<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Triandika Weblog &#187; Vacation</title>
	<atom:link href="http://triandika.net/category/vacation/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triandika.net</link>
	<description>Trian dan Dika Weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Dec 2009 05:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Lintas Generasi di Bogor dan Ulat Sutra</title>
		<link>http://triandika.net/2009/06/21/lintas-generasi-di-bogor-dan-ulat-sutra/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/06/21/lintas-generasi-di-bogor-dan-ulat-sutra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 15:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vacation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Pada kesempatan akhir pekan, kami di undang dalam pertemuan para ex pekerja Oil &#38; Gas area Jabodetabek yang diadakan di kota Bogor. Perkumpulan ini kurang lebih awalnya di galang oleh ex Vico Indonesia (diantaranya yang mempunyai lapangan gas di Badak, Kalimantan Timur), yang kemudian bergabung ke Oil &#38; Gas yang lain, seperti Medco, HESS, EMP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada kesempatan akhir pekan, kami di undang dalam pertemuan para ex pekerja Oil &amp; Gas area Jabodetabek yang diadakan di kota Bogor. Perkumpulan ini kurang lebih awalnya di galang oleh ex <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/VICO_Indonesia">Vico Indonesia</a> (diantaranya yang mempunyai lapangan gas di Badak, Kalimantan Timur), yang kemudian bergabung ke Oil &amp; Gas yang lain, seperti Medco, HESS, EMP dll. Karena sifatnya silaturahim, maka tidak ada salahnya kami dalam waktu senggang <em>off duty</em> datang jalan-jalan ke Bogor.</p>
<p>Dalam silaturahim sendiri tentu ada beberapa agenda, diantaranya tukar informasi, bakti sosial, arisan, dan sebagainya. Sesuai dengan latar belakangnya, maka para peserta silaturahim adalah bapak-bapak dan istri nya yang rata-rata sudah diatas usia 50 tahun atau seusia orang tua kami. Sangat jauh dengan kami, pasangan muda usia kurang dari setengahnya. Tentu awalnya kami merasa ‘risih’ karena perbedaan usia tersebut, namun suasana akrab dan kekeluargaan menghapus pelan-pelan rasa canggung itu.</p>
<p>Sebenarnya ini bukan kali pertama kami bergaul dengan bapak-ibu yang usianya jauh di atas kami, karena di komplek perumahan kami (perumahan sejak tahun 70-an), hampir 80% penghuninya diatas 50 tahun. Selalu ada plus minus nya, bagaimanapun kami memandang hal-hal tersebut sebagai semacam “<em>balancing</em>” bagi kehidupan muda kami.</p>
<p>Silaturahim tersebut dilaksanakan di <a href="http://rumahsuteraalam.com/background.htm">Rumah Sutra Alam</a>, daerah Ciapus Kabupaten Bogor. Hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik kami untuk ikut datang, sambil melihat langsung proses pembuatan kain sutra di tempat tersebut. Sekarang kami akan ajak para pembaca untuk menelusuri perjalanan study tour kami ke Rumah Sutera Alam.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-222" title="penjelasan murbei" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00218-300x225.jpg" alt="penjelasan murbei" width="300" height="225" /></p>
<p>Ini adalah salah seorang pekerja di Rumah Sutera yang sedang menjelaskan seluk beluk tanaman murbei. Dari tanaman inilah proses pembuatan benang sutera itu bermula. Tanaman murbei berasal dari Cina. Di Indonesia sendiri, murbei tumbuh di daerah basah, di lereng gunung yang banyak terkena sinar matahari. Di lahan sekitar 4 hektar ini, murbei dibudidayakan secara stek. Tidak hanya sebagai makanan ulat sutera, ternyata tanaman ini juga mengandung banyak manfaat untuk kesehatan. Daun murbei dipercaya dapat menormalkan tekanan darah, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah, menurunkan kadar gula darah, menguatkan fungsi liver, memperlambat penuaan, mencegah flu, batuk, demam dan sakit kepala.. setidaknya begitulah yang kami baca dari kemasan Murbey Tea, yang sengaja kami beli disana sebagai oleh-oleh.Cukup dengan harga 15 ribu, kita bisa merasakan sensasi berbeda dari sebuah teh celup. Rasanya enak dan kaya manfaat.. (promosi nih). btw, anak farmasi itb kayanya belum ada yang