau makan harus bayar Rp 30rb/2 jam. Akhirnya kami pun makan siang di mobil dengan menurunkan jok belakang + tengah, lumayan hehe. DSC05734 - x

Setelah makan siang dan tidak terlalu terik, kami baru turun ke bawah untuk menikmati air mancur, air terjun dan kolam nya.

DSC05766DSC05760

DSC05749

Jam 3, kami keluar dari area SPP Dan benar, beberapa kendaraan cukup kesulitan naik menuju jalan aspal. Lewat Sentul City, masuk tol sentul selatan, keluar sentul utara (sirkuit sentul), langsung menuju jalan pemda cibinong dan lewat GDC. Jam 4, kami sudah sampai di rumah.

Bagaimana dengan jarak? Dari rumah ke Gn Pancar (via jalur non-tol) sekitar 45 Km. Lalu Gn Pancar-SPP sekitar 15 Km. Pulang SPP- rumah lewat tol juga sekitar 45 Km. Cukup dekat dan mudah terjangkau. Selain itu dari sisi harga dan obyek yang ditawarkan, value for money cukup bagus. Kecuali air panas Gn Pancar,  walaupun masih bisa diterima, dengan bersepeda atau lebih menikmati suasana hutan yang sejuk. Dan efektifnya anda bisa mengunjungi kedua obyek ini dalam satu hari.

Beach Tour: Tanjung Lesung & Carita Anyer

Memang perjalanan tour kali ini tidaklah sepanjang mountain tour akhir 2010 lalu, namun sebenarnya beach tour ini melengkapi koleksi pantai selatan jawa barat yang sudah kami jelajahi (tapi belum tidak semua ditulis di blog hehe), yakni Pelabuhan Ratu 2011, Pangandaran 2009 dan 2012. Beach Tour ini kami lakukan di sebuah long weekend bulan Maret 2013.

Anyer sendiri pernah kami kunjungi tahun 2009 sebelum Safa lahir saat ada acara kantor. Oleh karenanya, Carita yang lebih timur akan menjadi tempat menginap karena Tanjung Lesung sangat ‘tidak masuk budget’ karena lebih berbentuk resort. Namun, rute perjalanannya, kami  akan mengunjungi Tanjung Lesung dan sekitarnya, dan menjelang makan siang akan menuju Carita.

Berangkat jam 5.30 pagi, kami langsung meluncur menuju Tanjung Lesung dengan mengambil jalur Pandeglang. Keluar Tol Serang Timur, jam masih Jam 7. Secara jarak, Depok-Tanjung Lesung via Pandeglang sekitar 210 Km seperti yang ditunjukan Google Map dibawah.

Depok-Tjg Lesung

Jalur Serang-Pandeglang-Tanjung Lesung secara umum cukup baik, hanya beberapa spot terutama antara Pandeglang-Tanjung Lesung di area pegununganyang jalannya berlubang. Jika menyukai Durian, maka setelah keluar kota serang ada beberapa Depot Durian Jatuhan yang bisa menjadi pilihan. Karena kami mengejar waktu jam 9 sampai Tanjung Lesung supaya pantai tidak terlalu panas (plus konon durian disitu > 75 ribu :D), maka menjadi catatan saja untuk trip berikutnya.

Jam 9 kami sampai di lokasi komplek Resort Tanjung Lesung. Ada gerbang yang dijaga satpam dan baru dibuka jam 7 pagi untuk pengunjung dari luar yang akan diberikan Guest Pass. Di dalam komplek resort jalan sangat mulus dan sudah siap dikembangkan menjadi 2 lajur di masa depan. Masih ada cukup banyak sawah di komplek tersebut. Konon di area komplek ini nantinya akan dibangun bandara kecil seperti bandara di Pangandaran. Belakangan diketahui bahwa pengelola komplek tersebut sama dengan pengelola kawasan industri Jababeka di Cikarang, Bekasi.

Komplek? Ya..Tanjung Lesung adalah komplek tertutup yang terdiri atas beberapa hotel berlokasi di bibir pantai. Pengunjung non-tamu hotel memang masih mungkin menikmati pantai non-hotel, namun pantai di hotel tentu lebih bersih dan menarik. Sedangkan pantai di luar komplek ada sebelum masuk ke komplek tersebut.

Kami langsung menuju ke paling ujung  jalan dari komplek menuju ke Pantai Badur. Dengan membayar Rp 20 ribu (1 mobil) dan Rp 5 rb/orang (bonus teh botol, jadi net nya Rp 3rb lah ya) yang tampak bukan dari pengelola Tanjung Lesung, tapi semacam ‘Karang Taruna’ desa. Tapi cukup ramah, dan terkesan tidak memalak karena ada karcisnya. Buat satpam gerbang Tanjung Lesung sendiri, sebenarnya tidak ada biaya masuk namun seringkali ada yang meminta dengan dalih sukarela (tanpa kercis).

Apa yang ada di Pantai Bodur? Berikut snapshots nya.

DSC05056

Untung kami tidak disini sekitar jam 9.30, jadi belum terlalu panas, sepi dan cocok untuk foto-foto. Konon kalau sore lebih ramai, banyak yang berenang di lokasi ini. In overall, pantainya memang bukan 100% pasir putih karena ada bagian2 batunya, namun cukup eksotis apalagi bila ketemu beberapa spot seperti bangku yang tampak yang menarik seperti di bawah (bayangkan dengan sudut yang tepat, di bangku tersebut ada orang yang memandang pantai, atau pasangan yang duduk saling memandang hehe).

