<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Triandika Weblog &#187; Wedding</title>
	<atom:link href="http://triandika.net/category/wedding/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triandika.net</link>
	<description>Trian dan Dika Weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Dec 2009 05:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Hadiah Sahabat</title>
		<link>http://triandika.net/2009/02/24/hadiah-sahabat/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/02/24/hadiah-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 01:09:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Untuk Dika &#38; Trian, Payung ini adalah payung biasa Siapapun bisa mendapatkannya di toko Ini bukanlah benda keramat Apalagi peninggalan kerajaan Majapahit Tidak ada perbedaan di gagangnya Tudungnya terbuat dari bahan biasa Mekanika yang menyusunnya tiada beda dengan lainnya Logam yang menyusunnya bukanlah logam mulia Yang membedakan adalah siapa yang memegangnya Untuk apa dia dipegang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk Dika &amp; Trian,</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-120" title="payung" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/02/payung-300x225.jpg" alt="payung" width="248" height="186" />Payung ini adalah payung biasa<br />
Siapapun bisa mendapatkannya di toko<br />
Ini bukanlah benda keramat<br />
Apalagi peninggalan kerajaan Majapahit</p>
<p>Tidak ada perbedaan di gagangnya<br />
Tudungnya terbuat dari bahan biasa<br />
Mekanika yang menyusunnya tiada beda dengan lainnya<br />
Logam yang menyusunnya bukanlah logam mulia</p>
<p>Yang membedakan adalah siapa yang memegangnya<br />
Untuk apa dia dipegang<br />
Siapa yang hendak dilindunginya<br />
Dalam kondisi apa dia dipergunakan</p>
<p>Bersama menyusuri jalan kebaikan<br />
Dalam menembus hujan guna menunaikan amanah<br />
Berterik panas guna menyerukan kebenaran<br />
Keinginan untuk saling melindungi dalam kondisi apapun<br />
Kalianlah yang membuat payung ini berbeda</p>
<p>Tetapkanlah arah, perkuatlah ikatan<br />
Karena dalam setiap ujian<br />
Selalu ada yang akan melindungi<br />
Selama kalian saling percaya</p>
<p>Bandung, 1 Februari 2009<br />
Sahabatmu,<br />
J.P.P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/02/24/hadiah-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih</title>
		<link>http://triandika.net/2009/02/11/terima-kasih/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/02/11/terima-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 03:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, rangkaian pernikahan yang kami rencanakan berjalan dengan lancar. Banyak teman, sahabat, keluarga, rekan kerja yang menghadiri perhelatan hari bahagia kami. Tentu momen yang sakral itu, yang merupakan momen penyempurnaan setengah dien kami tidak akan berjalan lancar tanpa izin dari Allah SWT dan berbagai pihak yang membantu teknis acara. Sempat kami merasa khawatir karena hujan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Alhamdulillah, rangkaian pernikahan yang kami rencanakan berjalan dengan lancar. Banyak teman, sahabat, keluarga, rekan kerja yang menghadiri perhelatan hari bahagia kami. Tentu momen yang sakral itu, yang merupakan momen penyempurnaan setengah dien kami tidak akan berjalan lancar tanpa izin dari Allah SWT dan berbagai pihak yang membantu teknis acara. