<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Triandika Weblog</title>
	<atom:link href="http://triandika.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triandika.net</link>
	<description>Trian dan Dika Weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Dec 2009 05:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Safa Emira Asmoro</title>
		<link>http://triandika.net/2009/12/26/safa-emira-asmoro/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/12/26/safa-emira-asmoro/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 04:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Nama adalah do’a. Begitulah kami akhirnya memberikan nama kepada putri pertama kami, Safa Emira Asmoro.
Safa, artinya kemuliaan, ketentraman. Safa adalah nama sebuah bukit di Tanah Arab, sebagai saksi perjuangan tak kenal menyerah ibunda Siti Hajar saat berlari-lari antara bukit Safa dan Marwah mencari air untuk bayinya yaitu Ismail. Perjuangan Siti Hajar itu diabadikan dalam rukun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama adalah do’a. Begitulah kami akhirnya memberikan nama kepada putri pertama kami, <strong>Safa Emira Asmoro</strong>.</p>
<p><strong>Safa</strong>, artinya kemuliaan, ketentraman. Safa adalah nama sebuah bukit di Tanah Arab, sebagai saksi perjuangan tak kenal menyerah ibunda Siti Hajar saat berlari-lari antara bukit Safa dan Marwah mencari air untuk bayinya yaitu Ismail. Perjuangan Siti Hajar itu diabadikan dalam rukun Haji Baitullah, semua muslim yang berhaji pasti melakukannya.</p>
<p>Kami berharap putri kami <strong>Safa</strong> juga mempunyai semangat bergerak dan berjuang. Musim Haji akan menjadi pengingat baginya karena nama nya selalu disebut umat muslim sedunia sebagai simbol perjuangan. Sebuah nama yang abadi untuk kebaikan.</p>
<p><strong>Emira</strong>, artinya pemimpin (Amir). Kami menggunakan nama Emir (bukan Amir) dengan beberapa alasan, pertama lebih kepada estetis nama perempuan saat ditambahkan ‘e’ di depannya. Kedua, Emira mengingatkan pada Uni Emirates Arab, sebuah Negara gabungan di Arab. Negara yang maju dengan Dubai sebagai pilarnya, menjadi “<em>queen on the desert</em>”. Sebuah perpaduan antara Islam dan modernisasi. Alasan ketiga akan dijelaskan di bawah.</p>
<p>Kami berharap putri kami <strong>Safa Emira </strong>akan mempunyai jiwa pemimpin, seorang pemimpin perempuan yang kuat dan bermanfaat. Dengan semangat modernisasi yang tinggi, dan tetap dengan kepribadian Islam yang luhur. Sebuah nama yang baik untuk peradaban.</p>
<p><strong>Asmoro</strong>, adalah cinta, kasih sayang. Asmoro adalah nama belakang Ayah nya. Selain arti yang diharapkan dari nama itu dan pertalian keluarga, Asmoro juga mewakili seorang Jawa. Putri kami ialah generasi masa depan, dan tetap menghargai lokalitas nya. Lokalitas yang tidak hanya mewakili Jawa atau Sunda, namun juga mewakili budaya Indonesia pada umumnya. Sebuah nama yang sederhana untuk kesahajaan.</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0115.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-297" title="Safa" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0115-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Kami berharap putri kami <strong>Safa Emira Asmoro </strong>akan<strong> </strong>menjadi<strong> </strong>pemimpin perempuan mulia yang memberikan ketentraman dan cinta kasih dengan semangat modernisasi dan Islam untuk peradaban.</p>
<p>Dan akronim nama putri kami adalah <strong>SEA</strong>, yaitu laut. Ini alasan ketiga nama diatas, dan mewakili sebuah harapan yang lain seperti halnya sebuah laut. Laut itu luas dan dalam, kami berharap putri kami mempunyai hati selapang dan seluas lautan, semakin diselami semakin tampak keindahannya. Kami berharap ia juga memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, dengan resapan hati nurani yang dalam.</p>
<p>Laut itu tempat hidup berjuta biota, siklus kehidupan dari air hujan pun dimulai dari laut yang menguap. Sekalipun banyak ketidakbaikan yang diberikan manusia kepada laut, namun laut selalu setia memberikan kemanfaatan  untuk  makhluk hidup di dunia.</p>
<p>Siapa yang tidak menyukai pantai? Desir ombaknya, hamparan pasir putihnya, kemilau airnya membuat semua hati merindukannya. Laut adalah keindahan, keluasan tak bertepi, kedamaian dan kesahajaan. Dan kami berharap putri kami <strong>Safa Emira Asmoro</strong> (<strong>SEA</strong>) adalah laut di tengah keluarga kami dan juga di tengah masyarakat.</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0113.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-296" title="Safa1" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0113-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Nama adalah do’ a, maka kami mengucapkan terima kasih yang tulus atas do’a dari bapak, ibu, teman, sahabat, rekan, dan handai taulan semua. Semoga Allah SWT mengabulkan do’a kami ini, amin.</p>
<p><em>@<a href="http://triandika.net/">triandika</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/12/26/safa-emira-asmoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik menjadi Ibu</title>
		<link>http://triandika.net/2009/12/24/detik-menjadi-ibu/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/12/24/detik-menjadi-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 05:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika.amelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu tanggal 18 Desember, saya merasakan mulas yang begitu kuat. Dari jam 11 malam, rasa mulas itu timbul akibat kontraksi yang berlangsung rutin 5 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 50 menit. Jam 1 malam, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga Depok. Bidan jaga kemudian memeriksa tingkat pembukaan jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu tanggal 18 Desember, saya merasakan mulas yang begitu kuat. Dari jam 11 malam, rasa mulas itu timbul akibat kontraksi yang berlangsung rutin 5 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 50 menit. Jam 1 malam, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga Depok. Bidan jaga kemudian memeriksa tingkat pembukaan jalan lahir saya yang ternyata masih pembukaan 2. Kemudian dilakukan CTG atau pemeriksaan jantung bayi selama 20 menit. Karena pergerakan janin kurang aktif saat itu, bidan memberi saya oksigen untuk dihirup selama 1 jam lalu dilakukan pemeriksaan CTG kembali. Saat itu jam 4 pagi, saya dipindahkan ke ruang rawat inap sambil menunggu pembukaan beranjak meningkat.</p>
