Triandika Weblog Rotating Header Image

Weekend

Weekend: Daytrip Wisata Ternak di Banten

Perjalanan ke Banten sekitar 4 tahun lalu lebih ke jalan-jalan menikmati pantai Banten. Sekarang kami melakukan daytrip di hari sabtu dengan tujuan untuk melihat beberapa peternakan terpadu di sekitar Cilegon, Banten. Satu dan lain hal karena kami ikut ambil bagian dalam investasi penggemukan ternak untuk persiapan hewan kurban 2017 :).

Pagi sebelum jam 7 kami meluncur dari Depok menuju ke Tol Jakarta-Merak, tempat janjian ketemuan dengan dua rekan kantor dan keluarga nya yang sama-sama investasi di proyek penggemukan itu.

Tujuan pertama di Jawara Banten Farm yang dikelola oleh seorang teman yang pernah muncul di Kick Andy yaitu, Nur Agis Aulia. Sayangnya Agis nya tidak datang, jadinya kami hanya berkeliling peternakan terpadu nya. Ada kandang kambing, domba, sapi, kelinci lalu kolam ikan, sayuran tanah, hidroponik dll nya.

Kandang Ternak

Kandang Ternak

Tidak lupa ada aula yang dijadikan sebagai ruang tamu apabila ada kunjungan dari pemerintah, pemuda dan anak-anak sekolah sebagai tempat pelatihan dan laboratorium peternakan terpadu. Saya jamin ketika anda kesini, maka anda akan jatuh cinta tentang konsep terpadu yang diusung Mas Agis, lulusan UGM dan salah satu juara pemuda pelopor nasional 2016 ini.

Di Jawara Banten Farm

Di Jawara Banten Farm

Kandang berikutnya tidak jauh dari sana, fokus ke penggemukan kambing dan domba, terutama pemulihan ketika hewan baru datang dari Jawa Tengah.

Setelah cukup kami melanjutkan ke kandang ketiga sekaligus kandang terakhir kunjungan kami, pemandu dari Ternaknesia menyebutnya ini kandang yang paling bagus karena sudah menjadi agrowisata resmi, yang dikenal dengan Vila Ternak Cikerai, yang juga dikelola oleh seorang teman, Mas Hari Bowo lulusan IPB.

Di kawasan Vila Ternak ini dibuat tematik, ada Sapi, Kambing dan Domba, Ikan, Kelinci, Ayam, Burung, perkebunan dll. Terdapat beberapa saung diantara kandang-kandang tersebut.

Respon dari pengunjung terutama keluarga dengan anak-anak sangat baik meskipun baru dibuka mulai Januari 2017, terutama saat weekend atau jika ada tour anak TK.  Disini anak-anak mencoba didekatkan kembali tentang pertanian dan peternakan dimana ini mulai hilang karena pengaruh gadget dan televisi.

Vila Ternak Cikerai

Vila Ternak Cikerai

Untuk masuk ke kawasan, normalnya dikenakan tiket masuk. Tapi karena kami berteman (hehe), jadinya kami diperbolehkan masuk hehe. Vila Ternak ini juga menawarkan makan siang yang cukup terjangkau dan enak di saung-saung nya. Terbukti banyak keluarga dan anak muda makan siang bahkan sambil rapat di di Vila Ternak ini.

Maksi di Vila Ternak

Maksi di Vila Ternak

Jam 2 siang, kami meluncur pulang kembali ke Jakarta dan Depok. Sebenarnya hanya sekitar 25 menit dari Vila Ternak melalui jalan ring road ke kawasan pantai Anyer atau Hotel Marbela Anyer atau menara pengawasan Anyer.

Namun karena rasanya sudah pengin pulang jadinya kami langsung pulang. Oiya, mampir dulu makan duren di depan pom bensin kota Cilegon sebelum perempatan PCM ke Tol Cilegon Timur. Lumayan rasa dan harga nya sesuai, sampai dibawa pulang hehe.

Semoga ke depan, profil anak-anak muda seperti Mas Agis dan Mas Bowo ini yang ikut memajukan pertanian dan peternakan yang modern seluruh Indonesia. Sebagai bentuk dukungan, anda bisa ajak keluarga atau teman berkunjung kesana, yang mungkin dilanjutkan menikmati pantai Banten.

Selamat ber-eduwisata dan berlibur :).

Weekend: Inverness dan Aviemore

Inverness adalah capital city untuk Council Highland, sebuah kawasan di ujung utara-barat UK (Aberdeen di ujung utara-timur). Dari Aberdeen menempuh perjalanan 3 jam bus atau 2.5 jam train. Karena daerah utara, maka Inverness juga dingin, seperti halnya Aberdeen. Bedanya, pada bulan Januari lalu Inverness salju lumayan tebal, sedangkan Aberdeen lebih banyak angin sehingga salju turun tidak rutin sehingga tidak banyak timbunan salju.