meneliti ini deh :p<span id="more-220"></span></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-223" title="ulat sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00220-300x225.jpg" alt="ulat sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Ini adalah ulat sutera yang sedang berada dalam fase hibernasi. Jadi ulat sutera itu punya fase-fase pertumbuhan. Fase pertama (berusia 1-4 hari), ulat sutera kecil berganti kulit. Pada fase kedua dan ketiga, semua kulit ulat sutera berganti. Tiga fase ini ditempuh dalam dua belas hari. Pada fase ini, ulat masih sangat sensitif. Pengunjung tidak diperbolehkan masuk kecuali mengenakan peralatan standar yang disediakan. Sayangnya saat itu kami belum diperbolehkan masuk. Nah di foto ini, sang ulat sedang masuk dalam fase ke empat, yang dimulai dari hari ke 13, selama 4-6 hari. Ulat sutera yang kami lihat saat itu berwarna putih bergaris-garis hitam dengan kepala sedikit cokelat. Sang ulat sedang tertidur, tapi sepertinya ada beberapa yang <em>ngelindur</em> karena kepala mereka sedikit bergerak-gerak, lucu tapi menjijikan juga. Tapi jangan khawatir, ulat ini jinak, kalo tidak disuapi makan, dia tidak akan makan meski kita pancing ia dengan murbei pada jarak sekitar 30 cm. what a lazy animal :p. atau mungkin karena saking eksklusif, jadinya pengen dimanja terus.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-224" title="kokon putih" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00224-300x225.jpg" alt="kokon putih" width="300" height="225" /></p>
<p>Pada fase akhir, ulat sutera akan berhenti makan dan mulai membuat kepompong selama 2-3 hari. Pada tahap ini, ulat akan membentuk kokon (kepompong). Selama 5-8 hari, ulat sutera membuat kepompong tanpa lelah. Foto ini adalah plastik khusus dimana ulat akan naik dan mulai membuat kepompong. Satu kepompong, jika diproses bisa menghasilkan benang sutera sepanjang 900-1200 m. Selama enam hari, ulat dibiarkan menjadi pupa dalam kokon. Agar menghasilkan benang yang bagus, tanpa terputus, pupa tersebut tidak dibiarkan menjadi kupu-kupu. Padahal ingin banget lihat kupu-kupu sutera kaya gimana..</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-225" title="kokon kuning" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00225-300x225.jpg" alt="kokon kuning" width="300" height="225" /></p>
<p>Ada dua jenis kokon di rumah sutera, kokon putih yang bersifat lokal dan kokon kuning yang ulatnya berasal dari luar negeri.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-226" title="kokon masak" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00227-300x225.jpg" alt="kokon masak" width="300" height="225" /></p>
<p>Kokon kemudian direbus agar mengembang (jadi si pupa direbus &#8216;hidup-hidup&#8217;) dan zat perekatnya terlepas.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-227" title="kokon sisa" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00228-300x225.jpg" alt="kokon sisa" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah masak, ujung kokon digunting untuk mengeluarkan pupa. Terlihat tidak benang halusnya? dan si pupa masih terjebak di dalam, tapi tenang, pupa sudah mati, setelah memberikan manfaat sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="pupa kokon" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00235-300x225.jpg" alt="pupa kokon" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah pupa masak yang biasanya dimanfaatkan untuk pakan ikan. Katanya penuh dengan protein. hm, mungkin bisa jadi cadangan makanan masa depan, seperti spirulina..(agak ngaco sih :p)</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-228" title="mengambil benang kokon" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00232-300x225.jpg" alt="memintal kokon" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah pupa dikeluarkan kemudian benang mulai diolah dengan mesin yang semi automatic. Ini bukan pekerjaan gampang, sebab benang yang diolah harus diupayakan satu ukuran (<em>denier</em>). Disini mesin memproses menjadi seikat benang sutera seberat 2 kg. Harga benang sutera putih dijual Rp.370 ribu, adapun yang kuning 400 ribu per kilogram (<a href="http://www.korantempo.com/korantempo/cetak/2008/02/08/Metro/krn.20080208.122480.id.html"><strong>Tempo, 8 Feb 08</strong></a>)</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-231" title="benang sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00236-300x225.jpg" alt="benang sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Ini salah satu gulungan benang sutera mentah yang sudah jadi.  