<p>Hingga pukul 7 pagi, saya baru sampai pada tingkat pembukaan 5. Setelah itu saya kembali ke ruang bersalin untuk menunggu sampai pembukaan lengkap. Karena mulas yang saya alami masih lemah sehingga pembukaan meningkat dalam waktu yang cukup lama, maka setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan saya lewat telepon, bidan memberi saya obat untuk induksi kontraksi. Saat itu dokter memang tidak berada di tempat, sehingga untuk proses pembukaan saya dibantu oleh para bidan jaga. Tidak hanya diinduksi melalui infus, ketuban saya juga dipecahkan untuk merangsang kontraksi.</p>
<p>Setelah diinduksi saya mulai merasakan kontraksi yang lebih kuat dan durasinya lama setiap sekitar 2 menit sekali. Pernah karena saking tidak kuat menahan rasa sakit, saya sempat menendang besi tempat tidur di kampar bersalin. Dengan bantuan induksi, jam 8 saya sudah sampai pada tingkat pembukaan 8. Saat itu dokter ahli kandungan saya baru saja tiba. Menjelang pembukaan lengkap, kontraksi semakin kuat dan rasa ingin mengejan semakin besar. Bu bidan mengingatkan saya untuk melakukan posisi persalinan litotomi seperti yang telah diajarkan di kelas senam hamil.</p>
<p>Dengan sigap, suami saya juga membantu untuk mengangkat kepala saya saat mengejan. Jadi tekniknya, dalam posisi terlentang atau setengah duduk, angkat kedua kaki dan kaitkan dengan lengan hingga batas siku. Setelah itu tarik nafas panjang, kepala diangkat, mengejan dengan kuat sambil melihat perut, lalu buang nafas lewat mulut. Meskipun saya sudah ikut kelas hamil sebanyak 6 kali pertemuan, ternyata pada hari-H rasa panik membuat saya lupa akan teori-teori tersebut. Rasa mulas pun muncul ketika pembukaan lengkap, dan dokter bersama bidan meminta saya untuk mengejan.</p>
<p>Saya mengejan sebanyak 6 kali hingga akhirnya bayi mungil itu keluar. Suara tangis pun pecah dan saya merasa lega, alhamdulillah. Sungguh suatu momen perjuangan alamiah yang sangat berat sehingga pantas orang-orang  menyebut proses melahirkan seperti antara hidup dan mati.</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0087.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-291" title="Dede Lahir" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0087-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tapi ternyata rasa sakit yang lebih hebat lagi terjadi pasca melahirkan. Ada bagian ari-ari dalam rahim saya yang tertinggal, menempel pada rahim. Dokter kemudian mengambil potongan ari-ari itu dengan cara memasukkan seluruh tangannya ke dalam rahim saya. Masya Allah, pada saat itu saya menjerit tak kuasa menahan sakit. Setelah bayi keluar, lalu kemudian IMD (Inisiasi Menyusui Dini), saya pun harus dijahit. Itu karena saya mengejan terlalu cepat sehingga otot perineum robek. Padahal beberapa kali pada trimester akhir saya coba belajar senam perineum di rumah untuk melenturkan otot tersebut ketika melahirkan.</p>
<p>Kemudian dokter dengan sigap menyuntikkan 3 ampul obat bius lokal. Saat jarumnya menyentuh kulit, entah kenapa saya merasa obat bius lokal tersebut tidak mempan, sebab rasanya masih sakit. Dan secara refleks, otot-otot yang akan dijahit mejadi kaku sehingga menyulitkan dokter untuk menjahitnya. Berkali-kali dokter menyuruh saya untuk rileks. Namun tetap saja saya tidak bisa rileks hingga akhirnya dokter ’mengancam’ dengan menawarkan saya 2 pilihan, yaitu rileks karena saya sudah dibius lokal sebanyak 3 ampul sehingga rasa sakit akan berkurang atau bius total tapi tidak akan bisa menyusui bayi dalam waktu yang lama.</p>
<p>Mendengar ’ancaman’ tersebut, saya tentu memilih opsi pertama, saya paksakan otot saya rileks. Jutaan energi positif saya coba hadirkan untuk membantu, sambil tak henti meminta kekuatan kepada Allah. Proses menjahit pun berlangsung cukup cepat dan alhamdulillah selesai sekitar pukul 9.15.</p>
<p>Seharusnya pada persalinan normal, ibu yang habis melahirkan harus sudah bisa jalan untuk menengok bayinya. Tapi karena tensi saya sempat drop, 90/60 mmHg, dan juga masih terasa pening, saya baru bisa bangun pada pukul 13.00. Pada waktu itu saya diantar ke ruang rawat inap dan beberapa jam setelahnya, bayi mungil itu pun diantar untuk memenuhi kerinduan keluarganya yang menunggu di kamar saat itu. Rasa rindu pun terbayar sudah..karena bersama akan lebih indah.</p>
<p>Selamat datang di dunia, putriku sayang.. [ ibumu ]</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0099x.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-292" title="DSCN0099x" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0099x-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><em>@<a href="http://triandika.net/">triandika</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/12/24/detik-menjadi-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putri kami menyapa dunia</title>
		<link>http://triandika.net/2009/12/20/putri-kami-menyapa-dunia/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/12/20/putri-kami-menyapa-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 23:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[
Depok, 19 Desember 2009, Jam 08.46
Berat 3.265 Kg, Panjang 50 Cm
Alhamdulillah&#8230;  
@ triandika
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0084.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-287" title="Menyapa Dunia" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0084-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Depok, 19 Desember 2009, Jam 08.46</p>
<p>Berat 3.265 Kg, Panjang 50 Cm</p>
<p>Alhamdulillah&#8230; <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://triandika.net/"><em>@ triandika</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/12/20/putri-kami-menyapa-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>9 Bulan Menjalin Kisah</title>
		<link>http://triandika.net/2009/11/02/9-bulan-menjalin-kisah/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/11/02/9-bulan-menjalin-kisah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 09:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika.amelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari pertemuan kami di sebuah mesjid di kota Bandung, tempat dimana akad diucapkan, disaksikan puluhan pasang mata yang ikhlas datang tuk memberi doa restu. Hari itu, tanggal 1 Februari 2009, kami mengikat janji, mengambil amanah untuk menjadi sepasang suami istri.