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sempat kami merasa khawatir karena hujan terus turun beberapa malam sebelum hari H. Setidaknya februari kan masih musim hujan, namun sekali lagi syukur kepada Allah, matahari ternyata setia menemani, sungguh cerah sejak pagi hingga acara usai. Justru besoknya hujan turun seharian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sahabat, teman, keluarga, rekan-rekan dari Bandung, Jakarta, Depok, Bogor, Solo, Magetan, Garut bahkan Singapore dan Jerman jauh-jauh datang menghadiri acara tanggal 1 Februari. Tak terkira rasa haru dan bahagia yang kami rasakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Ucapan terimakasih secara khusus ingin kami sampaikan kepada :<span id="more-101"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Keluarga Bandung yang sibuk mempersiapkan acara pernikahan kami sejak masa khitbah (lamaran) hingga hari-H. Tenaga, materi, doa dan kasih sayang tulus amat kami rasakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Keluarga Magetan yang sudah jauh datang dari Jawa Timur dan sudah bersusah payah membuat acara ’ngunduh mantu’ pada minggu yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Rekan-rekan panitia yang membantu persiapan dan teknis hari H. Maaf<span> </span>telah merepotkan, doa kami semoga cepat ’menyusul’..amin </span><span style="font-family: Wingdings;" lang="FI"><span> <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Mas Hermawan Aksan yang akhirnya berhasil menghadirkan nuansa akad nikah yang berbeda dengan pengantar berupa <a href="http://triandika.net/2009/01/11/mengikuti-rencana-indah-hayam-wuruk-dyah-pitaloka/">’rencana’ pernikahan Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk</a> yang gagal pada 650 tahun yang lalu. Semoga rencana itu terealisasi melalui pernikahan triandika. Akhirnya proyek perdana <em>nge-mc</em> berhasil, Mas. </span><span style="font-family: Wingdings;" lang="FI"><span> <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Ust. Suherman yang memberi rangkaian tausiyah (nasehat) indah dan amat bermakna. Insya Allah menjadi bekal kami dalam berumah tangga. </span><span lang="SV">Nasehat yang tidak hanya untuk kedua pengantin tapi juga seluruh undangan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Undangan yang telah memberi doa restu dan tentunya kado yang sangat bermanfaat. Sebagian besar sudah cukup melengkapi rumah kami. </span><span style="font-family: Wingdings;" lang="SV"><span> <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pihak-pihak operasional yang telah membantu mewujudkan acara berlangsung dengan lancar dan sedapat mungkin tepat waktu. Bagi rekan-rekan yang ingin menggunakan jasa mereka, silakan untuk menghubungi kami secara pribadi untuk diberi nomor kontaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Terakhir, kami mohon maaf jika dalam pelaksanaan acara terdapat kekeliruan dan hal-hal yang membuat tidak nyaman. Semoga momen 1 februari menjadi ajang silaturahim diantara kami dan keluarga, keluarga dan keluarga, kami dan seluruh rekan, teman dan sahabat, antar teman, silaturahim diantara kita semua. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sekarang saatnya bagi kami untuk mulai membangun kehidupan baru, sebagai suami istri, sebagai (calon) orang tua, sebagai keluarga besar, dan sebagai bagian utuh masyarakat. Doakan selalu.. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">NB: Untuk photo, hasil jepretan temans bisa dilihat di album <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=2014504&amp;id=1416042729&amp;ref=mf">disini</a> dan <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=2012135&amp;id=1465662343">disini</a> (versi resmi masih proses)<br />
</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/02/11/terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih 1 Februari 2009</title>