Family Snow

Nah, karena alasan salju lah kami jalan-jalan weekend ke Inverness. Butuh persiapan seminggu sebelumnya untuk booking transportasi dan 1 malam hotel, alhamdulillah masih dapat harga ‘bersaing’. Perginya pakai train Scotrail) Jum’at pagi bertiga £12.8 dan pulangnya Sabtu malam (Megabus) bertiga £3 (iya bener £1 per orang :D).

Sengaja beda transportasi supaya bisa mencoba, meskipun paginya bisa dapat £1  juga atau malamnya bisa dapat £12.8 juga. Khusus untuk train, kami juga memesan plus bus ticket bertiga tambah £4.5 dimana pada hari jum’at nya bisa dipakai putar-putar kota Inverness sampai puas (kalau tiket harian bus £3.5, jadi lebih murah plus bus 🙂 ).

Karena pertimbangan transportasi dalam kota itulah, maka hari pertama kami fokus ke dalam kota Inverness. Apa yang menarik disana?

1. Inverness Castle

Well, sebenarnya ini bukan castle dimana ada show room atau visitor room. Karena castle yang ada di tengah kota Inverness ini sekarang adalah kantor Polisi. Ketika saya ‘protes’ di Visitor centre, mereka malah jawab justru orang sini kalau pergi ke castle Inverness artinya bermasalah :).

Inverness Castle

2. Inverness Museum and Art Gallery

If you want to know the history of highland’s story including its culture, you definitely need to go to this museum, just behind the Inverness Castle. You will get in touch with some clothes, and gaelic language (there is about 6% Highland’s people speak gaelic now). You should also come to Inverness’s visitor centre, just next to the museum. They are very helpful. If you haven’t known what to do in Inverness, go to them. You better ask them first if you want to, for example step on ‘river ness’s small island’, cause sometimes it’s closed.

Diatas adalah review saya tentang museum tersebut di Tripadvisor. Meskipun kecil, museumnya menarik ada sentuhan personalnya.

3. Visitor Centre

I like their idea to put which countries visitors are originally from on the world map. They are helpful. You better stop by here if you don’t know yet what to do in Inverness.

Diatas adalah review saya di Tripadvisor juga, menyambung dari review tentang museum sebelumnya.

4. Market and City Centre

Belum ke sebuah kota kalau belum ke Market, katanya. Tidak sebesar market di Aberdeen (jangan bayangkan market seperti di Indonesia ya.. 🙂 ), namun ada beberapa yang jual pernik-pernik Highland disana. Nah..souvenir ini yang penting kan hehe. Market persis di depan train station, dimana tidak jauh sebelah train station ada bus station. Di City centre semacam Promenade juga, jadi nyaman buat jalan kaki.

5. Ice Centre, Botanical Garden, and Whin Park

Ini yang sebenarnya menarik, Ice Centre yang bisa Ice Skating di Inverness buka sepanjang tahun. Tapi..karena dipakai oleh atlet profesional maka buka untuk publiknya hanya beberapa jam dalam seminggu. Jadi mending cek website atau telepon langsung (kami ‘kecele’ karena pas tutup hihi).

Ice Centre berada di area olahraga, termasuk ada Botanical Garden disana. Masuk FREE, ini penting :D. Agak ke belakang botanical garden ada Whin Park yang juga free. Whin Park ini semacam playground untuk anak-anak. Ada sungai kecil dan dipinggi River Ness juga. Sangat cocok buat anak-anak plus orang tua bisa foto-foto :).

Lalu pada hari kedua (terakhir), agendanya adalah pagi ke Loch Ness dan siangnya ke Aviemore. Inverness kotanya kecil, sehingga dari hotel ke Bus Station kami jalan pagi, hemat dan sehat :D.

Loch Ness

Malam sebelumnya sudah beli tiket online Citylink supaya lebih murah, Inverness ke Loch Ness sekitar 30 menit. Target kami setengah hari di Loch Ness dan siangnya ke Aviemore. Di Loch Ness (Loch = Danau), terdapat Urquhart Castle yang bagus, tapi bayar. Jadi kami cukup lihat dari atas saja karena hanya sebentar disini, dan Safa asyik sekali buat Snowman (alasan supaya ga masuk castle hehe).

Safa Mini Snowman

Oiya, Loch Ness yang pintu masuk Urquhart Castle ini in the middle of nowhere. Jadi jangan berharap ada gubuk kopi atau bahkan restoran. Tempat makan terdekat 15 menit jalan kaki, terdapat Loch Ness Exhibition Centre yang bagus juga disana. Kami yang awalnya browsing mau kesana dikira dekat akhirnya tak jadi karena jauh dari berhentinya bus. Maklum ga pakai mobil :D.