Kehidupan rumah tangga pun dimulai. Begitu manis, begitulah mungkin tahun-tahun pertama yang dirasakan oleh setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari pertemuan kami di sebuah mesjid di kota Bandung, tempat dimana akad diucapkan, disaksikan puluhan pasang mata yang ikhlas datang tuk memberi doa restu. Hari itu, tanggal 1 Februari 2009, kami mengikat janji, mengambil amanah untuk menjadi sepasang suami istri.</p>
<p>Kehidupan rumah tangga pun dimulai. Begitu manis, begitulah mungkin tahun-tahun pertama yang dirasakan oleh setiap pengantin baru. Hari berganti hari, karakter masing-masing mulai tampak jelas. Kebiasaan, cara mengambil keputusan, respon terhadap sebuah permasalahan, hingga manajemen waktu pun mulai membuka mata istri dan suami. Di tahun pertama pernikahan, atau bahkan mungkin seumur hidup, pekerjaan suami dan istri dalam rumah tangga adalah saling beradaptasi.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-284" title="Positif!" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Positif1-67x300.jpg" alt="Positif!" width="40" height="180" />Pertengahan April 2009, setelah seminggu saya terlambat datang bulan, saya tes kehamilan dengan test pack. Malam itu sekitar jam 3, saya terbangun dan segera mengambil sampel urin pertama. Setelah beberapa menit, 2 garis berwarna merah pun muncul. Bergegas saya sampaikan hal ini pada mas Trian dengan tangan yang gemetar memegang test pack yang positif tersebut. Air mata pun jatuh berderai. Saya memeluknya erat seolah meminta agar ia menyadarkan saya bahwa ini bukanlah mimpi. “Alhamdulillah..”. Hanya itu kata yang keluar dari bibirnya. Terasa detak jantungnya semakin kuat dan nafasnya tertahan, bersusah payah menenangkan saya dan mencegah air matanya tak tertumpah. Benarkah secepat ini kami diberi kepercayaan menjadi orang tua, benarkah, pantaskah? Tapi bukankah salah satu tujuan pernikahan itu adalah untuk melestarikan keturunan? Agar kelak generasi masa depan lebih baik dari generasi kami. Dalam hening subuh kami hanyut dengan perasaan kami sendiri. Bahagia, ya, kami bahagia..</p>
<p>Beberapa hari setelah itu, kami pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan. Disana, di monitor USG, kami melihat sebuah titik hitam yang menunjukkan ada calon manusia berada dalam rahim saya. Ini memang bukan mimpi, ini nyata. Dengan minimnya pengalaman kami, dan juga kota depok adalah kota yang baru bagi kami, maka untuk memilih dokter dan rumah sakit bersalin, kami mengandalkan internet dan juga nasehat dari saudara yang sudah lama tinggal di depok. Dengan pertimbangan berupa biaya, jarak, fasilitas, kebijakan rumah sakit tentang IMD dan rawat gabung akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada rumah sakit Mitra Keluarga, dengan dr.Sintha Utami sebagai konsultan. Setiap bulan kami rutin memeriksakan kandungan. Melalui USG kami bisa melihat kondisi bayi kami, detak jantungnya dan panjang tubuhnya. Pada bulan-bulan mendatang, melalui USG, informasi mengenai berat janin sudah mulai ketahuan. Dokter hanya membuat garis-garis pada bagian yang katanya kepala dan perut. Keluarlah angka-angka dan singkatan-singkatan yang jika dikombinasikan akan memberi informasi berat janin. Saya ingin sekali bertanya tentang singkatan-singkatan itu, namun rasanya dokter akan mengira hal itu tidak penting untuk ditanyakan. Yang penting bagi seorang wanita hamil adalah tahu janinnya normal dan baik-baik saja. Sepulang ke rumah, saya segera menjelajahi internet untuk mempelajari singkatan-singkatan itu. Inilah informasi yang saya dapatkan :</p>
<p>CRL (Crown Rump Length) : Ukuran jarak dari puncak kepala ke ’ekor’ bayi untuk mengukur usia kehamilan trimester 1.</p>
<p>BPD (Biparietal Diameter) : Ukuran diameter tulang pelipis kiri dan kanan, untuk mengukur usia kehamilan trimester 2 dan 3.</p>
<p>FL (Femur Length) : Ukuran panjang tulang paha bayi. Untuk mengukur usia kehamilan trimester 2 dan 3.</p>
<p>AC (Abdonimar circum ferencial) : Ukuran lingkar perut bayi. Untuk mengukur usia kehamilan trimester 2 dan 3.</p>
<p>Jika AC dikombinasikan dengan FL dan BPD akan menghasilkan perkiraan berat bayi (EFW).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-277 aligncenter" title="Picture1" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Picture1-300x126.jpg" alt="Picture1" width="333" height="140" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-278 aligncenter" title="Picture2" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Picture2-300x164.jpg" alt="Picture2" width="323" height="176" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-279" title="Picture3" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Picture3-300x182.jpg" alt="Picture3" width="331" height="192" /></p>
<p>Bagi para calon ibu hendaknya memiliki tabel perkembangan janin yang dapat diunduh di internet atau di buku-buku perkembangan janin dalam kandungan. Selain itu, mempersiapkan bahan konsultasi sejak dari rumah juga diperlukan terutama bagi calon ibu yang kesulitan berimprovisasi dalam konsultasi spontan dengan dokter, seperti saya <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Hal-hal yang sepele pun juga lebih baik ditanyakan daripada dipendam dan menyesal setelah sampai rumah.</p>
<p>Bulan Ramadhan, tepatnya 11 September 2009, saya check up rutin ke dokter. Kali ini tidak diantar mas Trian seperti biasanya, tapi ditemani ibu. Saat itu usia kandungan telah mencapai 179 hari atau sekitar 6 bulan. Saat pemeriksaan berlangsung, dokter menemukan keganjalan. Ia mengatakan ada pelebaran ventrikel lateral sekitar 0,97 cm. Kontan saya kaget dibuatnya. Saya menebak ada kelainan jantung karena dokter menyebut istilah ventrikel. Ternyata yang dimaksud dengan ventrikel adalah bagian dari otak. Oleh karena itu saya diminta untuk tes TORCH yang biayanya cukup mahal, sekitar 1,6 juta. Sepulang dari dokter, seperti biasa saya mencari informasi di internet tentang pelebaran ventrikel lateral. Sungguh apa yang saya peroleh dari internet membuat saya tercengang, takut tak terkatakan. Pelebaran ventrikel lateral, apalagi jika sudah sampai 10 mm dapat menyebabkan hidrosefalus. Hidrosefalus?? Dan pelebaran ventrikel lateral salah satunya disebabkan oleh infeksi toksoplasma, karena itu dokter meminta saya tes TORCH. Dunia serasa sempit dan gelap. Mengutuk diri sendiri karena telah teledor menjaga kesehatan ‘si kecil’. Makanan apa yang telah saya makan, zat kimia berbahaya apa yang telah saya telan, benarkah karena aktivitas di laboratorium selama ini, benarkah karena saya sering pp depok-bandung? Seharusnya saya mendengar nasehat teman-teman untuk berhati-hati menjaga kandungan. Astagfirullah, hari itu betapa saya merasa bersalah. Sepanjang malam terus mengusap perut sambil berdoa agar apa yang saya takutkan tidak terjadi. Ya Rabb, maafkan hamba..</p>
<p>1 minggu berlalu dan hasil pemeriksaan TORCH keluar. IgM semuanya negatif, sedangkan IgG positif dan HI avidity. Hasil pemeriksaan USG berikutnya pun Alhamdulillah tidak ditemukan pelebaran ventrikel lagi. Subhanallah..</p>