		<link>http://triandika.net/2009/01/28/memilih-1-februari-2009/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/01/28/memilih-1-februari-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 01:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal pernikahan buat sebagian besar orang Indonesia adalah pilihan yang tidak sederhana. Beberapa yang banyak mendasarkan pada ’perhitungan orang tua’ misalnya perhitungan Jawa atau China. Atau secara umum menggunakan persetujuan ’hari baik’. Beberapa lagi memilih tanggal yang cantik komposisinya sehingga mudah dikenang, semisal tanggal jam 9 tanggal 9 bulan 9 tahun 2009. Beberapa yang sedikit, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><span lang="SV">Tanggal pernikahan buat sebagian besar orang Indonesia adalah pilihan yang tidak sederhana. Beberapa yang banyak mendasarkan pada ’perhitungan orang tua’ misalnya perhitungan Jawa atau China. Atau secara umum menggunakan persetujuan ’hari baik’.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Beberapa lagi memilih tanggal yang cantik komposisinya sehingga mudah dikenang, semisal tanggal jam 9 tanggal 9 bulan 9 tahun 2009. Beberapa yang sedikit, menikah di tanggal tersebut karena alasan praktis dan simpel contohnya karena kedua mempelai bisa di tanggal tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lalu, bagaimana kami akhirnya memilih di tanggal 1 februari 2009? <span id="more-91"></span>Yang setelah di bolak-balik (dengan sedikit pemaksaaan), ketemu juga nomor ’lumayan cantik’ yakni 010209.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Secara umum kami mendasarkannya pada alasan yang rasional dan kemudian (mencarinya) ke dalam alasan lain sehingga mudah diterima semuanya. Alasan rasional tersebut adalah pada hari tersebut adalah minggu yang berarti libur. Buat keluarga saya yang harus jauh mengunjungi Bandung akan lebih nyaman jika acara pada hari Minggu. Buat keluarga Magetan yang bekerja, Jum’at dan Senin pun masih bisa masuk kantor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Alasan rasional lain karena pada tanggal tersebut mempelai laki dan perempuan sedang dalam kondisi <em>off days</em>. Mempelai laki sudah mendapatkan jadwal on-off kerja sejak tengah tahun lalu, dan kalender akademik kampus pun itu adalah minggu sebelum masuk kuliah (sekalipun sudah tidak ada kuliah kelas lagi buat mempelai perempuan)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jika muncul pertanyaan, kenapa tidak sekalian lulus S2 sekalian baru kemudian menikah? Barangkali hal itu bisa dijawab dengan pertimbangan pelaksanaan Pemilu 2009. Memang selalu ada konsekuensi menikah sebelum atau sedudah Pemilu 2009 yang dijadwalkan 9 April. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jika sebelum, sebentar saja ’kehidupan berdua’ dan harus bersama untuk partisipasi dalam pemilu. Kami pikir itu lebih rasional daripada harus menunggu pemilu dulu (yang pelaksanaannya masih belum nenyakinkan tepat waktu). Artinya, jika insyaAllah lancar sidang tesis tengah tahun ini maka akan mepet dengan pemilu presiden dan Puasa Ramadhan. Tidak jauh beda dengan sekarang, antara 1 Februari dan 9 April.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pemilihan tanggal 1 Februari ini juga terinspirasi dari seorang sahabat kami yang pulang dari luar negeri sesaat sebelum tanggal tersebut. Alasan yang sangat perhitungan dan rasional.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Selain itu, alasan jujur dan rasional bahwa rumah yang sudah ada harus secepatnya diisi dan ditata. Rasanya akan berbeda jika sebuah rumah dikelola oleh sepasang suami istri daripada seorang laki-laki yang harus sering keluar kota. Mudah-mudahan semakin menambah ketenangan untuk seorang mahasiswa pascasarjana dalam menuntaskan studinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Setelah beberapa pertimbangan diatas, masih ada benteng <a href="http://3an.blogspot.com/2009/01/antara-emosional-dan-rasional.html">antara rasional dan emosional</a> yang harus ditembus yaitu keluarga. Karena ada keluarga Jawa, maka ada bulan Suro (Muharram) yang ’kurang baik’ jika melangsungkan pernikahan. Setelah di cek ulang, bulan tersebut sudah berakhir 26 Januari 2009. Itu artinya 1 Februari sudah masuk bulan Safar (Perjalanan, sebuah langkah awal memulai perjalanan kehidupan bersama –alasan ’emosional’).