Triandika Weblog Rotating Header Image

Weekend

Daytrip Pacitan, Pantai terbaik Jawa Timur

Momen mudik saat lebaran 2017 ke Magetan kali ini kami agendakan untuk jalan-jalan sehari ke Pacitan, masih di Jawa Timur. Magetan ke Pacitan cukup jauh, perjalanan 3.5 jam dengan melalui Madiun dan Ponorogo. Praktis minimal 7 jam habis di jalan pulang pergi memang, tapi pilihan ini yang harus dilakukan karena berbagai alasan daytrip.

Pagi berangkat jam 7 lebih, kami sampai ke tujuan pertama di Pantai Srau hampir jam 11. Pantai Srau sendiri perjalanan 30 menit ke arah barat kota Pacitan. Pantai ini masih lumayan bersih dengan pasir putih yang menawan, serta tidak terlalu ramai pengunjung (mungkin karena akses nya juga lumayan jauh dari jalan besar). Tidak lupa ombak khas pantai selatan Jawa. Cocok untuk semacam gathering keluarga, maka kami pun menggelar bekal makan siang disini.

Sibling @Srau

Setelah foto2 dan makan siang di Srau, selanjutnya kami menuju Sungai Maron sekitar 40 menit dari Pantai Srau, yang dijuluki Sungai Amazon Pacitan. Sekilas under-estimate karena tampilan Sungai Maron dari tempat parkir mobil kurang menyakinkan, tapi begitu mengarungi sungai nya, maka benar juga Sungai ini disebut Amazon. Karena warna hijau sungai dan tebing2 pinggir sungai cukup menawan. Sungai biasa yang lebih dari biasanya. Foto2 instagram pun sangat cocok di Sungai ini.

Maron River Amazon

Berikutnya kami menuju ke Pantai Klayar yang jadi semacam obyek pantai wisata ‘resmi’ di Pacitan, sekitar 30 menit dari Maron. Jika di Srau atau Maron, lebih seperti dikelola oleh masyarakat sedangkan di Klayar sudah ada gate resmi dari Dinas setempat. Pantai Klayar juga lebih ramai dengan fasilitas pendukung yang lebih baik. Tipikal pantai nya mirip dengan Srau, pasir dengan kombinasi batuan di bibir pantai nya. Tapi buat kami Srau lebih alami dibanding Klayar.

Menjelang matahari tenggelam, kami memutuskan untuk segera beranjak dari Klayar jalan pulang menuju Magetan lagi. Dengan mampir sholat dan makan malam, kami sampai di Magetan lewat jam 10 malam. Meski padat dan singkat, tapi cukup memberi pengalaman pantai indah yang masih bisa dijangkau dari Magetan. Menurut kami, landskap pantai-pantai Pacitan adalah pantai terindah di Jawa bersaing dengan Pangandaran. ūüôā

Anyway, akses Pacitan memang cukup jauh dan menantang baik dari Madiun, Trenggalek maupun dari Jogja. Buat yang belum pernah ke Pacitan, perjalanan ke Pacitan idealnya menginap minimal 1 malam di kota Pacitan nya, sehingga bisa lebih jenak dalam menikmati beragam obyek wisata khususnya pantai dan sekitarnya. Selamat mencoba!

Family Weekend: Kuala Lumpur 2017

Dalam rangka mengomptimalkan Aidan yang belum 2 tahun dan sudah punya passport dari UK, maka bulan May 2017 kami sekeluarga short weekend trip ke KL. Berangkat Jum’at after office hours, dan kembali Selasa siang.

Pertimbangan mengapa KL selain kami sudah pernah kesana sekeluarga, juga karena tiket pesawat KLM bisa dapat murah 900 ribuan pp dari Jakarta – KL, beli nya pun hanya sekitar 3 minggu sebelum berangkat. Pesawat KLM transit KL ini bertujuan ke Amsterdam, beberapa kali dipakai ketika masih tinggal di Aberdeen untuk pulang ke Indonesia.