<p>Bagi para calon ibu, hendaknya selalu memperhatikan makanan yang dimakan setiap hari. Perhatikan tingkat kematangan dan kebersihannya. Hindari steak yang digoreng setengah matang, hindari jajanan yang higienitasnya diragukan, hindari sayuran yang belum dimasak.. Jika ada waktu dan rezeki, jangan lupa untuk memeriksa TORCH di lab-lab rumah sakit.</p>
<p>Hari ini, usia kandungan saya telah mencapai 33 minggu atau sekitar 8 bulan. Artinya telah 9 bulan kami merangkai kisah. Hari-hari menjelang persalinan mungkin tidak akan terasa. Beberapa teman silih berganti menyampaikan kabar gembira mengenai kelahiran putra dan putri mereka. Begitu banyak cerita yang mereka bagi dan semoga kami bisa mengambil pelajaran.. Mohon doa dari rekan-rekan agar kami diberi kesabaran, keikhlasan dan rasa kasih sayang dalam mendidik putra/i kami kelak.  Begitu pun dengan rekan-rekan yang telah mendahului kami..Dan yang antri di belakang kami <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://triandika.net/">triandika.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/11/02/9-bulan-menjalin-kisah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What&#8217;s Next</title>
		<link>http://triandika.net/2009/10/30/whats-next/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/10/30/whats-next/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 15:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika.amelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian uji argumentasi dalam aula hikmah, dengan seminar dan sidang, akhirnya momen yang dinanti-nanti oleh setiap mahasiswa pun tiba, wisuda. Bersama dengan 400 mahasiswa pasca sarjana lainnya, saya dilantik menjadi magister pada tanggal 23 Oktober 2009. Ada sebuah keharuan karena untuk mencapai tahap ini perlu upaya yang sangat menguras tenaga, pikiran dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian uji argumentasi dalam aula hikmah, dengan seminar dan sidang, akhirnya momen yang dinanti-nanti oleh setiap mahasiswa pun tiba, wisuda. Bersama dengan 400 mahasiswa pasca sarjana lainnya, saya dilantik menjadi magister pada tanggal 23 Oktober 2009. Ada sebuah keharuan karena untuk mencapai tahap ini perlu upaya yang sangat menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Tak jarang harus pulang pergi bandung-depok untuk menemui suami yang bekerja dengan system 2 minggu on site dan 2 minggu off, harus juga pulang pergi bandung-jakarta untuk menganalisis sampel di labkesda jakarta timur, mengerjakan project dosen sambil mempelajari instrumen analisis di farmasi, pulang maghrib, pergi pagi, hamil. Alhamdulillah, betapa leganya ketika semua berhasil dilewati dan diakhiri dengan manis. Namun ada juga sebuah tanya, what’s next? Ya, lalu apa yang akan saya lakukan setelah memperoleh gelar ini. Bermacam-macam rencana pun dibuat sebelum toga ini dikenakan. Rencana untuk terus beraktivitas, terus belajar, terus bermanfaat. Namun rencana-rencana itu sempat tertunda karena pertimbangan kehamilan yang sudah masuk bulan tua. Jika rencana itu terlaksana maka akan ada yang dikorbankan, sekilas terpikir seperti itu. Namun meski rencana belum terlaksana sekarang, bukan berarti puasa aktivitas, setidaknya itu komitmen yang dibangun saat saya berdiskusi dengan suami. Hamil bukanlah sebuah penghalang bagi wanita untuk terus berkarya dan bermanfaat. Dan pilihan untuk beraktivitas hendaknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing calon bunda.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="size-medium wp-image-266 aligncenter" title="DSCN0318" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/10/DSCN0318-300x225.jpg" alt="DSCN0318" width="266" height="206" /><br />
Wisuda kali ini memang berbeda. Gedung yang biasa dipadati oleh sekitar 3000 orang yang terdiri dari 1000 wisudawan dan 2000 undangan, kini hanya diisi oleh sekitar 1200 orang saja, karena ada pemisahan waktu wisuda sarjana dan pasca sarjana. Lebih cepat dan hikmat. Meski acaranya sama dengan model wisuda tahun-tahun sebelumnya, para wisudawan dan undangan terkesan menikmati acara ini. Berbagai prestasi yang diraih oleh mahasiswa-mahasiswi ITB disampaikan dalam sambutan rektor, kemudian disambut dengan riuh tepuk tangan. Kagum dengan capaian anak bangsa yang menembus dunia internasional dalam ajang persaingan teknologi, budaya dan seni. Dalam buramnya potret kehidupan pemuda indonesia, masih ada secercah terang dari lilin yang dinyalakan oleh para pemuda harapan bangsa. Berbagai judul tesis dan disertasi menghiasi buku wisuda. Berharap judul-judul itu tidak hanya sekedar kalimat yang menjejali rak-rak perpustakaan ITB, tapi juga menjelma menjadi produk-produk yang memasyarakat.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="size-medium wp-image-267 aligncenter" title="DSCN0324" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/10/DSCN0324-300x225.jpg" alt="DSCN0324" width="276" height="207" /></p>
<p>Beberapa rekan telah siap-siap pulang ke daerahnya masing-masing untuk melanjutkan kerja. Ya memang sebagian besar mahasiswa S2 si Farmasi adalah dosen di universitas-universitas negeri dan swasta di berbagai daerah yang mendapat beasiswa. Ada juga rekan yang setelah diwisuda, keesokan harinya ikut psikotes CPNs. Mungkin sedikit saja mahasiswa yang menganggur pasca wisuda, karena hampir 80% (agaknya) telah bekerja sebelum kuliah. Dan saya termasuk yang sedikit itu. Mudah-mudahan kelak ketika bayi kami lahir dan sudah siap untuk ditinggal ibunya bekerja, rencana-rencana aktivitas bisa terlaksana.amin</p>
<p>Ngomong-ngomong tentang pascasarjana, saya teringat dengan pertanyaan seorang adik kelas yang diajukan pada saya dan beberapa rekan S2. &#8220;teteh kuliah S2 mau jadi dosen ya?&#8221;, tanyanya. Jawaban pun berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Namun saya terkesan dengan jawaban seorang teteh yang menggambarkan misinya mengikuti kuliah S2. Jawabnya adalah &#8220;Gak, saya gak bermaksud menjadi dosen. Saya kuliah lagi untuk mengembangkan pola pikir saya. Untuk anak saya&#8221;. Dengan kuliah, sang ibu berharap bisa lebih maju, lebih berwawasan, lebih terstruktur, lebih bijak, sehingga kelak itu bisa menjadi modal baginya dalam mendidik putra-putrinya. Memang bukan sebuah jaminan bagi seorang wanita dengan pendidikan lebih tinggi akan mencetak generasi yang lebih baik. Namun apa yang ia pelajari di bangku kuliah pascasarjana, ditambah dengan up date informasi terkini seputar pendidikan anak, bisa menjadi nilai tambah.</p>
<p>Wisuda memang sudah selesai, tapi janji yang dikumandangkan masih terus menggema.&#8221;&#8230;untuk terus menuntut ilmu&#8230;dengan ketekunan dan kesadaran&#8230;bagi kesejahteraan bangsa Indonesia..&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/10/30/whats-next/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aula Hikmah</title>
		<link>http://triandika.net/2009/09/09/aula-hikmah/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/09/09/aula-hikmah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 07:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[

Semoga ilmu nya berkah, Bunda.. Amin. 