Urquart Castle

Kalau ada rezeki waktu lebih, boleh juga mencoba Loch Ness Cruise, bisa mudah di browsing. Jadwalnya siang, jadi ga match juga dengan jadwal kami (baca: alasan :D). Tapi mungkin lebih tepat memang bawa mobil sendiri kesana, bisa sekalian dari Inverness-Loch Ness-Oban dan Fort William.  Jika dilanjutkan bisa mutar lagi lewat Glasgow-Dundee baru Aberdeen. Sounds good.. 🙂

Aviemore

Tujuan kami sebenarnya ingin ke Cairngorm, gunung yang juga terdapat ski-resort. Maksud utama adalah mencoba train khusus ke area ski, yakni funicular railway. Namun ternyata jadwalnya sangat mepet plus ada ketemuan dengan teman di Aviemore akhirnya kami tidak jadi mencoba funicular. Well, ini jadi justifikasi baru untuk kesana lagi nanti hehe.

Jadi kami praktis hanya makan siang dan main salju di Aviemore. Alhamdulillah ada area di depan hotel yang bisa buat seluncur, dan Safa suka sekali. Saking semangat guling-guling seluncur, akhirnya dipinjami papan seluncur oleh orang lain hehe. Tidak lupa, coba-coba buat snowman yang jadi obsesi Safa. Lumayan 1 mini snowman masing2 di Loch Ness dan Aviemore :).

Sled

Safa and Snow

Building Mini Snowman

Oiya, dari Inverness ke Aviemore kami naik train. Cuma 30 menit tapi lebih mahal karena baru beli malam sebelumnya. Di Aviemore saljunya lebih tebal dari Inverness, karena memang Aviemore adalah kota untuk naik ke kawasan Cairngorm. Kotanya kecil mirip kecamatan kalau di Indonesia, tapi mungkin karena Cairngorm jadi station nya lumayan besar.

Makanan Halal

Kalau jalan-jalan, mencari makanan halal adalah tantangan tersendiri. Namun dengan bantuan Google Map sekarang, hal itu jadi lebih mudah. Di google map Inverness, tinggal ketik Inverness halal food store maka akan akan muncul di lengkap dengan lokasinya.

Walaupun Inverness kota kecil, untungnya masih ada food stores disana. Sayangnya, sebagian besar (atau selalu) makanan halal yang ada adalah kebab atau fast food (fish/chicken and chips) dan buka nya sore-malam hari. Jadi untuk yang hanya weekend get-away seperti ini, bawa nasi cukup dari rumah bisa membantu jadi nanti tinggal beli lauknya.

Strategi yang paling akhir lainnya adalah beli makanan vegetarian atau fish di resto/store umum (seperti di Aviemore, kami makan di Resto Australia di train station). Lagi-lagi tidak ada nasi disana. Jadi kalau untuk jalan berhari-hari, ada baiknya membawa rice cooker sedangkan berasnya bisa beli banyak di stores umum. Maklum orang Indonesia kalau tidak makan nasi apalagi sampai berhari-hari kurang lengkap. 🙂

Daytrip: Sukabumi dengan KA Pangrango

Niat untuk mencoba KA Pangrango Bogor-Sukabumi akhirnya kesampaian hari libur 25 Desember kemarin. Dua minggu sebelumnya adalah rencana awal, tapi karena kehabisan tiket kereta maka akhirnya pesan 7 hari sebelum hari-h melalui online ticketing. Dan ternyata benar, tiket Sukabumi di hari weekend/libur sebaiknya dibeli beberapa hari sebelumnya (bisa dipesan mulai 7 hari sebelum berangkat). Maklum, KA ini sekarang menjadi primadona baru masyarakat baik Sukabumi/Bogor ataupun wisatawan yang ingin mencoba kereta seperti kami. Kami memilih kereta paling pagi dari Bogor 7.35 dan kembali ke Bogor 15.20 dari Sukabumi.

Karena kami membeli tiket online, maka kami harus menukarkan print tiket online ke tiket asli di counter atau stasiun kereta yang online. Yang agak tidak mengenakan adalah prosedur penukaran harus dilakukan maksimum 1 jam sebelum keberangkatan. Saya telepon ke CS KAI, apakah SOP 1 jam itu artinya sistem nya tidak bisa input data lagi atau itu hanyalah prosedur pencegahan supaya penumpang tidak tergesa-gesa. Namun CS tidak bisa menjawab pertanyaan saya tersebut.