DSC05052

Berikutnya, kami menuju ke Beach Club, dimana pengunjung yang tidak tinggal di hotel harus membayar Rp 75 rb/mobil untuk bisa masuk (sudah jauh-jauh kesini, kami masuk juga lah). Apa yang ada di beach club ada fasilitas beach sports macam boat, banana, snorkling dll dan juga tenda untuk bermalam, serta sebuah dermaga. Secara umum di beach club ini mahal-mahal biaya sewa alat olahraganya, pun dari awal kami hanya ingin membunuh rasa ingin tahu dan (pastinya) foto-foto. Kalau mau lebih murah dan optimal, bawa alat renang sendiri karena pantai disini lebih nyaman berenang dibanding di Badur tadi. Fasilitas mandi, mushola dll juga jauh lebih bagus (baca: ada harga ada rupa).

DSC05103

DSC05105-e

DSC05127

Setelah Dhuhur, kami langsung menuju ke kawasan Pantai Carita Labuan sekitar 50 Km dari Tanjung Lesung. Sambil jalan sembari browsing Kuliner di Labuan dan pilihan jatuh ke RM. Ibu Entin. Lokasi sekitar 1 Km dari pertigaan dari Labuan ke Lanjung Lesung atau Carita. Luar biasa mantap dan relatif lebih murah dibanding di Jakarta. Menu yang terkenal dari Ibu Entin ini adalah Otak-otak (Rp 1500 per bungkus) dan udangnya. Mantap lah pokoknya..hehe.

DSC05138

Sekitar jam 2.30 kami sampai di kawasan pantai Carita. Ayah safa sudah pernah menginap disini tahun 2006 (baru sidang ada proyek survei) dan waktu itu gagal menginap di pinggir pantai karena budget tidak memungkinkan hehe. Kali ini berusaha mencari lokasi cottage tersebut dan ketemu, Desiana Cottage. Here it goes..

DSC05219DSC05151

DSC05226

Dengan beberapa tipe room dan cottages (range harga Rp 250 rb – Rp 1.6 jt), harga yang ditawarkan masih sangat logis mengingat lokasi dan fasilitas prime nya di pinggir pantai. Langsung kami nyebur pantai sore hari itu, dan pagi hari keesokan harinya. Untuk makan malam, seafood di pasar ikan Carita cukup enak walaupun parkir nya terbatas (bahu jalan) dan nunggu antrian masakan cukup lama.  Banyak mobil parkir di pasar ini karena disini banyak orang membeli ikan dan makan seafood.

DSC05160DSC05206

Sudah merupakan tradisi baru bahwa setiap ke Pantai kami mencari TPI alias Tempat Pelelangan Ikan. Sengaja dari rumah membawa box ikan, maka pagi hari kami menuju TPI di Labuan, sekitar 10 Km dari Carita. Memang ada tempat jual ikan di dekat Carita, namun di TPI atau pasar ikan ada sesuatu yang berbeda (harga di TPI lebih murah dibanding di pasar ikan carita). Dan uniknya, pasar ikan yang lebih besar ternyata harus menyeberangi sungai supaya cepat daripada berkendara menuju kesana. Agak unsafe juga sebenarnya naik perahu seperti foto-foto di bawah, tapi kami enjoy saja sambil menertawkan anak-anak nelayan mandi hehe.

wow.. hati-hati.

wow.. hati-hati.

No comment :p

No comment :p

Foto sendiri

Foto sendiri

Minta tambah hehe

Minta tambah hehe

Setelah main di pantai lagi, kami segera berkemas pulang. Tepat jam 12 check out dan lengsung menyusuri ke barat menuju Anyer, terus sampai Cilegon. Sebenarnya awalnya kami berencana mengoptimlkan waktu dengan mampir makan siang di Pantai Anyer atau sebelumnya di sepanjang pesisir Carita ke Anyer, namun karena Safa tidur dan kami sendiri sudah pernah ke Anyer, maka kami batalkan rencana tersebut.

Jadilah makan siang di Cilegon dan kami ingin variasi tidak makan seafood dan turunannya. Dengan metode browsing seperti sebelumhya, pilihan jatuh di Sate H Asmawi di dalam Kota Cilegon kiri jalan jalur Cilegon ke Serang. lumayan mantap juga sate dan sop disini hehe.

DSC05231

Setelahnya, kami langsung meluncur ke Depok dengan istirahat sholat di Tol Merak – Jakarta (ngantuk, pagi renang di pantai terus makan sate). Alhamdulillah..tepat maghrib kami sudah sampai di rumah.

Untuk rute, sengaja kami menggunakan rute yang berbeda untuk membandingkan antara kedua rute tersebut. Seperti dikatakan diatas, Depok-Pandeglang-Tanjung Lesung sekitar 210 Km dan Tanjung Lesung-Carita sekitar 50 Km. Sedangkan Carita-Cilegon-Depok sekitar 180 Km. Jadi, rute Cilegon memang lebih jauh namun menjanjikan jalan lebih mulus dan pemandangan pinggir pantai sepanjang Carita – Anyer. Namun, resiko tersendat di jam2 tertentu karena truk2 industri di Cilegon.

Dan menurut kami, jika akan pergi ke Tanjung Lesung (atau Pulang Umang atau Peucang, Ujung Kulon), Carita dan bahkan Anyer, anda harus menggunakan dua rute tersebut (lewat Serang-Pandeglang dan Anyer-Cilegon), karena ada spot-spot yang bisa dinikmati di kedua rute tersebut seperti diatas. Anda juga bisa melakukan semua diatas di weekend biasa dengan budget terukur untuk menikmati pantai bersih yang bisa dijangkau mudah dari Jakarta.

Get Adobe Flash player