<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Triandika Weblog &#187; Family</title>
	<atom:link href="http://triandika.net/category/family/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triandika.net</link>
	<description>Trian dan Dika Weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Dec 2009 05:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Safa Emira Asmoro</title>
		<link>http://triandika.net/2009/12/26/safa-emira-asmoro/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/12/26/safa-emira-asmoro/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 04:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Nama adalah do’a. Begitulah kami akhirnya memberikan nama kepada putri pertama kami, Safa Emira Asmoro. Safa, artinya kemuliaan, ketentraman. Safa adalah nama sebuah bukit di Tanah Arab, sebagai saksi perjuangan tak kenal menyerah ibunda Siti Hajar saat berlari-lari antara bukit Safa dan Marwah mencari air untuk bayinya yaitu Ismail. Perjuangan Siti Hajar itu diabadikan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama adalah do’a. Begitulah kami akhirnya memberikan nama kepada putri pertama kami, <strong>Safa Emira Asmoro</strong>.</p>
<p><strong>Safa</strong>, artinya kemuliaan, ketentraman. Safa adalah nama sebuah bukit di Tanah Arab, sebagai saksi perjuangan tak kenal menyerah ibunda Siti Hajar saat berlari-lari antara bukit Safa dan Marwah mencari air untuk bayinya yaitu Ismail. Perjuangan Siti Hajar itu diabadikan dalam rukun Haji Baitullah, semua muslim yang berhaji pasti melakukannya.</p>
<p>Kami berharap putri kami <strong>Safa</strong> juga mempunyai semangat bergerak dan berjuang. Musim Haji akan menjadi pengingat baginya karena nama nya selalu disebut umat muslim sedunia sebagai simbol perjuangan. Sebuah nama yang abadi untuk kebaikan.</p>
<p><strong>Emira</strong>, artinya pemimpin (Amir). Kami menggunakan nama Emir (bukan Amir) dengan beberapa alasan, pertama lebih kepada estetis nama perempuan saat ditambahkan ‘e’ di depannya. Kedua, Emira mengingatkan pada Uni Emirates Arab, sebuah Negara gabungan di Arab. Negara yang maju dengan Dubai sebagai pilarnya, menjadi “<em>queen on the desert</em>”. Sebuah perpaduan antara Islam dan modernisasi. Alasan ketiga akan dijelaskan di bawah.</p>
<p>Kami berharap putri kami <strong>Safa Emira </strong>akan mempunyai jiwa pemimpin, seorang pemimpin perempuan yang kuat dan bermanfaat. Dengan semangat modernisasi yang tinggi, dan tetap dengan kepribadian Islam yang luhur. Sebuah nama yang baik untuk peradaban.</p>
<p><strong>Asmoro</strong>, adalah cinta, kasih sayang. Asmoro adalah nama belakang Ayah nya. Selain arti yang diharapkan dari nama itu dan pertalian keluarga, Asmoro juga mewakili seorang Jawa. Putri kami ialah generasi masa depan, dan tetap menghargai lokalitas nya. Lokalitas yang tidak hanya mewakili Jawa atau Sunda, namun juga mewakili budaya Indonesia pada umumnya. Sebuah nama yang sederhana untuk kesahajaan.</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0115.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-297" title="Safa" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0115-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Kami berharap putri kami <strong>Safa Emira Asmoro </strong>akan<strong> </strong>menjadi<strong> </strong>pemimpin perempuan mulia yang memberikan ketentraman dan cinta kasih dengan semangat modernisasi dan Islam untuk peradaban.</p>
<p>Dan akronim nama putri kami adalah <strong>SEA</strong>, yaitu laut. Ini alasan ketiga nama diatas, dan mewakili sebuah harapan yang lain seperti halnya sebuah laut. Laut itu luas dan dalam, kami berharap putri kami mempunyai hati selapang dan seluas lautan, semakin diselami semakin tampak keindahannya. Kami berharap ia juga memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, dengan resapan hati nurani yang dalam.</p>