Menginap total 4 malam, kami bagi menjadi 2 malam di hotel Ibis Budget tanpa swimming pool dan bukan di city center tapi sangat dekat akses MRT. Lalu 2 malam Hotel di Bukit Bintang dengan swimming pool dengan harga yang relatif wajar.

Pesawat KLM berangkat dari Jakarta sekitar pukul 19, sampai di KLIA sudah cukup malam sekitar jam 22 waktu Malaysia. Segala hal imigrasi dan taksi, kami bisa check di hotel lewat tengah malam.

Sabtu keesokan hari nya, kami yang rencana akan jalan ke Genting batal, karena salah lokasi berangkat Bus ke Genting. Sempat berpikir Jalan ke Malaka pun tidak jadi, meskipun sudah di Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Dan akhirnya hanya jalan di sekitar Masjid Negara, taman kupu-kupu (butterfly park) dan taman KLCC.

Minggu nya, baru kami ke Genting dengan jalan ke Pudu Raya untuk beli tiket Bus ke Genting pulang pergi (sebaiknya beli tiket pulang pergi untuk lebih pasti, terutama jika weekend yang padat penumpang sore balik ke KL nya). Genting sedang banyak pembangunan, sudah sangat berbeda dari 5 tahun lalu kami kesini.

Dengan cable car yang baru (lebih besar dan sedikit lebih panjang rute nya), serta mall yang besar menjadi tujuan akhir di Genting Highland nya. Praktis, kami hanya jalan2 di mall saja karena indoor ataupun outdoor playground nya belum selesai (hanya ada beberapa indoor playland yang kurang menarik).

Senin adalah agenda jalan-jalan di kota KL start dari Bukit Bintang dengan naik free bus Rapid KL. Ke Lapangan Merdeka, makan siang di pasar Medan Tuanku, jalan-jalan di sekitaran Bukit Bintang, ditutup dengan makan malam lalu menikmati water fountain dancing di KLCC yang cukup menawan.

Selasa pagi, menikmati berenang di hotel. Siang sebelum check out jalan belanja di Sunga Wang Plaza. Pesawat KLM terbang dari KLIA sekitar jam 14, sampai di Soekarno Hatta jam 17 an. Dengan 900an ribu pulang pergi dengan KLM, menurut kami ini weekend getaway yang cukup lumayan ke KL.

Weekend: Daytrip Wisata Ternak di Banten

Perjalanan ke Banten sekitar 4 tahun lalu lebih ke jalan-jalan menikmati pantai Banten. Sekarang kami melakukan daytrip di hari sabtu dengan tujuan untuk melihat beberapa peternakan terpadu di sekitar Cilegon, Banten. Satu dan lain hal karena kami ikut ambil bagian dalam investasi penggemukan ternak untuk persiapan hewan kurban 2017 :).

Pagi sebelum jam 7 kami meluncur dari Depok menuju ke Tol Jakarta-Merak, tempat janjian ketemuan dengan dua rekan kantor dan keluarga nya yang sama-sama investasi di proyek penggemukan itu.

Tujuan pertama di Jawara Banten Farm yang dikelola oleh seorang teman yang pernah muncul di Kick Andy yaitu, Nur Agis Aulia. Sayangnya Agis nya tidak datang, jadinya kami hanya berkeliling peternakan terpadu nya. Ada kandang kambing, domba, sapi, kelinci lalu kolam ikan, sayuran tanah, hidroponik dll nya.

Kandang Ternak

Kandang Ternak

Tidak lupa ada aula yang dijadikan sebagai ruang tamu apabila ada kunjungan dari pemerintah, pemuda dan anak-anak sekolah sebagai tempat pelatihan dan laboratorium peternakan terpadu. Saya jamin ketika anda kesini, maka anda akan jatuh cinta tentang konsep terpadu yang diusung Mas Agis, lulusan UGM dan salah satu juara pemuda pelopor nasional 2016 ini.

Di Jawara Banten Farm

Di Jawara Banten Farm

Kandang berikutnya tidak jauh dari sana, fokus ke penggemukan kambing dan domba, terutama pemulihan ketika hewan baru datang dari Jawa Tengah.

