Triandika Weblog Rotating Header Image

Family Trip: Malaysia

Semoga bukan cerita yang (super) telat 🙂

Akhir Juli tahun 2011 lalu, kami sekeluarga berkesempatan jalan ke Malaysia. Dengan tujuan utama perjalanan dinas kantor, tidak ada salahnya sekalian memboyong keluarga untuk jalan-jalan. Maka jadilah Malaysia adalah Family Trip ke luar Indonesia yang pertama, ada alasan Safa buat paspor (usia 1.5 tahun saat itu).

Itinerary sudah dibuat untuk total selama 9 hari disana, berangkat Sabtu pagi dan pulang Minggu siang. Hotel sudah dibooking, terutama untuk dua tujuan utama yakni 1 malam Kuala Lumpur dan 2 malam Penang (hanya 1 malam di KL karena 4 malam selanjutnya termasuk biaya dinas 🙂 ). Budget plan sudah disusun, termasuk tiket Garuda promo (1 adult + 1 infant).

Sabtu pagi jam 5, Safa sudah dibangunkan (biasanya bangun jam 6 hehe) dan Ayah-Bunda nya sudah sarapan. Jam 5.30 taksi sudah datang untuk pesawat Jam 8.30. Sayangnya, sabtu itu lancar sekali sehingga jam 6.15 kami sudah sampai di Terminal 2E.  Check in + imigrasi, jam 7 kurang kami sudah santai di lounge sambil pastinya Safa sarapan. Jam 7.30 langsung persiapan boarding, dan sesuai jadwal pesawat take off.

Sekalipun ini bukan penerbangan pertama buat Safa (setelah Jogja tepat tahun lalu), tapi tetap saja ada was-was jika Safa nangis di pesawat. Saat take off, Kapas penutup telinga sudah disiapkan dan Safa dalam posisi ASI. Alhamdulillah, Safa tidur tidak lama setelah take off  dan baru bangun saat landing di KLIA.

Sepi. Itulah kesan pertama keluar pesawat menuju KLIA. Memang lebih bersih dan modern fasilitasnya dibanding Soetta, tapi secara pasar penerbangan Indonesia jauh lebih potensial (sepulang perjalanan, kami tahu bahwa maskapai nasional MAS sedang dalam kesulitan dan karyawannya menolak merger dengan Air Asia). Perjalanan dilanjutkan ke Kuala Lumpur menuju Hotel Sahara di Chow Kit.

DSC01528

Mengapa menilih Hotel Sahara, karena dari internet terlihat bahwa hotel tersebut yang harga murah dengan fasilitas oke, dan yang paling penting sangat dekat dengan monorail (persis di bawah tangga station monorail Chow Kit). Dan pilihan yang awalnya penyesalan, langsung berubah menjadi syukur setelah melihat langsung hotel dan apa saja yang ada di Chow Kit (laundry indonesia, tempat makan masakan indonesia, bank2 besar indonesia, hipermarket dll). Value for money..overall score 8 of 10!

Dari chow kit menuju ke pusat Kuala Lumpur (KLCC, Bukit Bintang) juga bukan hal yang sulit. Monorel dan kombinasi adalah pilihan yang cepat tapi mahal, sedangkan bus lebih murah tapi lebih lama. Namun lama disini tidak seperti kondisi traffic di Jakarta, karena secara umum banyak jalan layang di KL yang jalur melingkarnya melintas antar gedung-gedung dengan tetap memperhatikan tata kota. Sebuah terobosan inovatif yang harus ditiru, di tengah sulitnya mencari lahan untuk lahan di kota besar yang padat.

Karena perjalanan ke KL (aslinya) merupakan perjalanan dinas, maka Hotel Sahara menjadi pilihan 1 malam saja. Selanjutnya selama 4 malam menginap di Hotel JWM kawasan Bukit Bintang. Namun pada hari minggu setelah pagi check out, barang diantarkan ke Hotel JWM, tapi target hari ini adalah ke Genting Highland. Sayangnya..karena kami tidak booking, maka hari minggu jam 10 Bus berangkat dari KL Sentral-Genting sudah penuh bahkan sampai jam 12 siang. Sayangnya lagi..karena kami tidak tahu, kami menunggu saja untuk bus Jam 12 tersebut, padahal sebenarnya ke Genting bisa berangkat dari titip point manapun (misal Pudu, Gombak dsb).

Setelah tiba di Terminal Genting sekitar jam 1 (1 jam dari KL Sentral), kami langsung pesan tiket return ke loket, namun yang tersedia ke Gombak di Jam 4 sore. Tidak ada pilihan, daripada terlalu malam maka kami ambil opsi tersebut. Sehingga praktis 3 jam di Genting termasuk menaiki Skyway (Kereta Gantung) dari terminal ke Genting. Antrinya lumayan lama karena hari minggu, Jam 1.30 baru kami naik menuju Genting. Kurang lebih 20″, maka sampailah di kawasan Genting. Dengan waktu bersih hanya 1.5 jam, maka foto2 menjadi pilihannya. Yang penting ada bukti ke Genting, bener kan? 🙂

DSC01617

Dari Genting ke Gombak hanya butuh waktu 30 menit, dari sana lanjut LRT dan monorel ke Bukit Bintang.