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jadilah, akhirnya tanggal 1 Februari 2009 disepakati bersama sebagai hari pernikahan kami. Pemilihan yang awalnya didasarkan pada rasional, sangat rasional. <span> </span>Baru kemudian melihat’emosional’ yang akhirnya masih dalam batas (Alhamdulillah). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Tarikan kecil dalam keluarga pun ada. Misalnya untuk setelah lulus S2, tidak pada tanggal 1 (awal bulan), atau nanti setelah pemilu sekalian tuntas. </span><span lang="SV">Namun buat kami berdua, pernikahan ini adalah awal kehidupan bersama. Tidak masalah apakah sudah lulus atau belum, sudah lengkap isi rumahnya atau belum, atau sesudah pemilu atau sebelum pemilu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="SV">Kami catatkan dalam prasasti hati, bahwa tanggal 1 Februari 2009 adalah awal perjalanan kami dalam mengarungi kehidupan. Sepasang insan terikat akad suci pernikahan, mengabdi kepada Tuhannya, dan ingin bermanfaat sebesarnya untuk manusia. Amin.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/01/28/memilih-1-februari-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengikuti Rencana Indah Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka</title>
		<link>http://triandika.net/2009/01/11/mengikuti-rencana-indah-hayam-wuruk-dyah-pitaloka/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/01/11/mengikuti-rencana-indah-hayam-wuruk-dyah-pitaloka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 11:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Setelah berlalu lebih dari 650 tahun, Perang Bubat, perang tak seimbang yang menyebabkan kematian seluruh rombongan Kerajaan Sunda yang dipimpin Prabu Maharaja Linggabuana, termasuk sang putri Dyah Pitaloka yang hendak menikah dengan Hayam Wuruk dari Majapahit, ternyata masih menyisakan luka hingga saat ini. Selain tak ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Majapahit di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="FI">Setelah berlalu lebih dari 650 tahun, Perang Bubat, perang tak seimbang yang menyebabkan kematian seluruh rombongan Kerajaan Sunda yang dipimpin Prabu Maharaja Linggabuana, termasuk sang putri Dyah Pitaloka yang hendak menikah dengan Hayam Wuruk dari Majapahit, ternyata masih menyisakan luka hingga saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Selain tak ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Majapahit di Bandung dan sejumlah kota lain di Jawa Barat, salah bentuk luka yang tersisa itu adalah larangan, atau setidaknya keberatan, bagi orang Sunda untuk menikah dengan orang Jawa. Begitu juga sebaliknya. Meski makin lama makin hilang—dan kita tentu berharap begitu—ada kalangan yang menilai pernikahan antara lelaki Sunda dan wanita Jawa tak akan membentuk rumah tangga yang harmonis. Namun kalangan lain justru menganggap pernikahan antara lelaki Jawa dan wanita Sundalah yang sulit menghasilkan rumah tangga yang serasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sejak kapan larangan-atau keberatan-seperti itu ada? <span id="more-54"></span>Menurut catatan sejarah, sejak pemerintahan Bunisora (1357-1371) hingga pemerintahan Niskala Wastukancana (1371-1475), kerabat keraton Kawali (ibu kota Kerajaan Sunda) ditabukan berjodoh dengan keluarga keraton Majapahit. Sanksi atas larangan ini bukan main-main.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Salah satu contohnya, pada 1478, Prabu Dewa Niskala, anak Wastukancana yang menggantikan posisi ayahnya di Galuh, mengawini wanita cantik anggota rombongan pendukung Prabu Kertabumi yang pengungsi dari Majapahit karena diserang Prabu Girindrawardhana. Di sini Dewa Niskala melanggar dua larangan. Pertama, ia mengawini anggota keraton Majapahit. Kedua, wanita itu sebetulnya sudah bertunangan sehingga statusnya <em>rara hulanjar</em> (istri larangan), yang dilarang dikawini oleh lelaki selain tunangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Perkawinan itu membuat Prabu Susuktunggal, kakak Dewa Niskala, yang bertakhta di Pakuan (ibu kota