Setelah cukup kami melanjutkan ke kandang ketiga sekaligus kandang terakhir kunjungan kami, pemandu dari Ternaknesia menyebutnya ini kandang yang paling bagus karena sudah menjadi agrowisata resmi, yang dikenal dengan Vila Ternak Cikerai, yang juga dikelola oleh seorang teman, Mas Hari Bowo lulusan IPB.

Di kawasan Vila Ternak ini dibuat tematik, ada Sapi, Kambing dan Domba, Ikan, Kelinci, Ayam, Burung, perkebunan dll. Terdapat beberapa saung diantara kandang-kandang tersebut.

Respon dari pengunjung terutama keluarga dengan anak-anak sangat baik meskipun baru dibuka mulai Januari 2017, terutama saat weekend atau jika ada tour anak TK.  Disini anak-anak mencoba didekatkan kembali tentang pertanian dan peternakan dimana ini mulai hilang karena pengaruh gadget dan televisi.

Vila Ternak Cikerai

Vila Ternak Cikerai

Untuk masuk ke kawasan, normalnya dikenakan tiket masuk. Tapi karena kami berteman (hehe), jadinya kami diperbolehkan masuk hehe. Vila Ternak ini juga menawarkan makan siang yang cukup terjangkau dan enak di saung-saung nya. Terbukti banyak keluarga dan anak muda makan siang bahkan sambil rapat di di Vila Ternak ini.

Maksi di Vila Ternak

Maksi di Vila Ternak

Jam 2 siang, kami meluncur pulang kembali ke Jakarta dan Depok. Sebenarnya hanya sekitar 25 menit dari Vila Ternak melalui jalan ring road ke kawasan pantai Anyer atau Hotel Marbela Anyer atau menara pengawasan Anyer.

Namun karena rasanya sudah pengin pulang jadinya kami langsung pulang. Oiya, mampir dulu makan duren di depan pom bensin kota Cilegon sebelum perempatan PCM ke Tol Cilegon Timur. Lumayan rasa dan harga nya sesuai, sampai dibawa pulang hehe.

Semoga ke depan, profil anak-anak muda seperti Mas Agis dan Mas Bowo ini yang ikut memajukan pertanian dan peternakan yang modern seluruh Indonesia. Sebagai bentuk dukungan, anda bisa ajak keluarga atau teman berkunjung kesana, yang mungkin dilanjutkan menikmati pantai Banten.

Selamat ber-eduwisata dan berlibur :).

Weekend: Inverness dan Aviemore

Inverness adalah capital city untuk Council Highland, sebuah kawasan di ujung utara-barat UK (Aberdeen di ujung utara-timur). Dari Aberdeen menempuh perjalanan 3 jam bus atau 2.5 jam train. Karena daerah utara, maka Inverness juga dingin, seperti halnya Aberdeen. Bedanya, pada bulan Januari lalu Inverness salju lumayan tebal, sedangkan Aberdeen lebih banyak angin sehingga salju turun tidak rutin sehingga tidak banyak timbunan salju.

Family Snow

Nah, karena alasan salju lah kami jalan-jalan weekend ke Inverness. Butuh persiapan seminggu sebelumnya untuk booking transportasi dan 1 malam hotel,¬†alhamdulillah masih dapat harga ‘bersaing’. Perginya pakai train¬†Scotrail) Jum’at pagi bertiga ¬£12.8 dan pulangnya Sabtu malam (Megabus) bertiga¬†¬£3 (iya bener¬†¬£1 per orang :D).

Sengaja beda transportasi supaya bisa mencoba, meskipun paginya bisa dapat¬†¬£1 ¬†juga atau malamnya bisa dapat ¬£12.8 juga. Khusus untuk train, kami juga memesan plus bus ticket bertiga¬†tambah¬†¬£4.5 dimana pada hari jum’at nya bisa dipakai putar-putar kota Inverness sampai puas (kalau tiket harian bus¬†¬£3.5, jadi lebih murah plus bus ūüôā ).

Karena pertimbangan transportasi dalam kota itulah, maka hari pertama kami fokus ke dalam kota Inverness. Apa yang menarik disana?