Saat dipegang, seratnya masih kasar, entah berapa denier.. yang pasti ini bahan baku mahal.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-230" title="memintal kain sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00238-300x225.jpg" alt="memintal kain sutra" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="memintal sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00240-300x225.jpg" alt="memintal sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah dari pengolahan benang, kami beranjak ke ruang pemintalan. Alat tenun yang digunakan masih tradisional, terbuat dari kayu. Dalam gambar terlihat ada celah-celah kawat tempat melewatkan satu helai benang, entah ada berapa ratus celah. Dan karena masih tradisional, satu benang itu harus dilewatkan satu demi satu. Bagi mereka yang sudah terbiasa, katanya paling cepat selesai dalam satu hari untuk memasukkan semua benang ke dalam celah. Setelah semua benang terbentang ke arah vertikal, benang yang lain kemudian dimasukkan ke dalam &#8220;pistol kayu&#8221; yang akan digerakkan secara horizontal, melintang terhadap benang yang pertama. So simple, tapi luamaaaaa&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-233" title="membentang sutra" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/06/dsc00242-300x225.jpg" alt="membentang sutra" width="300" height="225" /></p>
<p>Hasilnya ya beginilah, satu helai kain sutera untuk kerudung. Tapi karena benangnya masih mentah, jadi hasilnya masih kasar. Satu kerudung ini dihargai sekitar 50 ribu.</p>
<p>Perjalanan <em>study tour</em> pun selesai. Kami beranjak menuju pendopo untuk menikmati makan siang. Silaturahim pun semakin hangat dengan adanya perkenalan anggota (pasangan) baru, kita salah satunya sebagai pasangan termuda :p.</p>
<p>Ada banyak pelajaran yang di dapat dalam silaturahim ini. Kami membayangkan 20-30 tahun lagi bisa jadi kami dan teman-teman se-pantaran yang sekarang menyebar di beberapa Oil &amp; Gas Indonesia mungkin akan mengadakan hal serupa di masa yang akan datang. Selain itu, kami melihat bahwa bapak-ibu yang dalam perkumpulan ini sudah lebih dari 30 tahun menikah dengan segala kondisi lika liku (terutama dunia Oil), ternyata sampai sekarang masih sehat dan harmonis. Sebuah releksi kehidupan untuk jalan yang sedang mulai kami tapaki hari ini.</p>
<p>Selain itu, dari awal sudah diniatkan bahwa silaturahim ini sendiri tidak hanya ajang kumpul-kumpul tanpa adanya manfaat. Setidaknya ilmu baru seperti ulat sutra atau lainnya diusahakan ada dalam pertemuan setiap bulannya. Karena sifatnya perkumpulan tanpa organisasi, maka tidak ada paksaan harus datang atau iuran (tempat silaturahim digilir), sehingga kedatangan anggota hanya karena merasa butuh.</p>
<p>Kami sendiri tidak bisa memastikan akan selalu hadir, karena bulan-bulan mendatang tentu akan semakin memasuki bulan tua bagi calon buah hati kami. Terima kasih kepada bapak-ibu yang mengundang dan memberikan kesempatan hadir dalam pertemuan bermanfaat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/06/21/lintas-generasi-di-bogor-dan-ulat-sutra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Pangandaran Hingga Palembang</title>
		<link>http://triandika.net/2009/04/02/dari-pangandaran-hingga-palembang/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/04/02/dari-pangandaran-hingga-palembang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 03:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vacation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi ‘pengantin jarak jauh’ memang tidak mudah. Dalam sebulan hanya sekitar 10 hari bertemu. Karena itu sebisa mungkin waktu yang sempit tersebut dimanfaatkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi maupun sosial direncanakan bersama-sama. Salah satunya adalah berjalan-jalan. Alhamdulillah akhir februari lalu kami berkesempatan berjalan-jalan ke pantai pangandaran, pantai selatan yang beberapa tahun lalu diterjang tsunami. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menjadi ‘pengantin jarak jauh’ memang tidak mudah. Dalam sebulan hanya sekitar 10 hari bertemu. Karena itu sebisa mungkin waktu yang sempit tersebut dimanfaatkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi maupun sosial direncanakan bersama-sama. Salah satunya adalah berjalan-jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah akhir februari lalu kami berkesempatan berjalan-jalan ke pantai pangandaran, pantai selatan yang beberapa tahun lalu diterjang tsunami. Kami berangkat menggunakan bis budiman Bandung-Pangandaran non AC dari terminal Cicaheum. Perjalanan ditempuh selama 5,5 jam dengan sekali pemberhentian istirahat di kota Tasikmalaya. Setelah itu kami memakai jasa tukang becak untuk mengantarkan kami ke penginapan. Hotel Sunset menjadi pilihan, karena lokasinya depan pantai dan harganya standar. Kelebihan hotel ini karena selain interior kamarnya yang nyaman juga dekat sekali dengan pantai. Sedangkan hotel lainnya ada yang jauh dari pantai dan ada juga yang berhadapan langsung dengan kios-kios yang berdempetan, sehingga dari segi pemandangan kurang bagus dibanding Sunset Hotel. Hanya saja kekurangan hotel ini adalah ’minim’nya sarana swimming pool (sempit) dan beberapa kekurangan yang sangat teknis, seperti keran air minum yang tersendat, handuk yang ternyata sedikit bolong, dan lemari yang beralas lantai..hehe. Tapi overall, jika teman2 sekeluarga berlibur ke Pangandaran, kami rekomendasikan hotel ini sebagai tempat peristirahatan.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-144" title="cimg5578" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5578-300x225.jpg" alt="cimg5578" width="137" height="103" />Pagi-pagi saat matahari terbit adalah waktu yang tepat tuk berolahraga. Kami berlari-lari kecil di pantai, mengagumi hamparan laut tak berbatas, mengukir nama kami di pasir sambil tersenyum. Flash..blitz pun menyala, tak bosan memuaskan sifat narsis yang terkadang muncul <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-146" title="cimg5660" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5660-300x225.jpg" alt="cimg5660" width="174" height="130" />Ke Pangandaran rasanya tak lengkap jika tidak ke pasir putih. Arah barat laut dari Sunset hotel. Untuk mencapainya bisa dengan jalan darat atau jalan laut. Jika anda pilih jalan laut, yang tentunya lebih cepat dan menantang, anda harus lihai dalam menego supir perahu. Terdapat beberapa pilihan paket, yaitu hanya diantar ke pasir putih saja, mengelilingi pantai barat<img class="alignright size-thumbnail wp-image-169" title="cimg5654" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5654-150x150.jpg" alt="cimg5654" width="102" height="102" /> pangandaran saja atau paket setengah perjalanan, atau mengelilingi pantai barat hingga timur pangandaran atau paket kumplit. Pemandangan yang ditawarkan adalah gua sarang burung walet, karang-karang yang memiliki bentuk tertentu seperti batu kipas, karang iguana, karang buaya dan <img class="alignleft size-medium wp-image-147" title="cimg5620" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5620-300x225.jpg" alt="cimg5620" width="174" height="130" />karang kodok lompat, gaban atau rumah kecil di tengah laut, tempat nelayan menjaring ikan di malam hari, dan tentunya yang tak kalah menantang adalah gempuran ombak di sepanjang perjalanan. Betapa Allah telah menundukkan laut dan juga bahtera untuk manusia, agar laut itu bisa dilintasi dan agar nelayan dapat mencari penghidupan dengannya, dan agar kami bisa berfoto..hehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-150" title="cimg5669" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5669-225x300.jpg" alt="cimg5669" width="142" height="190" />Di pasir putih, petualangan takkan seru jika hanya berenang karena disana ada tempat wisata yang sayang jika tidak dikunjungi, diantaranya adalah gua-gua alam dan gua-gua jepang, tempat pertahanan diri dari tentara sekutu dan tempat pembantaian para pekerja romusha. Anda pun bisa tetap foto sambil bertualang asal pintar memilih tempat dan tema. Misalnya ”kemunculan dari gua