<p>Laut itu tempat hidup berjuta biota, siklus kehidupan dari air hujan pun dimulai dari laut yang menguap. Sekalipun banyak ketidakbaikan yang diberikan manusia kepada laut, namun laut selalu setia memberikan kemanfaatan  untuk  makhluk hidup di dunia.</p>
<p>Siapa yang tidak menyukai pantai? Desir ombaknya, hamparan pasir putihnya, kemilau airnya membuat semua hati merindukannya. Laut adalah keindahan, keluasan tak bertepi, kedamaian dan kesahajaan. Dan kami berharap putri kami <strong>Safa Emira Asmoro</strong> (<strong>SEA</strong>) adalah laut di tengah keluarga kami dan juga di tengah masyarakat.</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0113.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-296" title="Safa1" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0113-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Nama adalah do’ a, maka kami mengucapkan terima kasih yang tulus atas do’a dari bapak, ibu, teman, sahabat, rekan, dan handai taulan semua. Semoga Allah SWT mengabulkan do’a kami ini, amin.</p>
<p><em>@<a href="http://triandika.net/">triandika</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/12/26/safa-emira-asmoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik menjadi Ibu</title>
		<link>http://triandika.net/2009/12/24/detik-menjadi-ibu/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/12/24/detik-menjadi-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 05:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika.amelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu tanggal 18 Desember, saya merasakan mulas yang begitu kuat. Dari jam 11 malam, rasa mulas itu timbul akibat kontraksi yang berlangsung rutin 5 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 50 menit. Jam 1 malam, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga Depok. Bidan jaga kemudian memeriksa tingkat pembukaan jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu tanggal 18 Desember, saya merasakan mulas yang begitu kuat. Dari jam 11 malam, rasa mulas itu timbul akibat kontraksi yang berlangsung rutin 5 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 50 menit. Jam 1 malam, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga Depok. Bidan jaga kemudian memeriksa tingkat pembukaan jalan lahir saya yang ternyata masih pembukaan 2. Kemudian dilakukan CTG atau pemeriksaan jantung bayi selama 20 menit. Karena pergerakan janin kurang aktif saat itu, bidan memberi saya oksigen untuk dihirup selama 1 jam lalu dilakukan pemeriksaan CTG kembali. Saat itu jam 4 pagi, saya dipindahkan ke ruang rawat inap sambil menunggu pembukaan beranjak meningkat.</p>
<p>Hingga pukul 7 pagi, saya baru sampai pada tingkat pembukaan 5. Setelah itu saya kembali ke ruang bersalin untuk menunggu sampai pembukaan lengkap. Karena mulas yang saya alami masih lemah sehingga pembukaan meningkat dalam waktu yang cukup lama, maka setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan saya lewat telepon, bidan memberi saya obat untuk induksi kontraksi. Saat itu dokter memang tidak berada di tempat, sehingga untuk proses pembukaan saya dibantu oleh para bidan jaga. Tidak hanya diinduksi melalui infus, ketuban saya juga dipecahkan untuk merangsang kontraksi.</p>
<p>Setelah diinduksi saya mulai merasakan kontraksi yang lebih kuat dan durasinya lama setiap sekitar 2 menit sekali. Pernah karena saking tidak kuat menahan rasa sakit, saya sempat menendang besi tempat tidur di kampar bersalin. Dengan bantuan induksi, jam 8 saya sudah sampai pada tingkat pembukaan 8. Saat itu dokter ahli kandungan saya baru saja tiba. Menjelang pembukaan lengkap, kontraksi semakin kuat dan rasa ingin mengejan semakin besar. Bu bidan mengingatkan saya untuk melakukan posisi persalinan litotomi seperti yang telah diajarkan di kelas senam hamil.</p>