-Ayah&#38;Dede-
@triandika
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-259 aligncenter" title="Seminar Tesis" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/09/DSC00326-300x225.jpg" alt="Seminar Tesis" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-260 aligncenter" title="Penjelasan Pembimbing" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/09/DSC00340-300x225.jpg" alt="Penjelasan Pembimbing" width="300" height="225" /></p>
<p>Semoga ilmu nya berkah, Bunda.. Amin. <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
-Ayah&amp;Dede-</p>
<p><em>@<a href="http://triandika.net/">triandika</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/09/09/aula-hikmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MCB vs Power Load di Rumah</title>
		<link>http://triandika.net/2009/09/04/mcb-vs-power-load-di-rumah/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/09/04/mcb-vs-power-load-di-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 07:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Home]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[
Gambar diatas adalah MCB (Main Circuit Breaker) yang terpasang di rumah. Background saya bukan Elektro, namun secara umum prinsipnya MCB membagi beban listrik ke blok-blok instalasi dalam rumah tersebut, semacam beberapa pintu untuk masuk rumah. MCB dipasang setelah meter utama (PLN), dan umumnya rumah standard instalasi listrik nya langsung dari meter utama ke rumah (tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-250" title="MCB rumah" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/09/DSC00313-300x225.jpg" alt="MCB rumah" width="300" height="225" /></p>
<p>Gambar diatas adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Circuit_breaker">MCB</a> (<em>Main Circuit Breaker</em>) yang terpasang di rumah. Background saya bukan Elektro, namun secara umum prinsipnya MCB membagi beban listrik ke blok-blok instalasi dalam rumah tersebut, semacam beberapa pintu untuk masuk rumah. MCB dipasang setelah meter utama (PLN), dan umumnya rumah standard instalasi listrik nya langsung dari meter utama ke rumah (tanpa MCB). Karena MCB semacam pintu, maka ada kapasitas maksimal nya. Ambil contoh 1000 watt untuk 1 Circuit Breaker/CB (jadi gambar diatas total nya 4000 watt), sehingga jika 1 CB menahan beban &gt; 1000 watt maka normalnya breaker akan drop (putus). Pun jika ada gangguan (ex: konslet) dalam blok tersebut, maka hanya 1 breaker drop dan tidak akan mengganggu CB lainnya dan meter utama. Kecuali jika total beban semua CB melebihi daya utama (type ruma tangga kecil 450, 900, 1200, 2200 watt) maka meter utama akan drop.</p>
<p><span id="more-249"></span>Kasusnya di rumah kami, daya listrik menggunakan 2200 watt dimana MCB nya; CB 1 untuk listrik utama lantai dasar (semua lampu dan stop kontak untuk lemari es, mesin cuci, dispenser, magic jar, kipas angin, exhaust fan dapur, setrika jika terpakai, tv termasuk accessoriesnya nanti, dll), CB 2 untuk semua beban ruang atas termasuk AC 1 pk, CB 3 khusus untuk AC 1 pk kamar bawah, dan CB 4 khusus lampu kamar mandi utama. Sangat terlihat beban yang tidak seimbang antar CB, CB 1 sangat berat sedang CB 4 sangat ringan. Tidak heran jika CB 1 sering drop dan kadang membuat meter drop juga.</p>
<p>Maka solusinya, saya meminta tukang listrik untuk mempararelkan CB 1 dan 4 sehingga beban nya menjadi beban bersama. CB 1 dan 4 akan drop jika beban nya melebihi gabungan kapasitas CB 1+4 (atau beban melebihi meter utama). Praktis jika keluar rumah dalam jangka waktu lama, kalau dulu mematikan CB 2, 3, 4 dan tetap mengaktifkan  CB 1, mulai sekarang mode nya sama namun beban CB 1 berkurang. Artinya beban listrik <em>stand by </em>dan biayanya menjadi berkurang.</p>
<p>Sebelum modifikasi MCB, saya berdiskusi dengan teman dan bos (keduanya background Elektro pastinya) tentang listrik yang sering drop apalagi saat malam lampu nyala, dispenser, magic jar, 2 AC, kulkas, kipas, exhaust dan drop CB 1. Padahal AC berbeda CB nya. Dihitung-hitung 2200 watt memang mepet untuk alat-alat diatas, namun masih bisa digunakan asal bijak dalam penggunaan. Opsi nya diantaranya;</p>
<p>1. Menaikan daya menjadi 3500 watt, dengan <a href="http://www.pln.co.id/PelayananPelanggan/EnergyChanging/tabid/61/Default.aspx">biaya kenaikan daya</a> sekitar 850 ribu. <a href="http://www.pln.co.id/simulasi/simulasi_anda.asp">Biaya bulanan kwh</a> pun menjadi lebih mahal daripada 2200 watt (selisih sekitar 50 ribu). Keuntungan nya, hilang khawatir listrik drop dan spare daya melimpah. Namun dengan aktivitas keseharian, rasanya tidak 24 jam beban 2200 watt itu terpakai. Catatan dari teman, daya naik seharusnya spek kabel instalasi dicek lagi, apakah ampere nya masih sesuai. Jangan sampai nanti kabel menjadi cepat panas dan peluang terbakar menjadi besar. Untuk urusan cek atau penggantian instalasi kabel sangat tidak efisien karena rumah ini beli second sehingga agak sulit melacaknya.</p>
<p>2. Tetap dengan daya 2200 watt, sesuai saran teman dengan modifikasi MCB seperti diatas. Hasilnya cukup terbukti. Disimulasikan dengan menyalakan semua lampu utama, 2 AC, magic jar, kipas, dispenser, dan mesin cuci (tanpa beban) dan meter tetap jalan. Kemudian ditambahkan setrika, tidak selang 1 menit meter utama drop karena beban &gt; 2200 watt (catatan: MCB tidak drop).</p>
<p>Dengan opsi 2 tersebut, ada hal yang ingin saya coba digunakan yakni pemakain capasitor bank (umumnya dibilang penghemat listrik). Sekalipun banyak yang mengulas dan saya juga percaya ketidakefektifan alat tersebut, tapi bagaimanapun pembuktian sendiri tidak ada salahnya. Tujuannya bukan untuk menghemat (tagihan) listrik, namun sebagai pengoptimal daya listrik karena alat-alat listrik diatas (<a href="http://priyadi.net/archives/2006/05/30/mempertanyakan-alat-penghemat-listrik/">daya semu vs daya nyata</a>). Namanya juga mencoba, saya memilih yang tidak terlalu mahal di internet (delivery minggu depan dengan).  Menurut bos saya, kalau tidak berhasil anggap saja THR untuk penjual nya. <em>Nice to try..</em></p>
<p>Dari pengalaman listrik di rumah, maka ada beberapa pelajaran yang bisa di ambil;</p>
<p>1. Pakailah listrik sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Jika tidak digunakan lebih baik matikan. Kecuali untuk alat-alat yang sifatnya non-stand by (Kulkas, Magic Jar, AC jika perlu), memilih yang daya nya kecil. Khusus untuk AC, pertimbangan coverage memang utama, namun daya juga penting. Memang kalau daya AC (pk) sesuai, mendinginkan ruangan menjadi lebih cepat, plus ruangan di sekitarnya jika dibutuhkan. Apalagi AC sekarang sudah banyak yang ada &#8217;system penghemat daya&#8217; nya.</p>
<p>2. Instalasi listrik di rumah sangat krusial, karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan. Instalasi air hanya berefek kenyamanan, sedangkan listrik menyangkut keamanan penghuninnya. Bagi calon pembeli rumah (baru atau second), memahami instalasi listrik menjadi prioritas setelah cocok dengan tampilannya. Untuk rumah second, bisa ditanyakan ke tukang yang melakukan instalasi listrik di rumah tersebut. Jika background electrical kurang, setidaknya pahami jalur-jalurnya. Ubah pertama kali setelah membeli jika instalasi listrik tidak <em>user friendly</em> atau membahayakan, sebelum mengarah ke instalasi air dan pengecatan.</p>
<p>Khusus bagi yang akan membangun rumah sendiri (beli tanah), kesempatan yang sangat baik untuk men-desain instalasi listrik (air dan <a title="Local Area Network">LAN</a>) yang sesuai dengan kebutuhan, bahkan sedikit over-spec lebih baik untuk kebutuhan masa datang. Tentu dengan bantuan ahlinya, urusan desain mendesain rumah ini akan menjadi menarik. Rumah komplek sekarang sudah banyak yang melibatkan pembeli/penghuni untuk mendesain rumah yang akan di bangun.</p>
<p>Yang belum memiliki rumah, membeli rumah second atau rumah baru sudah jadi pun anugerah yang harus disyukuri. Tinggal mengoptimalkan diri untuk mempelajari seluk-beluk rumah tersebut sampai tuntas, menjadikan pelajaran berharga untuk rumah kedua, ketiga dst nantinya, amin.. <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>@<a href="http://triandika.net/">triandika</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/09/04/mcb-vs-power-load-di-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hingga Purnama</title>
		<link>http://triandika.net/2009/07/20/hingga-purnama/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/07/20/hingga-purnama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 22:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Tiba waktu yang dinanti
Datang di sela asa diri
Untuk tetap selalu kembali
Rumah terindah nan bersemi
Jauh kita dalam hariba
Tak setiap jenak kita bersama
Tak semua nafas kita kuasa
Dekap rindu kidung sentosa
Namun sayang kita berasa
Pada hati nan setia
Sayangku..