1. Inverness Castle

Well, sebenarnya ini bukan castle dimana ada show room atau visitor room. Karena castle yang ada di tengah kota Inverness ini sekarang adalah kantor Polisi. Ketika saya ‘protes’ di Visitor centre, mereka malah jawab justru orang sini kalau pergi ke castle Inverness artinya bermasalah :).

Inverness Castle

2. Inverness Museum and Art Gallery

If you want to know the history of highland’s story including its culture, you definitely need to go to this museum, just behind the Inverness Castle. You will get in touch with some clothes, and gaelic language (there is about 6% Highland’s people speak gaelic now). You should also come to Inverness’s visitor centre, just next to the museum. They are very helpful. If you haven’t known what to do in Inverness, go to them. You better ask them first if you want to, for example step on ‘river ness’s small island’, cause sometimes it’s closed.

Diatas adalah review saya tentang museum tersebut di Tripadvisor. Meskipun kecil, museumnya menarik ada sentuhan personalnya.

3. Visitor Centre

I like their idea to put which countries visitors are originally from on the world map. They are helpful. You better stop by here if you don’t know yet what to do in Inverness.

Diatas adalah review saya di Tripadvisor juga, menyambung dari review tentang museum sebelumnya.

4. Market and City Centre

Belum ke sebuah kota kalau belum ke Market, katanya. Tidak sebesar market di Aberdeen (jangan bayangkan market seperti di Indonesia ya.. ūüôā ), namun ada beberapa yang jual pernik-pernik Highland disana. Nah..souvenir¬†ini yang penting kan hehe. Market persis di depan train station, dimana tidak jauh sebelah¬†train station ada bus station. Di City centre semacam Promenade juga, jadi nyaman buat jalan kaki.

5. Ice Centre, Botanical Garden, and Whin Park

Ini yang sebenarnya menarik, Ice Centre yang bisa Ice Skating di Inverness buka sepanjang tahun. Tapi..karena dipakai oleh atlet profesional maka buka untuk publiknya hanya beberapa jam dalam seminggu. Jadi mending cek website atau telepon langsung (kami ‘kecele’ karena pas tutup hihi).

Ice Centre berada di area olahraga, termasuk ada Botanical Garden disana. Masuk FREE, ini penting :D. Agak ke belakang botanical garden ada Whin Park yang juga free. Whin Park ini semacam playground untuk anak-anak. Ada sungai kecil dan dipinggi River Ness juga. Sangat cocok buat anak-anak plus orang tua bisa foto-foto :).

Lalu pada hari kedua (terakhir), agendanya adalah pagi ke Loch Ness dan siangnya ke Aviemore. Inverness kotanya kecil, sehingga dari hotel ke Bus Station kami jalan pagi, hemat dan sehat :D.

Loch Ness

Malam sebelumnya sudah beli tiket online Citylink supaya lebih murah, Inverness ke Loch Ness sekitar 30 menit. Target kami setengah hari di Loch Ness dan siangnya ke Aviemore. Di Loch Ness (Loch = Danau), terdapat Urquhart Castle yang bagus, tapi bayar. Jadi kami cukup lihat dari atas saja karena hanya sebentar disini, dan Safa asyik sekali buat Snowman (alasan supaya ga masuk castle hehe).

Safa Mini Snowman

Oiya, Loch Ness yang pintu masuk Urquhart Castle ini in the middle of nowhere. Jadi jangan berharap ada gubuk kopi atau bahkan restoran. Tempat makan terdekat 15 menit jalan kaki, terdapat Loch Ness Exhibition Centre yang bagus juga disana. Kami yang awalnya browsing mau kesana dikira dekat akhirnya tak jadi karena jauh dari berhentinya bus. Maklum ga pakai mobil :D.