Sunda), marah besar. Ia menganggap sang adik telah menodai <em>purbatisti-purbajati</em> keraton seperti diamanatkan ayah mereka, Wastukancana. Namun Dewa Niskala menganggap kakaknya terlalu ikut campur urusan intern Kerajaan Galuh. Konflik memuncak ketika Susuktunggal mengancam memutuskan hubungan kekeluargaan dengan Galuh, bahkan jika perlu menggempur kota Kawali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Melihat konflik makin genting, para pemuka dari Kerajaan Sunda dan Galuh bermusyawarah. Dicapai kesepakatan bahwa keduanya, Susuktunggal dan Dewa Niskala, meletakkan takhta. </span><span lang="FI">Kedua raja yang bertikai itu mematuhi keputusan itu dan meletakkan takhta pada 1482.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">**</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Bunisora dan Wastukancana pasti memiliki alasan yang kuat untuk menabukan perkawinan antara kerabat keraton Sunda dan Majapahit. Namun kita harus melihat bahwa tabu itu hanya berlaku di antara kedua keraton. Mestikah warga kebanyakan mengikuti tabu yang sama?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Di sisi lain, ada dua hal yang patut menjadi catatan. </span><span lang="SV">Pertama, larangan itu berlaku berabad-abad yang lalu. Kedua, bila kita telusuri, rencana perkawinan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka ada kaitannya dengan upaya mempersatukan dua saudara yang terpisah jauh. Ya, baik Hayam Wuruk maupun Dyah Pitaloka memiliki leluhur yang sama, yakni Prabu Darmasiksa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kenapa kita tidak mengikuti langkah yang direncanakan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka, yang sayangnya gagal terwujud?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tentu sudah tertulis dalam rencana Tuhan bahwa pertemuan antara Trian Hendro Asmoro dan Dika Amelia Ifani sedikit banyak difasilitasi oleh terbitnya buku Dyah Pitaloka (DP), Senja di Langit Majapahit. Trian adalah pemuda asal Magetan, Jawa Timur, dan Dika asal Bandung, Jawa Barat. Keduanya sama-sama menyukai buku DP dan diskusi di antara keduanya makin membuka jalan ke arah hubungan yang lebih dalam dan bahkan akhirnya bermuara pada rencana mempersatukan hubungan itu dalam mahligai pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Boleh jadi, semula ada hambatan sepanjang perjalanan hubungan mereka, baik karena sisa luka masa lalu maupun karena alasan lain. Namun sungguh indah kalau rencana mulia mereka kita bandingkan dengan rencana pernikahan Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk -meskipun levelnya tentu saja berbeda- yakni menyatukan lagi dua saudara yang terpisah jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Semoga pernikahan Trian-Dika lancar, mewujudkan rencana indah Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka. </span><span lang="SV">Amin</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>Hermawan Aksan</strong><br />
<em>Penulis <a href="http://3an.blogspot.com/2007/04/perang-bubat-dyah-pitaloka-dan.html">Dyah Pitaloka</a> dan <a href="http://dikaameliaifani.blogspot.com/2008/12/niskala.html">Niskala</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/01/11/mengikuti-rencana-indah-hayam-wuruk-dyah-pitaloka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awal Kisah</title>
		<link>http://triandika.net/2009/01/10/awal-kisah/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/01/10/awal-kisah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 14:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poem]]></category>
		<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Ketika sebuah kalimat suci terucap Satu langkah kaki menapak hidup baru Kata orang, hidup itu benar-benar baru. Sujudmu adalah sujudnya Doamu adalah doanya Nafasmu adalah nafasnya Detakmu adalah detaknya Langkahmu adalah langkahnya Tiada arti lagi keegoisan, jika ingin terus bertahan Jangan pula harap kesempurnaan Pengorbanan adalah lebih indah karena itu yang membuat dien tak lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika sebuah kalimat suci terucap<br />