Enam purnama kita lalui
Berpadu sebuah niat suci
Aku mencintaimu..
Hingga purnama tak kembali
***
Selamat hari lahir
Untuk bunda anakku

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba waktu yang dinanti<br />
Datang di sela asa diri<br />
Untuk tetap selalu kembali<br />
Rumah terindah nan bersemi</p>
<p>Jauh kita dalam hariba<br />
Tak setiap jenak kita bersama<br />
Tak semua nafas kita kuasa<br />
Dekap rindu kidung sentosa<br />
Namun sayang kita berasa<br />
Pada hati nan setia</p>
<p>Sayangku..<br />
Enam purnama kita lalui<br />
Berpadu sebuah niat suci</p>
<p>Aku mencintaimu..<br />
Hingga purnama tak kembali</p>
<p>***<br />
<em>Selamat hari lahir<br />
Untuk bunda anakku</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-245" title="bandung" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/07/DSC00277-300x225.jpg" alt="arwiga-2" width="300" height="225" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/07/20/hingga-purnama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lintas Generasi di Bogor dan Ulat Sutra</title>
		<link>http://triandika.net/2009/06/21/lintas-generasi-di-bogor-dan-ulat-sutra/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/06/21/lintas-generasi-di-bogor-dan-ulat-sutra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 15:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vacation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Pada kesempatan akhir pekan, kami di undang dalam pertemuan para ex pekerja Oil &#38; Gas area Jabodetabek yang diadakan di kota Bogor. Perkumpulan ini kurang lebih awalnya di galang oleh ex Vico Indonesia (diantaranya yang mempunyai lapangan gas di Badak, Kalimantan Timur), yang kemudian bergabung ke Oil &#38; Gas yang lain, seperti Medco, HESS, EMP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada kesempatan akhir pekan, kami di undang dalam pertemuan para ex pekerja Oil &amp; Gas area Jabodetabek yang diadakan di kota Bogor. Perkumpulan ini kurang lebih awalnya di galang oleh ex <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/VICO_Indonesia">Vico Indonesia</a> (diantaranya yang mempunyai lapangan gas di Badak, Kalimantan Timur), yang kemudian bergabung ke Oil &amp; Gas yang lain, seperti Medco, HESS, EMP dll. Karena sifatnya silaturahim, maka tidak ada salahnya kami dalam waktu senggang <em>off duty</em> datang jalan-jalan ke Bogor.</p>
<p>Dalam silaturahim sendiri tentu ada beberapa agenda, diantaranya tukar informasi, bakti sosial, arisan, dan sebagainya. Sesuai dengan latar belakangnya, maka para peserta silaturahim adalah bapak-bapak dan istri nya yang rata-rata sudah diatas usia 50 tahun atau seusia orang tua kami. Sangat jauh dengan kami, pasangan muda usia kurang dari setengahnya. Tentu awalnya kami merasa ‘risih’ karena perbedaan usia tersebut, namun suasana akrab dan kekeluargaan menghapus pelan-pelan rasa canggung itu.</p>
<p>Sebenarnya ini bukan kali pertama kami bergaul dengan bapak-ibu yang usianya jauh di atas kami, karena di komplek perumahan kami (perumahan sejak tahun 70-an), hampir 80% penghuninya diatas 50 tahun. Selalu ada plus minus nya, bagaimanapun kami memandang hal-hal tersebut sebagai semacam “<em>balancing</em>” bagi kehidupan muda kami.</p>
<p>Silaturahim tersebut dilaksanakan di <a href="http://rumahsuteraalam.com/background.htm">Rumah Sutra Alam</a>, daerah Ciapus Kabupaten Bogor. Hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik kami untuk ikut datang, sambil melihat langsung proses pembuatan kain sutra di tempat tersebut. Sekarang kami akan ajak para pembaca untuk menelusuri perjalanan study tour kami ke Rumah Sutera Alam.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-222" title="penjelasan murbei" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00218-300x225.jpg" alt="penjelasan murbei" width="300" height="225" /></p>
<p>Ini adalah salah seorang pekerja di Rumah Sutera yang sedang menjelaskan seluk beluk tanaman murbei. Dari tanaman inilah proses pembuatan benang sutera itu bermula. Tanaman murbei berasal dari Cina. Di Indonesia sendiri, murbei tumbuh di daerah basah, di lereng gunung yang banyak terkena sinar matahari. Di lahan sekitar 4 hektar ini, murbei dibudidayakan secara stek. Tidak hanya sebagai makanan ulat sutera, ternyata tanaman ini juga mengandung banyak manfaat untuk kesehatan. Daun murbei dipercaya dapat menormalkan tekanan darah, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah, menurunkan kadar gula darah, menguatkan fungsi liver, memperlambat penuaan, mencegah flu, batuk, demam dan sakit kepala.. setidaknya begitulah yang kami baca dari kemasan Murbey Tea, yang sengaja kami beli disana sebagai oleh-oleh.Cukup dengan harga 15 ribu, kita bisa merasakan sensasi berbeda dari sebuah teh celup. Rasanya enak dan kaya manfaat.. (promosi nih). btw, anak farmasi itb kayanya belum ada yang meneliti ini deh :p<span id="more-220"></span></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-223" title="ulat sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00220-300x225.jpg" alt="ulat sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Ini adalah ulat sutera yang sedang berada dalam fase hibernasi. Jadi ulat sutera itu punya fase-fase pertumbuhan. Fase pertama (berusia 1-4 hari), ulat sutera kecil berganti kulit. Pada fase kedua dan ketiga, semua kulit ulat sutera berganti. Tiga fase ini ditempuh dalam dua belas hari. Pada fase ini, ulat masih sangat sensitif. Pengunjung tidak diperbolehkan masuk kecuali mengenakan peralatan standar yang disediakan. Sayangnya saat itu kami belum diperbolehkan masuk. Nah di foto ini, sang ulat sedang masuk dalam fase ke empat, yang dimulai dari hari ke 13, selama 4-6 hari. Ulat sutera yang kami lihat saat itu berwarna putih bergaris-garis hitam dengan kepala sedikit cokelat. Sang ulat sedang tertidur, tapi sepertinya ada beberapa yang <em>ngelindur</em> karena kepala mereka sedikit bergerak-gerak, lucu tapi menjijikan juga. Tapi jangan khawatir, ulat ini jinak, kalo tidak disuapi makan, dia tidak akan makan meski kita pancing ia dengan murbei pada jarak sekitar 30 cm. what a lazy animal :p. atau mungkin karena saking eksklusif, jadinya pengen dimanja terus.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-224" title="kokon putih" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00224-300x225.jpg" alt="kokon putih" width="300" height="225" /></p>