Logikanya, penumpang sudah bayar tiket jadi tidak ada alasan tidak bisa berangkat gara-gara tidak print tiket asli (ingat, KA belum seperti pesawat dengan sistem boarding). Lalu, ketentuan pembatalan perjalanan bisa dilakukan sampai 30 menit sebelum berangkat atau dianggap hangus. Terakhir, last minute pun orang masih bisa beli tiket secara manual artinya sistem masih buka. Jadi, SOP 1 jam harus print tiket asli tersebut hanya menyusahkan penumpang, contohnya jalur Bogor-Sukabumi ini.  Koq bisa?

Jadi karena 7.35 berangkat maka sesuai SOP jam 6.35 harus sudah print tiket. Nah.. KRL (Manggarai) ke Bogor sebelum jam segitu adalah KRL yang di Depok Baru (DPB) jam 5.33 sampai Bogor Jam 6.01, karena KRL berikutnya di DPB jam 6.19 sampai Bogor Jam 6.46. Jadi, saya adalah korban nya yang harus ambil KRL DPB Jam 5.33, dan ternyata banyak orang masih bisa print tiket sampai jam 7! Artinya, lain kali kalau mau mencoba rute ini, maka bisa ambil KRL DPB Jam 6.19, sehingga ada waktu santai untuk persiapan.

DPB 5.30

Oiya, KA Pangrango ini naik turun penumpang dari Stasiun Paledang Bogor, dari stasiun KRL jalan kaki ke selatan menyeberang jalan sekitar 300 meter/10 menit menyusur rel. KA Pangrango pertama berangkat dari Sukabumi jam 5.10 dan sampai Bogor jam 7.20, sedang terakhir dari Bogor jam 6.00, sangat cocok juga bagi orang Sukabumi yang ingin jalan2 1 hari di Bogor.

Stasiun Paledang ini menurut saya bukanlah stasiun, tapi halte kereta. Bagaimana disebut stasiun jika fasilitas dasar tempat duduk, toliet tidak ada. Menurut satpamnya, akan dilakukan pembenahan lagi ke depannya dan tidak mungkin menyatukan stasiun KRL dengan KA Sukabumi karena KRL sendiri sudah cukup crowded. Namun menurut saya, area terbatas dan lokasi yang mepet dengan rumah penduduk membuat St Paledang sulit dikembangkan menjadi stasiun yang layak. Sayang, padahal bisa lebih baik dengan mengembangkan stasiun KRL yang ada sehingga bisa cukup memperbaiki fasilitas 1 stasiun dan terintegrasi antara KRL dan KA Sukabumi.

St Paledang

Halte Paledang

KA Pangrango datang tepat waktu, saatnya menikmati kereta Ekonomi AC yang murah meriah (Rp 15 ribu sekali jalan).

Naek KA

Safa Tidur

KA Ekonomi AC

Waktu tempuh 2 jam 10 menit tidak begitu terasa, dan Safa pun cukup lelap tidur hehe.

View

View KA

Dan.. tiba di Sukabumi, disambut bangunan klasik stasiun yang masih gagah. Betul2 sayang kalau rute ini dulu sempat mati, dan akan lebih baik jika rute ini dilanjutkan kereta terusan ke Cianjur lalu Bandung.

We are here, Sukabumi

Safa LoL

Luar St Sukabumi

Dari stasiun, kami menuju Sela Bintana (SB), sebuah hotel***+resort yang juga dibuka untuk umum dan terdapat fasilitas umum yang cukup nyaman. Kenapa SB? Karena SB yang paling bisa dijangkau dengan rute day trip Sukabumi. Dari stasiun sekitar 30 menit, naik angkot pink kemudian ganti angkot merah sampai mentok. Sekali naik, angkot Sukabumi 3 ribu per dewasa jauh dekat.

Berikut ini beberapa fasilitas SB. Kawasan SB ini lumayan dingin, jadi cukup nyaman.

Harga tiket nya 5 ribu per orang, atau paket naik mobil hingga bus. Hati2.. sebaiknya anda meminta bukti karcis karena normalnya petugas tidak akan memberikannya (baca: dikorupsi). Bukan masalah ada plang jelas (jika tidak ada karcis, maka tidak diasuransikan), namun kesempatan korupsi harus dicegah :).

Tiket Sela Bintana

Peringatan Tiket

Kami menikmati SB dengan cara menyewa tikar (nyewa 10 ribu) sambil makan makanan kecil. Safa bermain busa sabun untuk membuat balon.Safa Balon Tiup

Tidak lupa.. foto keluarga. heheKeluarga

Setelah dhuhur, kami makan di warung yang banyak ada di sebelah kiri pintu gerbang SB. Jam 2, kami meluncur ke bawah menuju tujuan berikutnya, Pabrik Moci.

Warung Makan SB

Jika anda ingin ke pabrik Moci seperti kami, sebaiknya turun dari kawasan SB paling lambat jam 13.30, sehingga cukup waktu memilih-milih Moci dan mengejar angkot ke stasiun. Dan karena keterbatasan waktu tersebut, kami ‘gagal’ mendapatkan moci yang paling top di Sukabumi, Moci Lampion. Kawasan pabrik moci ini, adalah berupa jalanan masuk pemukiman yang katanya total ada 5 pabrik moci di dalamnya.