Satu langkah kaki menapak hidup baru<br />
Kata orang, hidup itu benar-benar baru.</p>
<p>Sujudmu adalah sujudnya<br />
Doamu adalah doanya<br />
Nafasmu adalah nafasnya<br />
Detakmu adalah detaknya<br />
Langkahmu adalah langkahnya</p>
<p>Tiada arti lagi keegoisan, jika ingin terus bertahan<br />
Jangan pula harap kesempurnaan</p>
<p>Pengorbanan adalah lebih indah<br />
karena itu yang membuat dien tak lagi satu perdua</p>
<p>Sekarang, ada ucap darinya yang harus kau patuhi<br />
Sekarang, ada dirinya yang harus kau makmumi</p>
<p>Bukan sekedar kasih,<br />
Sematkanlah doa yang kan menjaganya selalu,<br />
Bukan sekedar harta,<br />
Iringilah dengan kesetiaan tak berujung</p>
<p>Selimutilah bahtera dengan AlQur&#8217;an dan sujud-sujud panjang<br />
Karena dengannya, ia menjadi bintang bagi semesta alam.</p>
<p>Berterima kasihlah pada penguasa Alam<br />
Ia telah menganugerahimu dengan perhiasan terindah<br />
Ia telah mengirimkanmu imam menuju JannahNya.<br />
Jagalah.. hingga akhir kisahmu</p>
<p><em>By: Filanria B<br />
-seorang sahabat-</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/01/10/awal-kisah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Keuangan Pra Nikah</title>
		<link>http://triandika.net/2009/01/09/mengelola-keuangan-pra-nikah/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/01/09/mengelola-keuangan-pra-nikah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 12:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Merupakan sebuah tantangan untuk mengelola keuangan pra nikah, dimana ‘tidak mengandalkan’ orang tua sebagai domainnya. Singkatnya, semua harus dipersiapkan. Ini artinya kita membicarakan perencanaan (planning) yang matang. Hal yang kami alami dalam mempersiapkan pernikahan bukan hanya biaya pernikahan saja melainkan juga perihal rumah yang datang di “saat yang tepat”. Meski sebenarnya rumah dan menikah sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merupakan sebuah tantangan untuk mengelola keuangan pra nikah, dimana ‘tidak mengandalkan’ orang tua sebagai domainnya. Singkatnya, semua harus dipersiapkan. Ini artinya kita membicarakan perencanaan (<em>planning</em>) yang matang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Hal yang kami alami dalam mempersiapkan pernikahan bukan hanya biaya pernikahan saja melainkan juga perihal rumah yang datang di “saat yang tepat”. Meski sebenarnya rumah dan menikah <a href="http://3an.blogspot.com/2008/10/kenapa-mulai-dengan-rumah.html">sudah direncanakan dengan matang</a>, namun ternyata dalam prakteknya, pengaturan dan pengalokasian keuangan tetaplah menantang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Pertama adalah menikah yang akan dilaksanakan pada 1 februari 2009. <span id="more-39"></span>Pada saat itu telah jelas teralokasikan rancangan kebutuhan dana pernikahan. </span><span lang="SV">Tentu ini tidak terlepas dari pertama kali mendapatkan penghasilan. Hal yang menurut saya harus juga dilaksanakan oleh para lajang yang sudah bekerja untuk selalu <a href="http://3an.blogspot.com/2007/07/belajar-mengelola-keuangan.html">mengelola keuangan</a> demi tujuan yang lebih besar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pelajaran dalam menyiapkan dana pernikahan adalah siapkan alokasi dana untuk masing-masing tahap, misalnya untuk biaya lamaran (termasuk akomodasinya), akomodasi saat pernikahan, mahar, dan pastinya biaya pernikahan itu sendiri. Biaya pernikahan bisa dibicarakan bersamaan dengan bentuk pernikahan seperti apa yang akan diselenggarakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kami berprinsip bahwa pernikahan adalah peristiwa sakral yang harus disyukuri dengan resepsi (walimah) sederhana namun pantas. Jadi, alangkah sayang