<p>Pada fase akhir, ulat sutera akan berhenti makan dan mulai membuat kepompong selama 2-3 hari. Pada tahap ini, ulat akan membentuk kokon (kepompong). Selama 5-8 hari, ulat sutera membuat kepompong tanpa lelah. Foto ini adalah plastik khusus dimana ulat akan naik dan mulai membuat kepompong. Satu kepompong, jika diproses bisa menghasilkan benang sutera sepanjang 900-1200 m. Selama enam hari, ulat dibiarkan menjadi pupa dalam kokon. Agar menghasilkan benang yang bagus, tanpa terputus, pupa tersebut tidak dibiarkan menjadi kupu-kupu. Padahal ingin banget lihat kupu-kupu sutera kaya gimana..</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-225" title="kokon kuning" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00225-300x225.jpg" alt="kokon kuning" width="300" height="225" /></p>
<p>Ada dua jenis kokon di rumah sutera, kokon putih yang bersifat lokal dan kokon kuning yang ulatnya berasal dari luar negeri.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-226" title="kokon masak" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00227-300x225.jpg" alt="kokon masak" width="300" height="225" /></p>
<p>Kokon kemudian direbus agar mengembang (jadi si pupa direbus &#8216;hidup-hidup&#8217;) dan zat perekatnya terlepas.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-227" title="kokon sisa" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00228-300x225.jpg" alt="kokon sisa" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah masak, ujung kokon digunting untuk mengeluarkan pupa. Terlihat tidak benang halusnya? dan si pupa masih terjebak di dalam, tapi tenang, pupa sudah mati, setelah memberikan manfaat sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="pupa kokon" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00235-300x225.jpg" alt="pupa kokon" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah pupa masak yang biasanya dimanfaatkan untuk pakan ikan. Katanya penuh dengan protein. hm, mungkin bisa jadi cadangan makanan masa depan, seperti spirulina..(agak ngaco sih :p)</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-228" title="mengambil benang kokon" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00232-300x225.jpg" alt="memintal kokon" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah pupa dikeluarkan kemudian benang mulai diolah dengan mesin yang semi automatic. Ini bukan pekerjaan gampang, sebab benang yang diolah harus diupayakan satu ukuran (<em>denier</em>). Disini mesin memproses menjadi seikat benang sutera seberat 2 kg. Harga benang sutera putih dijual Rp.370 ribu, adapun yang kuning 400 ribu per kilogram (<a href="http://www.korantempo.com/korantempo/cetak/2008/02/08/Metro/krn.20080208.122480.id.html"><strong>Tempo, 8 Feb 08</strong></a>)</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-231" title="benang sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00236-300x225.jpg" alt="benang sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Ini salah satu gulungan benang sutera mentah yang sudah jadi.  Saat dipegang, seratnya masih kasar, entah berapa denier.. yang pasti ini bahan baku mahal.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-230" title="memintal kain sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00238-300x225.jpg" alt="memintal kain sutra" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="memintal sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00240-300x225.jpg" alt="memintal sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah dari pengolahan benang, kami beranjak ke ruang pemintalan. Alat tenun yang digunakan masih tradisional, terbuat dari kayu. Dalam gambar terlihat ada celah-celah kawat tempat melewatkan satu helai benang, entah ada berapa ratus celah. Dan karena masih tradisional, satu benang itu harus dilewatkan satu demi satu. Bagi mereka yang sudah terbiasa, katanya paling cepat selesai dalam satu hari untuk memasukkan semua benang ke dalam celah. Setelah semua benang terbentang ke arah vertikal, benang yang lain kemudian dimasukkan ke dalam &#8220;pistol kayu&#8221; yang akan digerakkan secara horizontal, melintang terhadap benang yang pertama. So simple, tapi luamaaaaa&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-233" title="membentang sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00242-300x225.jpg" alt="membentang sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Hasilnya ya beginilah, satu helai kain sutera untuk kerudung. Tapi karena benangnya masih mentah, jadi hasilnya masih kasar. Satu kerudung ini dihargai sekitar 50 ribu.</p>
<p>Perjalanan <em>study tour</em> pun selesai. Kami beranjak menuju pendopo untuk menikmati makan siang. Silaturahim pun semakin hangat dengan adanya perkenalan anggota (pasangan) baru, kita salah satunya sebagai pasangan termuda :p.</p>
<p>Ada banyak pelajaran yang di dapat dalam silaturahim ini. Kami membayangkan 20-30 tahun lagi bisa jadi kami dan teman-teman se-pantaran yang sekarang menyebar di beberapa Oil &amp; Gas Indonesia mungkin akan mengadakan hal serupa di masa yang akan datang. Selain itu, kami melihat bahwa bapak-ibu yang dalam perkumpulan ini sudah lebih dari 30 tahun menikah dengan segala kondisi lika liku (terutama dunia Oil), ternyata sampai sekarang masih sehat dan harmonis. Sebuah releksi kehidupan untuk jalan yang sedang mulai kami tapaki hari ini.</p>
<p>Selain itu, dari awal sudah diniatkan bahwa silaturahim ini sendiri tidak hanya ajang kumpul-kumpul tanpa adanya manfaat. Setidaknya ilmu baru seperti ulat sutra atau lainnya diusahakan ada dalam pertemuan setiap bulannya. Karena sifatnya perkumpulan tanpa organisasi, maka tidak ada paksaan harus datang atau iuran (tempat silaturahim digilir), sehingga kedatangan anggota hanya karena merasa butuh.</p>
<p>Kami sendiri tidak bisa memastikan akan selalu hadir, karena bulan-bulan mendatang tentu akan semakin memasuki bulan tua bagi calon buah hati kami. Terima kasih kepada bapak-ibu yang mengundang dan memberikan kesempatan hadir dalam pertemuan bermanfaat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/06/21/lintas-generasi-di-bogor-dan-ulat-sutra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ke Kampus ITB; Anti Nyontek</title>