Kemudian Selama 3 hari (Senin-Selasa) tersebut, praktis Bunda + Safa jalan2 sendiri diantaranya naik bus Hop on Hop off, mall sekitar bukit bintang dan sorenya jalan2 bersama ke Petaling Street (Pecinan) atau Sungai Wang Mal. Bunda + Safa hari Rabu ‘berkorban’ mengantri tiket untuk naik ke Twin Tower untuk Hari Kamis pagi, sebelum Kamis siang kami berangkat ke Penang. Tiket Bus ke Penang sendiri dibeli di Terminal Pudu Selasa sore. Sekalian survei untuk penitipan tas.

DSC01834

Kamis siang Jam 13.30 berangkat ke Penang dari Pudu. 1 Tas besar sudah dipisahkan untuk dititipkan di Locker Terminal Pudu, total 3 hari dikenakan 6 MYR (Rp 17 ribu, cukup murah bukan?). Karena sekembali dari Penang nanti sisa 1 malam lagi (Sabtu malam) dan berangkat ke KLIA bisa dari Pudu, maka hotel di kawasan Pudu menjadi pilihan. Plus dari Pudu ke Petaling Street ternyata sangat dekat, malam terakhir pun kami agendakan belanja (lagi) :).

KL-Penang sekitar 5 jam, tanpa macet dengan jalur tol sepanjang jalan lalu jembatan menuju Pulau Penang. Walaupun sebagian besar jalan tol hanya dengan 2 lajur, ternyata tidak ada kepadatan berarti disana, dibandingkan 2 lajur dari Tol Cikampek-Padalarang. Terminal Penang dari KL atau kota besar lain tidak di dalam kota (terminal kotanya Komtar), sehingga butuh waktu 1 jam untuk sampai ke kota, lalu menuju sedikit pinggirannya Hotel Naza Talyya Seaview Beach Hotel.

Sesuai namanya, hotelnya tepat di pantai dan tidak jauh dari jalan utama Rapid Penang + food center. Untuk harga yang relatif sama, hotel di relatif KL lebih bersih, walaupun plusnya ada kolam renang di sisi hotel ke pantai dan sarapan. Not bad..!

DSC01985

Hari Jum’at..agenda jalan2 di seputar Penang. Jalan2 di sekitar masjid raya, Capel, Port, lalu diakhiri di Benteng Fort Cornwallis dan sekitarnya. Ada bus tourism di Penang yang gratis, muter2 Penang sampai kembali ke titik awal melewati semua rute-rute tourism dengan sistem hop on hop off. Lumayan jika di KL harus bayar, di Penang gratis. Tidak lupa sebelum ke hotel, beli tiket bus kembali ke KL untuk Sabtu siang dengan pemberangkatan dari Komtar.

DSC01911

Sabtu pagi setelah sarapan check out, langsung menuju Komtar untuk menitipkan barang. Komtar dekat dengan pasar, maka lihat-lihat barang adalah opsi terbaik (hehe). Ternyata bus berangkat dari terminal kedatangan awal, tapi dari Komtar penumpang diantarkan oleh shuttle van. Jam 1.30, bus menuju KL dan sampai Pudu jam 6 sore. Setelah mandi dan beres2, maka agenda malam terakhir siap dilaksanakan.

Setelah cukup di Petaling Street dan makan, kami memutuskan untuk pergi ke Twin Tower sekitar jam 21. Tidak salah rupanya, karena malam itu adalah malam minggu dan jam 22.30 saat kami pulang pun masih sangat ramai. Beberapa potret malam didapat, walaupun dengan teknik kamera seadanya hehe.

DSC02007

Minggu Jam 12.50 Flight KLA-CGK, maka setelah sarapan dan check out langsung menuju ke KLIA. Sampai di KLIA jam 10.30, Safa masih sempat main2 di kids-corner sampai puas. Jam 15 mendarat, dan sampai depok kembali jam 17.

Perjalanan yang cukup padat dan cukup hemat, karena mengkombinasikan antara perjalanan dinas dan wisata. Buat Safa, sejak dari KL setiap melihat dua menara kembar selalu bilang “kaya Petronas ya..”, “Safa foto pakai jaket merah..”, “Safa pernah naik kesana..”, “Ayah yang ini (sisi 1), Bunda yang ini (sisi 2), Safa yang tengah..”

DSC01556

 

Note: Itinerary & Cost Family Trip Malaysia, silahkan lihat disini.

@triandika

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Adobe Flash player