jika pernikahan dilaksanakan dengan ’berlebihan’, karena dananya bisa digunakan untuk keperluan lainnya semisal rumah beserta isinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><img class="alignleft size-medium wp-image-49" title="rumah" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/01/dsc00016-300x225.jpg" alt="rumah" width="190" height="144" />Kedua adalah rumah, yang mendapatkan titik terang. Melalui fase DP, pengurusan di kantor dan akhirnya proses transaksi serta notaris, semuanya memerlukan biaya. Dengan ”tidak mengganggu” dana pernikahan, maka Alhamdulillah <a href="http://3an.blogspot.com/2008/11/menjadi-warga-depok.html">kepemilikan rumah</a> berproses dengan cukup lancar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Namun kepemilikan rumah yang ditunjukan dengan sertifikat itu masih belum cukup, karena ada keinginan untuk benar-benar menyiapkan rumah yang ’layak huni’ untuk ditempati setelah pernikahan. Maka muncullah agenda ’beberes rumah’, yang dari awal rencana tidak banyak namun pada prakteknya menjalar ke beberapa sisi lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Inilah moral yang harus di ambil dalam memperbaiki rumah, bahwa perencanan harus cukup detil sehingga kemungkinan pembengkakan biaya bisa terprediksi. Dan pastinya, siapkan jumlah batas atas dana yang tersedia untuk perbaikan rumah, karena jika batas atas terlewat maka akan besar potensi untuk merusak alokasi yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dengan dua ’agenda besar’ pararel yakni persiapan pernikahan dan beberes rumah, maka dibutuhkan bantuan team dengan komunikasi yang baik. Pernikahan dengan bantuan panitia dan keluarga, sedang beberes rumah dengan tukang yang terpercaya (dan tetap dengan harga wajar). Sebagai tambahan, kondisi pekerjaan yang mengharuskan hanya 12 hari dalam sebulan tidak berada di Palembang, maka harus mengatur kapan masuk kantor Jakarta, beberes rumah di Depok, serta persiapan teknis di Bandung dan Magetan. Disinilah tantangan yang praktis dihadapi khususnya dalam 2 bulan terakhir menjelang pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lalu ke depannya, kami sudah jelas akan menghadapi tentang ’isi rumah’, menyelesaikan S2, dan pastinya rencana kami dalam pengelolaan <a href="http://3an.blogspot.com/2008/07/keuangan-masa-depan.html">keuangan pasca pernikahan</a>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sekali lagi adalah <em>planning</em> keuangan yang matang, nyatakan di awal apa yang ingin kita tuju di masa depan. Pernikahan, rumah, atau sekolah disertai dengan turunan kebutuhan yang cukup detil perihal plan tersebut. Sehingga akan di dapatkan berapa yang harus kita tabung atau investasi kan sesuai dengan <em>time frame</em> nya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dan dengan usaha dan do’a, insyaAllah kelancaran itu akan datang pada waktunya. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/01/09/mengelola-keuangan-pra-nikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segenap Cinta Dalam Sebuah Cincin</title>
		<link>http://triandika.net/2009/01/01/segenap-cinta-pada-sebuah-cincin/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/01/01/segenap-cinta-pada-sebuah-cincin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 14:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Momen yang penting dari suatu akad nikah, perjanjian agung dua insan manusia yang diikat dengan ikatan iman adalah penyerahan mahar dari mempelai pria kepada wanita. Ya, mahar (atau orang sering menyebutnya dengan mas kawin) adalah hak seorang istri sebagai kompensasi dari sebuah pernikahan dengan seorang pria. Wajib hukumnya bagi seorang lelaki, memberikan mahar yang telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-8" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/01/our-wedding-ring.jpg" alt="our-wedding-ring" width="200" height="200" />Momen yang penting dari suatu akad nikah, perjanjian agung dua insan manusia yang diikat dengan ikatan iman adalah penyerahan mahar dari mempelai pria kepada wanita. Ya, mahar (atau orang sering menyebutnya dengan mas kawin) adalah hak seorang istri sebagai kompensasi dari sebuah pernikahan dengan seorang pria. Wajib hukumnya bagi seorang lelaki, memberikan mahar yang telah disepakati bersama antara ia dengan wali calon istrinya. Hal itu didasarkan firman Allah Ta’ala <span id="more-7"></span></p>