<p>Dengan sigap, suami saya juga membantu untuk mengangkat kepala saya saat mengejan. Jadi tekniknya, dalam posisi terlentang atau setengah duduk, angkat kedua kaki dan kaitkan dengan lengan hingga batas siku. Setelah itu tarik nafas panjang, kepala diangkat, mengejan dengan kuat sambil melihat perut, lalu buang nafas lewat mulut. Meskipun saya sudah ikut kelas hamil sebanyak 6 kali pertemuan, ternyata pada hari-H rasa panik membuat saya lupa akan teori-teori tersebut. Rasa mulas pun muncul ketika pembukaan lengkap, dan dokter bersama bidan meminta saya untuk mengejan.</p>
<p>Saya mengejan sebanyak 6 kali hingga akhirnya bayi mungil itu keluar. Suara tangis pun pecah dan saya merasa lega, alhamdulillah. Sungguh suatu momen perjuangan alamiah yang sangat berat sehingga pantas orang-orang  menyebut proses melahirkan seperti antara hidup dan mati.</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0087.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-291" title="Dede Lahir" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0087-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tapi ternyata rasa sakit yang lebih hebat lagi terjadi pasca melahirkan. Ada bagian ari-ari dalam rahim saya yang tertinggal, menempel pada rahim. Dokter kemudian mengambil potongan ari-ari itu dengan cara memasukkan seluruh tangannya ke dalam rahim saya. Masya Allah, pada saat itu saya menjerit tak kuasa menahan sakit. Setelah bayi keluar, lalu kemudian IMD (Inisiasi Menyusui Dini), saya pun harus dijahit. Itu karena saya mengejan terlalu cepat sehingga otot perineum robek. Padahal beberapa kali pada trimester akhir saya coba belajar senam perineum di rumah untuk melenturkan otot tersebut ketika melahirkan.</p>
<p>Kemudian dokter dengan sigap menyuntikkan 3 ampul obat bius lokal. Saat jarumnya menyentuh kulit, entah kenapa saya merasa obat bius lokal tersebut tidak mempan, sebab rasanya masih sakit. Dan secara refleks, otot-otot yang akan dijahit mejadi kaku sehingga menyulitkan dokter untuk menjahitnya. Berkali-kali dokter menyuruh saya untuk rileks. Namun tetap saja saya tidak bisa rileks hingga akhirnya dokter ’mengancam’ dengan menawarkan saya 2 pilihan, yaitu rileks karena saya sudah dibius lokal sebanyak 3 ampul sehingga rasa sakit akan berkurang atau bius total tapi tidak akan bisa menyusui bayi dalam waktu yang lama.</p>
<p>Mendengar ’ancaman’ tersebut, saya tentu memilih opsi pertama, saya paksakan otot saya rileks. Jutaan energi positif saya coba hadirkan untuk membantu, sambil tak henti meminta kekuatan kepada Allah. Proses menjahit pun berlangsung cukup cepat dan alhamdulillah selesai sekitar pukul 9.15.</p>
<p>Seharusnya pada persalinan normal, ibu yang habis melahirkan harus sudah bisa jalan untuk menengok bayinya. Tapi karena tensi saya sempat drop, 90/60 mmHg, dan juga masih terasa pening, saya baru bisa bangun pada pukul 13.00. Pada waktu itu saya diantar ke ruang rawat inap dan beberapa jam setelahnya, bayi mungil itu pun diantar untuk memenuhi kerinduan keluarganya yang menunggu di kamar saat itu. Rasa rindu pun terbayar sudah..karena bersama akan lebih indah.</p>
<p>Selamat datang di dunia, putriku sayang.. [ ibumu ]</p>
<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0099x.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-292" title="DSCN0099x" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0099x-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><em>@<a href="http://triandika.net/">triandika</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/12/24/detik-menjadi-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putri kami menyapa dunia</title>