		<link>http://triandika.net/2009/05/23/ke-kampus-itb-anti-nyontek/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/05/23/ke-kampus-itb-anti-nyontek/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 07:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Bukan merupakan yang istimewa sebenarnya berkunjung ke kampus ITB. Namun buat saya, hal ini menjadi sedikit berbeda karena sudah 2 periode dalam 2 bulan terakhir berkunjung sampai seakan &#8216;menyelami&#8217; kembali kehidupan kampus. Tidak lain karena harus menemani istri tercinta mengejar deadline thesis nya. Sehingga waktu off justru lebih banyak di Bandung (baca: di sekitar kampus) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan merupakan yang istimewa sebenarnya berkunjung ke kampus ITB. Namun buat saya, hal ini menjadi sedikit berbeda karena sudah 2 periode dalam 2 bulan terakhir berkunjung sampai seakan &#8216;menyelami&#8217; kembali kehidupan kampus. Tidak lain karena harus menemani istri tercinta mengejar deadline thesis nya. <img class="alignright size-medium wp-image-202" title="di Lab" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/05/picture0011-300x225.jpg" alt="di Lab" width="187" height="140" />Sehingga waktu off justru lebih banyak di Bandung (baca: di sekitar kampus) daripada di Depok. Seperti minggu ini, 5 hari saya setiap hari ke kampus plus kadang jika sepi ikut ke Lab menemani penelitian bahkan hari libur sekalipun (<em>sudah pasti mas tidak mengerti apa yang dinda kerjakan, namun cukup membantu kakak menemani di Lab kan? </em> <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p><span id="more-199"></span>Seperti yang sudah saya sampaikan, ke kampus tidak hanya menjadi ajang  &#8216;menemani istri&#8217;, tapi sekaligus merasakan kembali kehidupan kampus. Kembali ke suasana Salman, makan pagi dan siang di Bengkok, Gelapnyawang dan area mahasiswa lainnya. Agak sedikit beruntung karena perawakan yang masih belum terlampau jauh (dari sisi wajah, atau ukuran hehe), maka saya pun menikmati seolah-olah menjadi mahasiswa kembali. Bedanya merasa agak santai dan nyaman karena tanpa beban kuliah serta bisa makan lebih enak (baca: mahal :p) dibanding dulu.</p>
<p>Selain suasana kampus, tentu saja berkunjung ke perpustakaan adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Kali ini cukup lah perpus Salman dan perpus TI (disamping Farmasi pastinya hehe) yang menjadi tujuan. Tujuannya jelas, membangkitkan semangat belajar dari kampus &#8216;pusatnya ilmu&#8217;. Maka berkunjung ke TI serasa me-refresh kembali pengetahuan ke-TI-an setelah 2 tahun banyak berkutat di pekerjaan yang sifatnya lebih praktis dan berkarakter <em>Oil and Gas</em>.</p>
<p>Maka, ke perpus TI di kampus adalah kesempatan mencari hal-hal yang bisa diambil untuk menjadi pencerahan di aktivitas bisnis perusahaan yang digeluti sehari-hari terkait keilmuan TI. Padahal hal tersebut nyata-nyata juga dipelajari dulu 3-4 tahun yang lalu. Ternyata pengetahuan juga membutuhkan stimulus untuk dibangkitkan dari <em>dormant</em>-nya. Dan stimulus itu salah satu yang paling besar dari lingkungan kampus.</p>
<p>Dan aktivitas menemani di Lab pun menjadi aktivitas menuliskan kembali &#8216;tarian-tarian&#8217; ilmu yang bangkit ke dalam laptop. Sehingga aktivitas di Lab pun menjadi sempurna, sang istri bekerja keras meneliti tentang bawang tiwai, sedangkan sang suami membuat sebuah rancangan improvement untuk pekerjaan nya.</p>
<p>Di kampus ITB sendiri khususnya dalam minggu-minggu ini sedang punya &#8216;gawe&#8217; yakni Ujian Akhir Semester (UAS). Yang menarik pihak kampus dan Keluarga Mahasiswa ITB sedang getol-getolnya mengkampanyekan UAS bebas nyontek (bukan artinya nyontek sebebas-bebasnya lho..), atau lebih tepatnya UAS tanpa nyontek (menyontek atau mencontek?). Beberapa spanduk dan baligho di pasang di sudut-sudut strategis kampus seperti di bawah.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-205 aligncenter" title="nyontek3" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/05/dsc00200-225x300.jpg" alt="nyontek3" width="225" height="300" /></p>
<address style="text-align: center;"> Tulisan ada di baligho depan gerbang ganesha </address>
<address style="text-align: center;"><strong>Anda Memasuki Kawasan Bebas Menyontek</strong> </address>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-203 aligncenter" title="nyontek1" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/05/dsc00202-300x225.jpg" alt="nyontek1" width="300" height="225" /></p>
<address style="text-align: center;">Ada di depan Aula Barat (<strong><em>Ujian Bersih, Bangga dengan Hasil Sendiri</em></strong>)</address>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-204 aligncenter" title="nyontek2" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/05/dsc00203-300x225.jpg" alt="nyontek2" width="300" height="225" /></p>
<address style="text-align: center;"> Sebuah karangan bunga duka cita di gerbang.</address>
<address style="text-align: center;"><strong><em>Turut Berduka Cita Kepada Mahasiswa Penyontek (Pencontek?)<br />
</em></strong></address>
<address style="text-align: center;"><strong><em>Kampanye UAS Bersih</em></strong><br />
</address>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-206 aligncenter" title="nyontek4" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/05/dsc00205-300x225.jpg" alt="nyontek4" width="300" height="225" /></p>
<address style="text-align: center;"><strong><em>Loe disubsidi negara, bukan buat nyontek</em></strong> (di depan Teknik Perminyakan)</address>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-207 aligncenter" title="nyontek5" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/05/dsc00206-300x225.jpg" alt="nyontek5" width="300" height="225" /></p>
<address style="text-align: center;"><strong><em>Cheaters Now = Future Corruptor </em></strong></address>
<address style="text-align: center;"><strong><em>Menyontek adalah perbuatan curang, curang = tindakan korupsi</em></strong><br />
</address>
<address style="text-align: center;">(Spanduk bertema anti nyontek di gerbang belakang)</address>
<p>Kampanye UAS tanpa nyontek pun menjadi bahan khutbah Jum&#8217;at di Salman kemarin. Khotib mengingatkan resiko kebohongan nilai hasil contekan sampai dibawa kemana-mana setelah lulus (hingga mati) serta tingginya keutamaan menuntut ilmu sehingga jangan sampai dicemari dengan kebohongan mencontek. Disampaikan bahkan Imam Al Bukhari dalam meriwayatkan hadis tidak mengambil dari orang yang berbohong bahkan &#8216;hanya&#8217; kepada binatang. Tema khutbah yang sangat spesifik khususnya kepada mahasiswa atau umumnya juga pengingat untuk berlaku jujur.</p>
<p>Terakhir agenda di kampus adalah bertemu dengan teman yang masih &#8216;tertinggal di kampus&#8217;. Maka obrolan gaya laki-laki yang <em>ngalor ngidul </em>pun menjadi tema termasuk kemajuan TA nya. Akhirnya saya cuma berpesan kepada beliau untuk segera lulus, mengingat tahun ini benar-benar deadline 7 tahun. Saya sendiri pun tidak sabar masuk ke aula hikmah untuk wisuda istri tercinta.. <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/05/23/ke-kampus-itb-anti-nyontek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