Dari SB ke Pabrik Moci (30 menit), naik angkot merah lagi kemudian pindah angkot kuning, jangan lupa bilang ke Pabrik Moci. Untuk ke stasiun, naik kuning lagi arah yang sama terus pindah ke angkot pink. Dari pabrik mocil ke stasiun sekitar 15 menit. Jangan lupa selalu sebutkan tujuan sehingga sopir angkot akan mudah berhenti dan mengoper ke angkot berikutnya.

Pabrik Moci

Moci Store

Safa Angkot

Sampai kembali ke stasiun Sukabumi. Oiya, jangan lupa saat print tiket pagi di Paledang sekalian untuk tiket pulang nya sehingga begitu di stasiun Sukabumi tidak tergesa-gesa. KA Pangrango dari Bogor tiba jam 15.15 dan kami pun siap untuk naik kembali.

Sudah menjadi skenario, untuk pulang kami naik eksekutif (Rp 35 ribu) sehingga lengkap pengalamannya. Hmm.. harga memang ga bohong, nyaman bukan? hehe. Dan Safa juga menikmati nya sebelum terleap tidur lagi.

Naik KA Eks

KA Nyaman

KA Eksekutif

Ada yang bilang toilet kereta jorok? Saya menilai sekarang jauh lebih baik dari dulu, yang ekonomi tidak kotor dan yang eksekutif cukup bersih.

Oiya, satu saran lagi perihal pemilihan kursi terutama jika pesan melalui online ticketing. Kursi KA Ekonomi saling berhadapan, misal kursi nomor 1 berhadapan dengan 2, no 3 dengan 4 dst. Tampilan online, 3 seri CDE 1 tempat duduk dan 2 seri AB 1 tempat duduk. Padahal realitanya, 3 seri ABC 1 tempat duduk, 2 seri DE 1 tempat duduk. Sedang untuk KA Eksekutif, urutan seri nya di gerbong ABDC (artinya A dan C di jendela), bukan ABCD seperti tampak online. Kedua hal susunan kursi ini harus diperbaiki oleh KAI di tampilan online nya.

Akhirnya Jam 17.35 kami sampai di Paledang, dan menyeberang jalan menuju stasiun KRL menuju Depok. KRL berangkat dari Bogor jam 18 dan kami sampai di rumah Jam 19, Alhamdulillah.

Menyeberang Jalan Bogor

Ternyata cukup banyak orang yang melakukan day trip, karena banyak bertemu orang yang sama dari pagi hingga sore. Orang-orang mulai menikmati ke  Sukabumi dengan KA, karena jika perjalanan darat konon bisa sampai 4-5 jam. Apalagi jika bersama anak-anak, maka rute Sukabumi ini jadi rute KA antar kota non KRL yang nyaman, plus cukup 1 hari saja. Jadi, selamat mencoba..

Weekend: Gunung Pancar & Sentul Paradise Park

Gara-gara ada liputan di National Geografic Traveller edisi Bulan Mei 2013 tentang aktivitas weekend sekitar Jakarta yakni di air panas Gunung Pancar dan Sentul Paradise Park, maka minggu lalu kami mencoba kesana. Kalau mengikuti petunjuk arah dari NetGeo tersebut, sungguh sangat tidak membantu karena kurang jelas. Untung kami bisa memanfaatkan GPS, namun hanya air panas Gunung Pancar Sentul yang bisa muncul, sedangkan air terjun bidadari tidak belum ada.

Jam 8 berangkat dari rumah dengan rute jalan baru pemda Cibinong kemudian naik tol sekali karena keluar Sentul selatan (Sentul City). Namun petunjuk GPS ternyata lebih memilih tidak naik tol (lumayan ngirit hehe). Namun ternyata jalannya 20% kecil, 30% aspal bolong2 dan 10% batu-batu. Ternyata jalan menuju air panas Gunung Pancar melintasi gerbang Jungleland, Sentul City (jangan masuk gerbang, lewat ke kanan sampai +/- 3 Km).  Yang awalnya menyesal (kenapa ga lewat sentul) jadi baik-baik aja, karena jalan utama dari sentul city ke Jungleland ternyata belum ada di GPS.

Jam 10 kami sampai di Kawasan Wana Wisata Gunung Pancar yang dikelola oleh PT . Bayar tanpa tiket Rp 10rb dengan total 3 dewasa+1 anak + mobil (seharusnya sesuai tarif tertera Rp 8rb niih). Di wana wisata ini adalah lokasi track downhill yang sangat terkenal, karena juga menjadi venue Sea Games tahun 2012 lalu. Cukup adem suasana hutan dan banyak yang hanya leyeh-leyeh atau makan di pinggir jalan menikmati suasana hutan sesekali ada sepeda downhill terlihat.