		<link>http://triandika.net/2009/12/20/putri-kami-menyapa-dunia/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/12/20/putri-kami-menyapa-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 23:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Depok, 19 Desember 2009, Jam 08.46 Berat 3.265 Kg, Panjang 50 Cm Alhamdulillah&#8230; @ triandika]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0084.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-287" title="Menyapa Dunia" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/12/DSCN0084-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Depok, 19 Desember 2009, Jam 08.46</p>
<p>Berat 3.265 Kg, Panjang 50 Cm</p>
<p>Alhamdulillah&#8230; <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://triandika.net/"><em>@ triandika</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/12/20/putri-kami-menyapa-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>9 Bulan Menjalin Kisah</title>
		<link>http://triandika.net/2009/11/02/9-bulan-menjalin-kisah/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/11/02/9-bulan-menjalin-kisah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 09:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika.amelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari pertemuan kami di sebuah mesjid di kota Bandung, tempat dimana akad diucapkan, disaksikan puluhan pasang mata yang ikhlas datang tuk memberi doa restu. Hari itu, tanggal 1 Februari 2009, kami mengikat janji, mengambil amanah untuk menjadi sepasang suami istri. Kehidupan rumah tangga pun dimulai. Begitu manis, begitulah mungkin tahun-tahun pertama yang dirasakan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari pertemuan kami di sebuah mesjid di kota Bandung, tempat dimana akad diucapkan, disaksikan puluhan pasang mata yang ikhlas datang tuk memberi doa restu. Hari itu, tanggal 1 Februari 2009, kami mengikat janji, mengambil amanah untuk menjadi sepasang suami istri.</p>
<p>Kehidupan rumah tangga pun dimulai. Begitu manis, begitulah mungkin tahun-tahun pertama yang dirasakan oleh setiap pengantin baru. Hari berganti hari, karakter masing-masing mulai tampak jelas. Kebiasaan, cara mengambil keputusan, respon terhadap sebuah permasalahan, hingga manajemen waktu pun mulai membuka mata istri dan suami. Di tahun pertama pernikahan, atau bahkan mungkin seumur hidup, pekerjaan suami dan istri dalam rumah tangga adalah saling beradaptasi.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-284" title="Positif!" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Positif1-67x300.jpg" alt="Positif!" width="40" height="180" />Pertengahan April 2009, setelah seminggu saya terlambat datang bulan, saya tes kehamilan dengan test pack. Malam itu sekitar jam 3, saya terbangun dan segera mengambil sampel urin pertama. Setelah beberapa menit, 2 garis berwarna merah pun muncul. Bergegas saya sampaikan hal ini pada mas Trian dengan tangan yang gemetar memegang test pack yang positif tersebut. Air mata pun jatuh berderai. Saya memeluknya erat seolah meminta agar ia menyadarkan saya bahwa ini bukanlah mimpi. “Alhamdulillah..”. Hanya itu kata yang keluar dari bibirnya. Terasa detak jantungnya semakin kuat dan nafasnya tertahan, bersusah payah menenangkan saya dan mencegah air matanya tak tertumpah. Benarkah secepat ini kami diberi kepercayaan menjadi orang tua, benarkah, pantaskah? Tapi bukankah salah satu tujuan pernikahan itu adalah untuk melestarikan keturunan? Agar kelak generasi masa depan lebih baik dari generasi kami. Dalam hening subuh kami hanyut dengan perasaan kami sendiri. Bahagia, ya, kami bahagia..</p>