Urquart Castle

Kalau ada rezeki waktu lebih, boleh juga mencoba Loch Ness Cruise, bisa mudah di browsing. Jadwalnya siang, jadi ga match juga dengan jadwal kami (baca: alasan :D). Tapi mungkin lebih tepat memang bawa mobil sendiri kesana, bisa sekalian dari Inverness-Loch Ness-Oban dan Fort William. ¬†Jika dilanjutkan bisa mutar lagi lewat Glasgow-Dundee baru Aberdeen. Sounds good.. ūüôā

Aviemore

Tujuan kami sebenarnya ingin ke Cairngorm, gunung yang juga terdapat ski-resort. Maksud utama adalah mencoba train khusus ke area ski, yakni funicular railway. Namun ternyata jadwalnya sangat mepet plus ada ketemuan dengan teman di Aviemore akhirnya kami tidak jadi mencoba funicular. Well, ini jadi justifikasi baru untuk kesana lagi nanti hehe.

Jadi kami praktis hanya makan siang dan main salju di Aviemore. Alhamdulillah ada area di depan hotel yang bisa buat seluncur, dan Safa suka sekali. Saking semangat guling-guling seluncur, akhirnya dipinjami papan seluncur oleh orang lain hehe. Tidak lupa, coba-coba buat snowman yang jadi obsesi Safa. Lumayan 1 mini snowman masing2 di Loch Ness dan Aviemore :).

Sled

Safa and Snow

Building Mini Snowman

Oiya, dari Inverness ke Aviemore kami naik train. Cuma 30 menit tapi lebih mahal karena baru beli malam sebelumnya. Di Aviemore saljunya lebih tebal dari Inverness, karena memang Aviemore adalah kota untuk naik ke kawasan Cairngorm. Kotanya kecil mirip kecamatan kalau di Indonesia, tapi mungkin karena Cairngorm jadi station nya lumayan besar.

Makanan Halal

Kalau jalan-jalan, mencari makanan halal adalah tantangan tersendiri. Namun dengan bantuan Google Map sekarang, hal itu jadi lebih mudah. Di google map Inverness, tinggal ketik Inverness halal food store maka akan akan muncul di lengkap dengan lokasinya.

Walaupun Inverness kota kecil, untungnya masih ada food stores disana. Sayangnya, sebagian besar (atau selalu) makanan halal yang ada adalah kebab atau fast food (fish/chicken and chips) dan buka nya sore-malam hari. Jadi untuk yang hanya weekend get-away seperti ini, bawa nasi cukup dari rumah bisa membantu jadi nanti tinggal beli lauknya.

Strategi yang paling akhir lainnya adalah beli makanan vegetarian atau fish di resto/store umum (seperti di Aviemore, kami makan di Resto Australia di train station). Lagi-lagi tidak ada nasi disana. Jadi kalau¬†untuk jalan berhari-hari, ada baiknya¬†membawa rice cooker sedangkan berasnya bisa beli banyak di stores umum. Maklum orang Indonesia kalau tidak makan nasi apalagi sampai berhari-hari kurang lengkap. ūüôā

Daytrip: Sukabumi dengan KA Pangrango

Niat untuk mencoba KA Pangrango Bogor-Sukabumi akhirnya kesampaian hari libur 25 Desember kemarin. Dua minggu sebelumnya adalah rencana awal, tapi karena kehabisan tiket kereta maka akhirnya pesan 7 hari sebelum hari-h melalui online ticketing. Dan ternyata benar, tiket Sukabumi di hari weekend/libur sebaiknya dibeli beberapa hari sebelumnya (bisa dipesan mulai 7 hari sebelum berangkat). Maklum, KA ini sekarang menjadi primadona baru masyarakat baik Sukabumi/Bogor ataupun wisatawan yang ingin mencoba kereta seperti kami. Kami memilih kereta paling pagi dari Bogor 7.35 dan kembali ke Bogor 15.20 dari Sukabumi.

Karena kami membeli tiket online, maka kami harus menukarkan print tiket online ke tiket asli di counter atau stasiun kereta yang online. Yang agak tidak mengenakan adalah prosedur penukaran harus dilakukan maksimum 1 jam sebelum keberangkatan. Saya telepon ke CS KAI, apakah SOP 1 jam itu artinya sistem nya tidak bisa input data lagi atau itu hanyalah prosedur pencegahan supaya penumpang tidak tergesa-gesa. Namun CS tidak bisa menjawab pertanyaan saya tersebut.