Langsung menuju gerbang air panas, bayar lagi Rp 25rb (kali ini ada tiket). Begitu sampai, penilaian pun jatuh. Secara NatGeo sampai meliput, ternyata jauh lebih buruk dari Guci atau Baturaden. Bahkan dengan air panas di Serpong yang sempat kami kunjungi tahun lalu, Gn Pancar ini tidak lebih baik. Dari sisi fasilitas permainan anak, di Serpong jauh lebih banyak. Praktis di Gn Pancar hanya ada 2 kolam umum air panas (laki2 dan perempuan) serta kamar2 berendam yang disewakan Rp 15rb per 30 menit.

Berikut ini beberapa foto2nya. Sayang juga sudah bayar Rp 35rb tapi ga nyoba berendam hehe.

DSC05716

DSC05721

Karena kurang nyaman dengan area yang tidak luas dan masih menunjukan jam 11.30, maka agenda makan siang digeser ke tujuan berikutnya yang juga diliput NatGeo, Sentul Paradise Park. Tanya-tanya satpam di Gn Pancar, lokasi Air Terjun Bidadari tersebut mengambil arah ke desa Bojongkoneng (desa ini bisa dilihat di GPS, salah satu yang kelihatan SDN 2 atau 3), dari Sentul City ambil pertigaan Pos Aju Koramil. Kalau anda dari Jakarta, itu sebelum Masjid. Karena kami dari Jungleland, maka setelah Masjid Sentul City.

Jam 12.30 sudah masuk Gerbang Sentul Paradise Park (SPP), harga tiket 25rb per orang dewasa dan Rp 10rb mobil. Jalan masuk ke SPP ini cukup jauh dari jalan utama aspal, sekitar 1 Km ke gerbang dan 1 Km dari Gerbang ke lokasi wisata, dan kondisi jalan batu-batu. Bagi mobil yang kurang sehat dan cukup tua (serta kurang skill :D), tidak disarankan ke sini karena terjalnya tanjakan dengan jalan batu2 lepas yang membuat gigitan ban kurang kuat. Bisa dilihat, kondisi jalan dari gerbang seperti di bawah.

Sebaiknya jangan mengambil lahan parkir yang diatas, alias terus saja kalau ada tulisan parkir karena ada tempat parkir di bawah juga. Namun, view dari parkir atas itu sangat bagus, langsung bisa melihat semua obyek dalam satu waktu (plus untuk foto2 pribadi oke hehe).

DSC05727

View dari parkir atas

DSC05738x

View dari parkir bawah (panoramic)

Jadi cukup lumayan wisata air terjun dan pemandian ini. Lumayan mengobati kekecewaaan akibat air panas sebelumnya, pangsa pasarnya pun banyak mobil > 200 jt yang datang kesana. Sayangnya fasilitas ganti baju sedikit, dan bale-bale untuk duduk2 atau makan harus bayar Rp 30rb/2 jam. Akhirnya kami pun makan siang di mobil dengan menurunkan jok belakang + tengah, lumayan hehe. DSC05734 - x

Setelah makan siang dan tidak terlalu terik, kami baru turun ke bawah untuk menikmati air mancur, air terjun dan kolam nya.

DSC05766DSC05760

DSC05749

Jam 3, kami keluar dari area SPP Dan benar, beberapa kendaraan cukup kesulitan naik menuju jalan aspal. Lewat Sentul City, masuk tol sentul selatan, keluar sentul utara (sirkuit sentul), langsung menuju jalan pemda cibinong dan lewat GDC. Jam 4, kami sudah sampai di rumah.

Bagaimana dengan jarak? Dari rumah ke Gn Pancar (via jalur non-tol) sekitar 45 Km. Lalu Gn Pancar-SPP sekitar 15 Km. Pulang SPP- rumah lewat tol juga sekitar 45 Km. Cukup dekat dan mudah terjangkau. Selain itu dari sisi harga dan obyek yang ditawarkan, value for money cukup bagus. Kecuali air panas Gn Pancar,  walaupun masih bisa diterima, dengan bersepeda atau lebih menikmati suasana hutan yang sejuk. Dan efektifnya anda bisa mengunjungi kedua obyek ini dalam satu hari.

Beach Tour: Tanjung Lesung & Carita Anyer

Memang perjalanan tour kali ini tidaklah sepanjang mountain tour akhir 2010 lalu, namun sebenarnya beach tour ini melengkapi koleksi pantai selatan jawa barat yang sudah kami jelajahi (tapi belum tidak semua ditulis di blog hehe), yakni Pelabuhan Ratu 2011, Pangandaran 2009 dan 2012. Beach Tour ini kami lakukan di sebuah long weekend bulan Maret 2013.