<p>Beberapa hari setelah itu, kami pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan. Disana, di monitor USG, kami melihat sebuah titik hitam yang menunjukkan ada calon manusia berada dalam rahim saya. Ini memang bukan mimpi, ini nyata. Dengan minimnya pengalaman kami, dan juga kota depok adalah kota yang baru bagi kami, maka untuk memilih dokter dan rumah sakit bersalin, kami mengandalkan internet dan juga nasehat dari saudara yang sudah lama tinggal di depok. Dengan pertimbangan berupa biaya, jarak, fasilitas, kebijakan rumah sakit tentang IMD dan rawat gabung akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada rumah sakit Mitra Keluarga, dengan dr.Sintha Utami sebagai konsultan. Setiap bulan kami rutin memeriksakan kandungan. Melalui USG kami bisa melihat kondisi bayi kami, detak jantungnya dan panjang tubuhnya. Pada bulan-bulan mendatang, melalui USG, informasi mengenai berat janin sudah mulai ketahuan. Dokter hanya membuat garis-garis pada bagian yang katanya kepala dan perut. Keluarlah angka-angka dan singkatan-singkatan yang jika dikombinasikan akan memberi informasi berat janin. Saya ingin sekali bertanya tentang singkatan-singkatan itu, namun rasanya dokter akan mengira hal itu tidak penting untuk ditanyakan. Yang penting bagi seorang wanita hamil adalah tahu janinnya normal dan baik-baik saja. Sepulang ke rumah, saya segera menjelajahi internet untuk mempelajari singkatan-singkatan itu. Inilah informasi yang saya dapatkan :</p>
<p>CRL (Crown Rump Length) : Ukuran jarak dari puncak kepala ke ’ekor’ bayi untuk mengukur usia kehamilan trimester 1.</p>
<p>BPD (Biparietal Diameter) : Ukuran diameter tulang pelipis kiri dan kanan, untuk mengukur usia kehamilan trimester 2 dan 3.</p>
<p>FL (Femur Length) : Ukuran panjang tulang paha bayi. Untuk mengukur usia kehamilan trimester 2 dan 3.</p>
<p>AC (Abdonimar circum ferencial) : Ukuran lingkar perut bayi. Untuk mengukur usia kehamilan trimester 2 dan 3.</p>
<p>Jika AC dikombinasikan dengan FL dan BPD akan menghasilkan perkiraan berat bayi (EFW).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-277 aligncenter" title="Picture1" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Picture1-300x126.jpg" alt="Picture1" width="333" height="140" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-278 aligncenter" title="Picture2" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Picture2-300x164.jpg" alt="Picture2" width="323" height="176" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-279" title="Picture3" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/11/Picture3-300x182.jpg" alt="Picture3" width="331" height="192" /></p>
<p>Bagi para calon ibu hendaknya memiliki tabel perkembangan janin yang dapat diunduh di internet atau di buku-buku perkembangan janin dalam kandungan. Selain itu, mempersiapkan bahan konsultasi sejak dari rumah juga diperlukan terutama bagi calon ibu yang kesulitan berimprovisasi dalam konsultasi spontan dengan dokter, seperti saya <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Hal-hal yang sepele pun juga lebih baik ditanyakan daripada dipendam dan menyesal setelah sampai rumah.</p>
<p>Bulan Ramadhan, tepatnya 11 September 2009, saya check up rutin ke dokter. Kali ini tidak diantar mas Trian seperti biasanya, tapi ditemani ibu. Saat itu usia kandungan telah mencapai 179 hari atau sekitar 6 bulan. Saat pemeriksaan berlangsung, dokter menemukan keganjalan. Ia mengatakan ada pelebaran ventrikel lateral sekitar 0,97 cm. Kontan saya kaget dibuatnya. Saya menebak ada kelainan jantung karena dokter menyebut istilah ventrikel. Ternyata yang dimaksud dengan ventrikel adalah bagian dari otak. Oleh karena itu saya diminta untuk tes TORCH yang biayanya cukup mahal, sekitar 1,6 juta. Sepulang dari dokter, seperti biasa saya mencari informasi di internet tentang pelebaran ventrikel lateral. Sungguh apa yang saya peroleh dari internet membuat saya tercengang, takut tak terkatakan. Pelebaran ventrikel lateral, apalagi jika sudah sampai 10 mm dapat menyebabkan hidrosefalus. Hidrosefalus?? Dan pelebaran ventrikel lateral salah satunya disebabkan oleh infeksi toksoplasma, karena itu dokter meminta saya tes TORCH. Dunia serasa sempit dan gelap. Mengutuk diri sendiri karena telah teledor menjaga kesehatan ‘si kecil’. Makanan apa yang telah saya makan, zat kimia berbahaya apa yang telah saya telan, benarkah karena aktivitas di laboratorium selama ini, benarkah karena saya sering pp depok-bandung? Seharusnya saya mendengar nasehat teman-teman untuk berhati-hati menjaga kandungan. Astagfirullah, hari itu betapa saya merasa bersalah. Sepanjang malam terus mengusap perut sambil berdoa agar apa yang saya takutkan tidak terjadi. Ya Rabb, maafkan hamba..</p>