bawah tanah” seperti kami <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Selama anda bisa menikmati setiap tempat yang anda kunjungi maka nikmatilah..sebelum itu hanya akan menjadi kenangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-152" title="dsc00154" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/dsc00154-300x225.jpg" alt="dsc00154" width="178" height="133" />Pilihan selain berenang adalah snorkling. Di pasir putih terdapat penyewaan alat snorkling lengkap, biasanya sudah sepaket dengan perjalanan naik perahu. Snorkling sambil menikmati taman laut kemudian pulang dengan menaiki kayu penyeimbang perahu berkecepatan tinggi di sisi kanan atau kiri tentu akan menjadi pengalaman tak terlupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika malam tiba, jangan lupa untuk berjalan-jalan ke pasar ikan di dekat pantai timur Pangandaran. Dari Sunset Hotel memang jauh, namun banyak becak yang setia menunggu. Konsep rumah makan di pasar ikan cukup unik, yaitu kita bisa pilih ikannya langsung di tempat. Tak lupa kami sarankan agar anda bertanya terlebih dahulu mengenai jumlah porsi untuk satu jenis makanan. Alih-alih anda hanya memesan 2 jenis makanan, malah terpaksa menghabiskan 4 porsi. Ya, karena 1 jenis makanan bisa dinikmati oleh 2 hingga 3 orang bahkan 4 orang.</p>
<p style="text-align: justify;">First Flight..</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-153" title="cimg5692" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5692-300x225.jpg" alt="cimg5692" width="195" height="145" />2 hari telah berlalu, saatnya kami untuk pulang dan berbenah rumah. Namun agenda berubah setelah Mas Trian mendapat email undangan training di Palembang selama 2 hari. Ahad kami pulang ke Bandung, Selasa pagi kami berangkat ke Palembang. Sungguh ini pengalaman pertama saya naik pesawat, berada dekat dengan awan-awan putih yang melayang, ada yang tebal, ada yang tipis. Dari ujung timur, mentari mulai meninggi, sinarnya melukis cakrawala dengan warna keemasan. Indah tak dinyana, terimakasih ya Allah, terimakasih Mas.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-156" title="cimg5771" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5771-150x150.jpg" alt="cimg5771" width="168" height="130" />Di palembang, kami berjalan-jalan ke tempat yang direkomendasikan seorang kawan, asli Palembang <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Tidak ada salahnya jika anda juga berkunjung ke tempat-tempat tersebut jika anda sekeluarga ke Palembang. Diantaranya adalah sentra songket yang tidak hanya menawarkan kain songket khas palembang tapi juga berbagai cindera mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk wisata kuliner, selain pempek ada martabak har, <img class="alignleft size-thumbnail wp-image-157" title="cimg5726" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5726-150x150.jpg" alt="cimg5726" width="167" height="121" />yaitu martabak mini semacam telur dadar yang berisi daging dengan bumbu kuah santan dan sambal. Untuk wisata religi, ada Mesjid Agung Palembang. Selain itu tentu harus menyempatkan diri untuk mengambil foto di tempat yang benar-benar khas Palembang. Apalagi jika bukan jembatan Ampera dan Sungai Musinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-171" title="triandika_ampera" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/04/cimg5767-300x225.jpg" alt="triandika_ampera" width="196" height="158" />Jembatan Ampera yang berdekatan dengan Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II terlihat lebih indah di malam hari. Dan tampaknya warga disana tak mengenal hari kerja maupun libur, sebab baik weekend maupun weekdays, lokasi tempat melihat jembatan Ampera yang gagah menjulang terlihat ramai.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu berjalan-jalan pun usai, kami harus kembali pada aktivitas rutin. Saya ke Bandung dan Mas Trian ke field. 2 minggu lagi baru bisa berjumpa. Alhamdulillah untuk kesempatan menikmati indahnya melintasi selat, Alhamdulillah untuk kesempatan memijak bumi sumatera selatan, Alhamdulillah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/04/02/dari-pangandaran-hingga-palembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