Logikanya, penumpang sudah bayar tiket jadi tidak ada alasan tidak bisa berangkat gara-gara tidak print tiket asli (ingat, KA belum seperti pesawat dengan sistem boarding). Lalu, ketentuan pembatalan perjalanan bisa dilakukan sampai 30 menit sebelum berangkat atau dianggap hangus. Terakhir, last minute pun orang masih bisa beli tiket secara manual artinya sistem masih buka. Jadi, SOP 1 jam harus print tiket asli tersebut hanya menyusahkan penumpang, contohnya jalur Bogor-Sukabumi ini.  Koq bisa?

Jadi karena 7.35 berangkat maka sesuai SOP jam 6.35 harus sudah print tiket. Nah.. KRL (Manggarai) ke Bogor sebelum jam segitu adalah KRL yang di Depok Baru (DPB) jam 5.33 sampai Bogor Jam 6.01, karena KRL berikutnya di DPB jam 6.19 sampai Bogor Jam 6.46. Jadi, saya adalah korban nya yang harus ambil KRL DPB Jam 5.33, dan ternyata banyak orang masih bisa print tiket sampai jam 7! Artinya, lain kali kalau mau mencoba rute ini, maka bisa ambil KRL DPB Jam 6.19, sehingga ada waktu santai untuk persiapan.

DPB 5.30

Oiya, KA Pangrango ini naik turun penumpang dari Stasiun Paledang Bogor, dari stasiun KRL jalan kaki ke selatan menyeberang jalan sekitar 300 meter/10 menit menyusur rel. KA Pangrango pertama berangkat dari Sukabumi jam 5.10 dan sampai Bogor jam 7.20, sedang terakhir dari Bogor jam 6.00, sangat cocok juga bagi orang Sukabumi yang ingin jalan2 1 hari di Bogor.

Stasiun Paledang ini menurut saya bukanlah stasiun, tapi halte kereta. Bagaimana disebut stasiun jika fasilitas dasar tempat duduk, toliet tidak ada. Menurut satpamnya, akan dilakukan pembenahan lagi ke depannya dan tidak mungkin menyatukan stasiun KRL dengan KA Sukabumi karena KRL sendiri sudah cukup crowded. Namun menurut saya, area terbatas dan lokasi yang mepet dengan rumah penduduk membuat St Paledang sulit dikembangkan menjadi stasiun yang layak. Sayang, padahal bisa lebih baik dengan mengembangkan stasiun KRL yang ada sehingga bisa cukup memperbaiki fasilitas 1 stasiun dan terintegrasi antara KRL dan KA Sukabumi.

St Paledang

Halte Paledang

KA Pangrango datang tepat waktu, saatnya menikmati kereta Ekonomi AC yang murah meriah (Rp 15 ribu sekali jalan).

Naek KA

Safa Tidur

KA Ekonomi AC

Waktu tempuh 2 jam 10 menit tidak begitu terasa, dan Safa pun cukup lelap tidur hehe.

View

View KA

Dan.. tiba di Sukabumi, disambut bangunan klasik stasiun yang masih gagah. Betul2 sayang kalau rute ini dulu sempat mati, dan akan lebih baik jika rute ini dilanjutkan kereta terusan ke Cianjur lalu Bandung.

We are here, Sukabumi

Safa LoL

Luar St Sukabumi

Dari stasiun, kami menuju Sela Bintana (SB), sebuah hotel***+resort yang juga dibuka untuk umum dan terdapat fasilitas umum yang cukup nyaman. Kenapa SB? Karena SB yang paling bisa dijangkau dengan rute day trip Sukabumi. Dari stasiun sekitar 30 menit, naik angkot pink kemudian ganti angkot merah sampai mentok. Sekali naik, angkot Sukabumi 3 ribu per dewasa jauh dekat.

Berikut ini beberapa fasilitas SB. Kawasan SB ini lumayan dingin, jadi cukup nyaman.