<blockquote><p>“Berikan maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” (An Nisaa : 4)</p></blockquote>
<p>Lalu bagaimana dengan jenis dan jumlahnya? Banyak pustaka yang menukil berbagai riwayat tentang hal ini. Yang paling saya ingat adalah :</p>
<blockquote><p>“Pernikahan yang paling besar berkahnya ialah yang paling mudah maskawinnya” (HR. Ahmad)</p></blockquote>
<p>Karena itu saat penentuan mahar itu tiba, kami sepakat untuk memilih mahar yang memudahkan bagi pihak laki-laki dan menjadi kerelaan bagi pihak perempuan. Sebuah cincin kawin dan satu gelang akhirnya diputuskan. Dan berdasarkan kisah yang dituturkan oleh orang tua-orang tua zaman dulu, mas kawin itu diupayakan harus bernilai sehingga jika suatu saat berada dalam posisi ‘sulit’, mas kawin tersebut dapat diuangkan (misal : dijual, digadaikan dll).</p>
<p>Entah mungkin sifat kami yang sama-sama melankolik, sehingga untuk urusan pemilihan desain cincin harus ada filosofisnya. Pencarian melalui internet secara terpisah pun dimulai. Berbagai contoh ditawarkan, berikut harga dan jasa pembuatan. Mahalnya tak terkira. Bukan karena harga emasnya (yang memang standar), tapi ongkos desainnya. Setelah penelusuran halaman demi halaman web orori.com, situs <a href="http://www.titaniumstyle.com/">wedding ring</a> yang dapat membuat siapapun bujang dan gadis menggigit jari <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , akhirnya kami mendapatkan satu desain. Termenung&#8230; Aneh memang, filosofisnya direka-reka setelah mendapat gambar, bukan ditentukan di awal pencarian. Akhirnya, cincin inilah yang terpilih. Dengan catatan, dicari ongkos yang paling murah-berkualitas, made in Indonesia <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dari arah sisi kanan dan sisi kiri cincin terbentuk suatu tonjolan yang bertemu di tengah dan menyentuh mata berkilauan dari atas dan bawah. Sabuk yang membentuk tonjolan itu ibarat dua tangan yang berbeda yang bertemu untuk menggenggam sebuah cinta. Mata yang berkilauan itu bisa berlian, saphire, sirkon atau apapun. Dari jenis termahal hingga termurah. Namun kami pilih yang ’berharga’ yang agaknya cukup pantas jika digenggam dengan emas untuk perempuan dan perak untuk laki-laki. Berlian dan sirkon yang berkilauan itu, yang semakin berkilau dengan semakin banyak bidang potong, ibarat kumpulan cinta yang harus kami jaga dan kami bina. Cinta ibu bapak kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami, guru dan murobbi kami, adik dan kakak kami, dan segenap cinta yang memberi arti atas kehadiran kami di muka bumi. Bidang-bidang cinta itu bermuara pada satu bidang yang paling berkilau, yang paling terlihat karena letaknya ada di atas, tepat pada sisi persentuhan dua sabuk yang menggenggam itu. Cinta itu adalah Cinta sang Pemilik Cinta yang mempertemukan kami dengan cara-Nya dan mengamanahkan kami sebuah bahtera rumah tangga yang insya Allah akan segera berlayar.</p>
<p>Mungkin berlebihan, tapi kiranya beginilah cara kami untuk memaknai sesuatu yang melekat pada jari manis sepanjang sisa hidup kami. Selama hal itu tidak memberatkan dan menjadi kerelaan. Pada akhirnya kami meminta restu agar nama sahabat-sahabat dan segenap cinta yang bersemayam di setiap bidang cincin yang melingkar di jari kami, dapat kami jaga sebaik-baiknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/01/01/segenap-cinta-pada-sebuah-cincin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