Anyer sendiri pernah kami kunjungi tahun 2009 sebelum Safa lahir saat ada acara kantor. Oleh karenanya, Carita yang lebih timur akan menjadi tempat menginap karena Tanjung Lesung sangat ‘tidak masuk budget’ karena lebih berbentuk resort. Namun, rute perjalanannya, kami  akan mengunjungi Tanjung Lesung dan sekitarnya, dan menjelang makan siang akan menuju Carita.

Berangkat jam 5.30 pagi, kami langsung meluncur menuju Tanjung Lesung dengan mengambil jalur Pandeglang. Keluar Tol Serang Timur, jam masih Jam 7. Secara jarak, Depok-Tanjung Lesung via Pandeglang sekitar 210 Km seperti yang ditunjukan Google Map dibawah.

Depok-Tjg Lesung

Jalur Serang-Pandeglang-Tanjung Lesung secara umum cukup baik, hanya beberapa spot terutama antara Pandeglang-Tanjung Lesung di area pegununganyang jalannya berlubang. Jika menyukai Durian, maka setelah keluar kota serang ada beberapa Depot Durian Jatuhan yang bisa menjadi pilihan. Karena kami mengejar waktu jam 9 sampai Tanjung Lesung supaya pantai tidak terlalu panas (plus konon durian disitu > 75 ribu :D), maka menjadi catatan saja untuk trip berikutnya.

Jam 9 kami sampai di lokasi komplek Resort Tanjung Lesung. Ada gerbang yang dijaga satpam dan baru dibuka jam 7 pagi untuk pengunjung dari luar yang akan diberikan Guest Pass. Di dalam komplek resort jalan sangat mulus dan sudah siap dikembangkan menjadi 2 lajur di masa depan. Masih ada cukup banyak sawah di komplek tersebut. Konon di area komplek ini nantinya akan dibangun bandara kecil seperti bandara di Pangandaran. Belakangan diketahui bahwa pengelola komplek tersebut sama dengan pengelola kawasan industri Jababeka di Cikarang, Bekasi.

Komplek? Ya..Tanjung Lesung adalah komplek tertutup yang terdiri atas beberapa hotel berlokasi di bibir pantai. Pengunjung non-tamu hotel memang masih mungkin menikmati pantai non-hotel, namun pantai di hotel tentu lebih bersih dan menarik. Sedangkan pantai di luar komplek ada sebelum masuk ke komplek tersebut.

Kami langsung menuju ke paling ujung  jalan dari komplek menuju ke Pantai Badur. Dengan membayar Rp 20 ribu (1 mobil) dan Rp 5 rb/orang (bonus teh botol, jadi net nya Rp 3rb lah ya) yang tampak bukan dari pengelola Tanjung Lesung, tapi semacam ‘Karang Taruna’ desa. Tapi cukup ramah, dan terkesan tidak memalak karena ada karcisnya. Buat satpam gerbang Tanjung Lesung sendiri, sebenarnya tidak ada biaya masuk namun seringkali ada yang meminta dengan dalih sukarela (tanpa kercis).

Apa yang ada di Pantai Bodur? Berikut snapshots nya.

DSC05056

Untung kami tidak disini sekitar jam 9.30, jadi belum terlalu panas, sepi dan cocok untuk foto-foto. Konon kalau sore lebih ramai, banyak yang berenang di lokasi ini. In overall, pantainya memang bukan 100% pasir putih karena ada bagian2 batunya, namun cukup eksotis apalagi bila ketemu beberapa spot seperti bangku yang tampak yang menarik seperti di bawah (bayangkan dengan sudut yang tepat, di bangku tersebut ada orang yang memandang pantai, atau pasangan yang duduk saling memandang hehe).

DSC05052

Berikutnya, kami menuju ke Beach Club, dimana pengunjung yang tidak tinggal di hotel harus membayar Rp 75 rb/mobil untuk bisa masuk (sudah jauh-jauh kesini, kami masuk juga lah). Apa yang ada di beach club ada fasilitas beach sports macam boat, banana, snorkling dll dan juga tenda untuk bermalam, serta sebuah dermaga. Secara umum di beach club ini mahal-mahal biaya sewa alat olahraganya, pun dari awal kami hanya ingin membunuh rasa ingin tahu dan (pastinya) foto-foto. Kalau mau lebih murah dan optimal, bawa alat renang sendiri karena pantai disini lebih nyaman berenang dibanding di Badur tadi. Fasilitas mandi, mushola dll juga jauh lebih bagus (baca: ada harga ada rupa).