Harga tiket nya 5 ribu per orang, atau paket naik mobil hingga bus. Hati2.. sebaiknya anda meminta bukti karcis karena normalnya petugas tidak akan memberikannya (baca: dikorupsi). Bukan masalah ada plang jelas (jika tidak ada karcis, maka tidak diasuransikan), namun kesempatan korupsi harus dicegah :).

Tiket Sela Bintana

Peringatan Tiket

Kami menikmati SB dengan cara menyewa tikar (nyewa 10 ribu) sambil makan makanan kecil. Safa bermain busa sabun untuk membuat balon.Safa Balon Tiup

Tidak lupa.. foto keluarga. heheKeluarga

Setelah dhuhur, kami makan di warung yang banyak ada di sebelah kiri pintu gerbang SB. Jam 2, kami meluncur ke bawah menuju tujuan berikutnya, Pabrik Moci.

Warung Makan SB

Jika anda ingin ke pabrik Moci seperti kami, sebaiknya turun dari kawasan SB paling lambat jam 13.30, sehingga cukup waktu memilih-milih Moci dan mengejar angkot ke stasiun. Dan karena keterbatasan waktu tersebut, kami ‘gagal’ mendapatkan moci yang paling top di Sukabumi, Moci Lampion. Kawasan pabrik moci ini, adalah berupa jalanan masuk pemukiman yang katanya total ada 5 pabrik moci di dalamnya.

Dari SB ke Pabrik Moci (30 menit), naik angkot merah lagi kemudian pindah angkot kuning, jangan lupa bilang ke Pabrik Moci. Untuk ke stasiun, naik kuning lagi arah yang sama terus pindah ke angkot pink. Dari pabrik mocil ke stasiun sekitar 15 menit. Jangan lupa selalu sebutkan tujuan sehingga sopir angkot akan mudah berhenti dan mengoper ke angkot berikutnya.

Pabrik Moci

Moci Store

Safa Angkot

Sampai kembali ke stasiun Sukabumi. Oiya, jangan lupa saat print tiket pagi di Paledang sekalian untuk tiket pulang nya sehingga begitu di stasiun Sukabumi tidak tergesa-gesa. KA Pangrango dari Bogor tiba jam 15.15 dan kami pun siap untuk naik kembali.

Sudah menjadi skenario, untuk pulang kami naik eksekutif (Rp 35 ribu) sehingga lengkap pengalamannya. Hmm.. harga memang ga bohong, nyaman bukan? hehe. Dan Safa juga menikmati nya sebelum terleap tidur lagi.

Naik KA Eks

KA Nyaman

KA Eksekutif

Ada yang bilang toilet kereta jorok? Saya menilai sekarang jauh lebih baik dari dulu, yang ekonomi tidak kotor dan yang eksekutif cukup bersih.

Oiya, satu saran lagi perihal pemilihan kursi terutama jika pesan melalui online ticketing. Kursi KA Ekonomi saling berhadapan, misal kursi nomor 1 berhadapan dengan 2, no 3 dengan 4 dst. Tampilan online, 3 seri CDE 1 tempat duduk dan 2 seri AB 1 tempat duduk. Padahal realitanya, 3 seri ABC 1 tempat duduk, 2 seri DE 1 tempat duduk. Sedang untuk KA Eksekutif, urutan seri nya di gerbong ABDC (artinya A dan C di jendela), bukan ABCD seperti tampak online. Kedua hal susunan kursi ini harus diperbaiki oleh KAI di tampilan online nya.

Akhirnya Jam 17.35 kami sampai di Paledang, dan menyeberang jalan menuju stasiun KRL menuju Depok. KRL berangkat dari Bogor jam 18 dan kami sampai di rumah Jam 19, Alhamdulillah.

Menyeberang Jalan Bogor

Ternyata cukup banyak orang yang melakukan day trip, karena banyak bertemu orang yang sama dari pagi hingga sore. Orang-orang mulai menikmati ke  Sukabumi dengan KA, karena jika perjalanan darat konon bisa sampai 4-5 jam. Apalagi jika bersama anak-anak, maka rute Sukabumi ini jadi rute KA antar kota non KRL yang nyaman, plus cukup 1 hari saja. Jadi, selamat mencoba..

Get Adobe Flash player