

Semoga ilmu nya berkah, Bunda.. Amin. ![]()
-Ayah&Dede-
Trian dan Dika Weblog

Gambar diatas adalah MCB (Main Circuit Breaker) yang terpasang di rumah. Background saya bukan Elektro, namun secara umum prinsipnya MCB membagi beban listrik ke blok-blok instalasi dalam rumah tersebut, semacam beberapa pintu untuk masuk rumah. MCB dipasang setelah meter utama (PLN), dan umumnya rumah standard instalasi listrik nya langsung dari meter utama ke rumah (tanpa MCB). Karena MCB semacam pintu, maka ada kapasitas maksimal nya. Ambil contoh 1000 watt untuk 1 Circuit Breaker/CB (jadi gambar diatas total nya 4000 watt), sehingga jika 1 CB menahan beban > 1000 watt maka normalnya breaker akan drop (putus). Pun jika ada gangguan (ex: konslet) dalam blok tersebut, maka hanya 1 breaker drop dan tidak akan mengganggu CB lainnya dan meter utama. Kecuali jika total beban semua CB melebihi daya utama (type ruma tangga kecil 450, 900, 1200, 2200 watt) maka meter utama akan drop.
Tiba waktu yang dinanti
Datang di sela asa diri
Untuk tetap selalu kembali
Rumah terindah nan bersemi
Jauh kita dalam hariba
Tak setiap jenak kita bersama
Tak semua nafas kita kuasa
Dekap rindu kidung sentosa
Namun sayang kita berasa
Pada hati nan setia
Sayangku..
Enam purnama kita lalui
Berpadu sebuah niat suci
Aku mencintaimu..
Hingga purnama tak kembali
***
Selamat hari lahir
Untuk bunda anakku

Pada kesempatan akhir pekan, kami di undang dalam pertemuan para ex pekerja Oil & Gas area Jabodetabek yang diadakan di kota Bogor. Perkumpulan ini kurang lebih awalnya di galang oleh ex Vico Indonesia (diantaranya yang mempunyai lapangan gas di Badak, Kalimantan Timur), yang kemudian bergabung ke Oil & Gas yang lain, seperti Medco, HESS, EMP dll. Karena sifatnya silaturahim, maka tidak ada salahnya kami dalam waktu senggang off duty datang jalan-jalan ke Bogor.
Dalam silaturahim sendiri tentu ada beberapa agenda, diantaranya tukar informasi, bakti sosial, arisan, dan sebagainya. Sesuai dengan latar belakangnya, maka para peserta silaturahim adalah bapak-bapak dan istri nya yang rata-rata sudah diatas usia 50 tahun atau seusia orang tua kami. Sangat jauh dengan kami, pasangan muda usia kurang dari setengahnya. Tentu awalnya kami merasa ‘risih’ karena perbedaan usia tersebut, namun suasana akrab dan kekeluargaan menghapus pelan-pelan rasa canggung itu.
Sebenarnya ini bukan kali pertama kami bergaul dengan bapak-ibu yang usianya jauh di atas kami, karena di komplek perumahan kami (perumahan sejak tahun 70-an), hampir 80% penghuninya diatas 50 tahun. Selalu ada plus minus nya, bagaimanapun kami memandang hal-hal tersebut sebagai semacam “balancing” bagi kehidupan muda kami.
Silaturahim tersebut dilaksanakan di Rumah Sutra Alam, daerah Ciapus Kabupaten Bogor. Hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik kami untuk ikut datang, sambil melihat langsung proses pembuatan kain sutra di tempat tersebut. Sekarang kami akan ajak para pembaca untuk menelusuri perjalanan study tour kami ke Rumah Sutera Alam.

Ini adalah salah seorang pekerja di Rumah Sutera yang sedang menjelaskan seluk beluk tanaman murbei. Dari tanaman inilah proses pembuatan benang sutera itu bermula. Tanaman murbei berasal dari Cina. Di Indonesia sendiri, murbei tumbuh di daerah basah, di lereng gunung yang banyak terkena sinar matahari. Di lahan sekitar 4 hektar ini, murbei dibudidayakan secara stek. Tidak hanya sebagai makanan ulat sutera, ternyata tanaman ini juga mengandung banyak manfaat untuk kesehatan. Daun murbei dipercaya dapat menormalkan tekanan darah, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah, menurunkan kadar gula darah, menguatkan fungsi liver, memperlambat penuaan, mencegah flu, batuk, demam dan sakit kepala.. setidaknya begitulah yang kami baca dari kemasan Murbey Tea, yang sengaja kami beli disana sebagai oleh-oleh.Cukup dengan harga 15 ribu, kita bisa merasakan sensasi berbeda dari sebuah teh celup. Rasanya enak dan kaya manfaat.. (promosi nih). btw, anak farmasi itb kayanya belum ada yang meneliti ini deh :p Continue reading →
Bukan merupakan yang istimewa sebenarnya berkunjung ke kampus ITB. Namun buat saya, hal ini menjadi sedikit berbeda karena sudah 2 periode dalam 2 bulan terakhir berkunjung sampai seakan ‘menyelami’ kembali kehidupan kampus. Tidak lain karena harus menemani istri tercinta mengejar deadline thesis nya.
Sehingga waktu off justru lebih banyak di Bandung (baca: di sekitar kampus) daripada di Depok. Seperti minggu ini, 5 hari saya setiap hari ke kampus plus kadang jika sepi ikut ke Lab menemani penelitian bahkan hari libur sekalipun (sudah pasti mas tidak mengerti apa yang dinda kerjakan, namun cukup membantu kakak menemani di Lab kan?
).