<p>1 minggu berlalu dan hasil pemeriksaan TORCH keluar. IgM semuanya negatif, sedangkan IgG positif dan HI avidity. Hasil pemeriksaan USG berikutnya pun Alhamdulillah tidak ditemukan pelebaran ventrikel lagi. Subhanallah..</p>
<p>Bagi para calon ibu, hendaknya selalu memperhatikan makanan yang dimakan setiap hari. Perhatikan tingkat kematangan dan kebersihannya. Hindari steak yang digoreng setengah matang, hindari jajanan yang higienitasnya diragukan, hindari sayuran yang belum dimasak.. Jika ada waktu dan rezeki, jangan lupa untuk memeriksa TORCH di lab-lab rumah sakit.</p>
<p>Hari ini, usia kandungan saya telah mencapai 33 minggu atau sekitar 8 bulan. Artinya telah 9 bulan kami merangkai kisah. Hari-hari menjelang persalinan mungkin tidak akan terasa. Beberapa teman silih berganti menyampaikan kabar gembira mengenai kelahiran putra dan putri mereka. Begitu banyak cerita yang mereka bagi dan semoga kami bisa mengambil pelajaran.. Mohon doa dari rekan-rekan agar kami diberi kesabaran, keikhlasan dan rasa kasih sayang dalam mendidik putra/i kami kelak.  Begitu pun dengan rekan-rekan yang telah mendahului kami..Dan yang antri di belakang kami <img src='http://triandika.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://triandika.net/">triandika.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/11/02/9-bulan-menjalin-kisah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What&#8217;s Next</title>
		<link>http://triandika.net/2009/10/30/whats-next/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/10/30/whats-next/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 15:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika.amelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian uji argumentasi dalam aula hikmah, dengan seminar dan sidang, akhirnya momen yang dinanti-nanti oleh setiap mahasiswa pun tiba, wisuda. Bersama dengan 400 mahasiswa pasca sarjana lainnya, saya dilantik menjadi magister pada tanggal 23 Oktober 2009. Ada sebuah keharuan karena untuk mencapai tahap ini perlu upaya yang sangat menguras tenaga, pikiran dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian uji argumentasi dalam aula hikmah, dengan seminar dan sidang, akhirnya momen yang dinanti-nanti oleh setiap mahasiswa pun tiba, wisuda. Bersama dengan 400 mahasiswa pasca sarjana lainnya, saya dilantik menjadi magister pada tanggal 23 Oktober 2009. Ada sebuah keharuan karena untuk mencapai tahap ini perlu upaya yang sangat menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Tak jarang harus pulang pergi bandung-depok untuk menemui suami yang bekerja dengan system 2 minggu on site dan 2 minggu off, harus juga pulang pergi bandung-jakarta untuk menganalisis sampel di labkesda jakarta timur, mengerjakan project dosen sambil mempelajari instrumen analisis di farmasi, pulang maghrib, pergi pagi, hamil. Alhamdulillah, betapa leganya ketika semua berhasil dilewati dan diakhiri dengan manis. Namun ada juga sebuah tanya, what’s next? Ya, lalu apa yang akan saya lakukan setelah memperoleh gelar ini. Bermacam-macam rencana pun dibuat sebelum toga ini dikenakan. Rencana untuk terus beraktivitas, terus belajar, terus bermanfaat. Namun rencana-rencana itu sempat tertunda karena pertimbangan kehamilan yang sudah masuk bulan tua. Jika rencana itu terlaksana maka akan ada yang dikorbankan, sekilas terpikir seperti itu. Namun meski rencana belum terlaksana sekarang, bukan berarti puasa aktivitas, setidaknya itu komitmen yang dibangun saat saya berdiskusi dengan suami. Hamil bukanlah sebuah penghalang bagi wanita untuk terus berkarya dan bermanfaat. Dan pilihan untuk beraktivitas hendaknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing calon bunda.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="size-medium wp-image-266 aligncenter" title="DSCN0318" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/10/DSCN0318-300x225.jpg" alt="DSCN0318" width="266" height="206" /><br />