DSC05103

DSC05105-e

DSC05127

Setelah Dhuhur, kami langsung menuju ke kawasan Pantai Carita Labuan sekitar 50 Km dari Tanjung Lesung. Sambil jalan sembari browsing Kuliner di Labuan dan pilihan jatuh ke RM. Ibu Entin. Lokasi sekitar 1 Km dari pertigaan dari Labuan ke Lanjung Lesung atau Carita. Luar biasa mantap dan relatif lebih murah dibanding di Jakarta. Menu yang terkenal dari Ibu Entin ini adalah Otak-otak (Rp 1500 per bungkus) dan udangnya. Mantap lah pokoknya..hehe.

DSC05138

Sekitar jam 2.30 kami sampai di kawasan pantai Carita. Ayah safa sudah pernah menginap disini tahun 2006 (baru sidang ada proyek survei) dan waktu itu gagal menginap di pinggir pantai karena budget tidak memungkinkan hehe. Kali ini berusaha mencari lokasi cottage tersebut dan ketemu, Desiana Cottage. Here it goes..

DSC05219DSC05151

DSC05226

Dengan beberapa tipe room dan cottages (range harga Rp 250 rb – Rp 1.6 jt), harga yang ditawarkan masih sangat logis mengingat lokasi dan fasilitas prime nya di pinggir pantai. Langsung kami nyebur pantai sore hari itu, dan pagi hari keesokan harinya. Untuk makan malam, seafood di pasar ikan Carita cukup enak walaupun parkir nya terbatas (bahu jalan) dan nunggu antrian masakan cukup lama.  Banyak mobil parkir di pasar ini karena disini banyak orang membeli ikan dan makan seafood.

DSC05160DSC05206

Sudah merupakan tradisi baru bahwa setiap ke Pantai kami mencari TPI alias Tempat Pelelangan Ikan. Sengaja dari rumah membawa box ikan, maka pagi hari kami menuju TPI di Labuan, sekitar 10 Km dari Carita. Memang ada tempat jual ikan di dekat Carita, namun di TPI atau pasar ikan ada sesuatu yang berbeda (harga di TPI lebih murah dibanding di pasar ikan carita). Dan uniknya, pasar ikan yang lebih besar ternyata harus menyeberangi sungai supaya cepat daripada berkendara menuju kesana. Agak unsafe juga sebenarnya naik perahu seperti foto-foto di bawah, tapi kami enjoy saja sambil menertawkan anak-anak nelayan mandi hehe.

wow.. hati-hati.

wow.. hati-hati.

No comment :p

No comment :p

Foto sendiri

Foto sendiri

Minta tambah hehe

Minta tambah hehe

Setelah main di pantai lagi, kami segera berkemas pulang. Tepat jam 12 check out dan lengsung menyusuri ke barat menuju Anyer, terus sampai Cilegon. Sebenarnya awalnya kami berencana mengoptimlkan waktu dengan mampir makan siang di Pantai Anyer atau sebelumnya di sepanjang pesisir Carita ke Anyer, namun karena Safa tidur dan kami sendiri sudah pernah ke Anyer, maka kami batalkan rencana tersebut.

Jadilah makan siang di Cilegon dan kami ingin variasi tidak makan seafood dan turunannya. Dengan metode browsing seperti sebelumhya, pilihan jatuh di Sate H Asmawi di dalam Kota Cilegon kiri jalan jalur Cilegon ke Serang. lumayan mantap juga sate dan sop disini hehe.

DSC05231

Setelahnya, kami langsung meluncur ke Depok dengan istirahat sholat di Tol Merak – Jakarta (ngantuk, pagi renang di pantai terus makan sate). Alhamdulillah..tepat maghrib kami sudah sampai di rumah.

Untuk rute, sengaja kami menggunakan rute yang berbeda untuk membandingkan antara kedua rute tersebut. Seperti dikatakan diatas, Depok-Pandeglang-Tanjung Lesung sekitar 210 Km dan Tanjung Lesung-Carita sekitar 50 Km. Sedangkan Carita-Cilegon-Depok sekitar 180 Km. Jadi, rute Cilegon memang lebih jauh namun menjanjikan jalan lebih mulus dan pemandangan pinggir pantai sepanjang Carita – Anyer. Namun, resiko tersendat di jam2 tertentu karena truk2 industri di Cilegon.

Dan menurut kami, jika akan pergi ke Tanjung Lesung (atau Pulang Umang atau Peucang, Ujung Kulon), Carita dan bahkan Anyer, anda harus menggunakan dua rute tersebut (lewat Serang-Pandeglang dan Anyer-Cilegon), karena ada spot-spot yang bisa dinikmati di kedua rute tersebut seperti diatas. Anda juga bisa melakukan semua diatas di weekend biasa dengan budget terukur untuk menikmati pantai bersih yang bisa dijangkau mudah dari Jakarta.

Get Adobe Flash player