Wisuda kali ini memang berbeda. Gedung yang biasa dipadati oleh sekitar 3000 orang yang terdiri dari 1000 wisudawan dan 2000 undangan, kini hanya diisi oleh sekitar 1200 orang saja, karena ada pemisahan waktu wisuda sarjana dan pasca sarjana. Lebih cepat dan hikmat. Meski acaranya sama dengan model wisuda tahun-tahun sebelumnya, para wisudawan dan undangan terkesan menikmati acara ini. Berbagai prestasi yang diraih oleh mahasiswa-mahasiswi ITB disampaikan dalam sambutan rektor, kemudian disambut dengan riuh tepuk tangan. Kagum dengan capaian anak bangsa yang menembus dunia internasional dalam ajang persaingan teknologi, budaya dan seni. Dalam buramnya potret kehidupan pemuda indonesia, masih ada secercah terang dari lilin yang dinyalakan oleh para pemuda harapan bangsa. Berbagai judul tesis dan disertasi menghiasi buku wisuda. Berharap judul-judul itu tidak hanya sekedar kalimat yang menjejali rak-rak perpustakaan ITB, tapi juga menjelma menjadi produk-produk yang memasyarakat.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="size-medium wp-image-267 aligncenter" title="DSCN0324" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/10/DSCN0324-300x225.jpg" alt="DSCN0324" width="276" height="207" /></p>
<p>Beberapa rekan telah siap-siap pulang ke daerahnya masing-masing untuk melanjutkan kerja. Ya memang sebagian besar mahasiswa S2 si Farmasi adalah dosen di universitas-universitas negeri dan swasta di berbagai daerah yang mendapat beasiswa. Ada juga rekan yang setelah diwisuda, keesokan harinya ikut psikotes CPNs. Mungkin sedikit saja mahasiswa yang menganggur pasca wisuda, karena hampir 80% (agaknya) telah bekerja sebelum kuliah. Dan saya termasuk yang sedikit itu. Mudah-mudahan kelak ketika bayi kami lahir dan sudah siap untuk ditinggal ibunya bekerja, rencana-rencana aktivitas bisa terlaksana.amin</p>
<p>Ngomong-ngomong tentang pascasarjana, saya teringat dengan pertanyaan seorang adik kelas yang diajukan pada saya dan beberapa rekan S2. &#8220;teteh kuliah S2 mau jadi dosen ya?&#8221;, tanyanya. Jawaban pun berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Namun saya terkesan dengan jawaban seorang teteh yang menggambarkan misinya mengikuti kuliah S2. Jawabnya adalah &#8220;Gak, saya gak bermaksud menjadi dosen. Saya kuliah lagi untuk mengembangkan pola pikir saya. Untuk anak saya&#8221;. Dengan kuliah, sang ibu berharap bisa lebih maju, lebih berwawasan, lebih terstruktur, lebih bijak, sehingga kelak itu bisa menjadi modal baginya dalam mendidik putra-putrinya. Memang bukan sebuah jaminan bagi seorang wanita dengan pendidikan lebih tinggi akan mencetak generasi yang lebih baik. Namun apa yang ia pelajari di bangku kuliah pascasarjana, ditambah dengan up date informasi terkini seputar pendidikan anak, bisa menjadi nilai tambah.</p>
<p>Wisuda memang sudah selesai, tapi janji yang dikumandangkan masih terus menggema.&#8221;&#8230;untuk terus menuntut ilmu&#8230;dengan ketekunan dan kesadaran&#8230;bagi kesejahteraan bangsa Indonesia..&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/10/30/whats-next/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Keuangan Pra Nikah</title>
		<link>http://triandika.net/2009/01/09/mengelola-keuangan-pra-nikah/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/01/09/mengelola-keuangan-pra-nikah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 12:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Merupakan sebuah tantangan untuk mengelola keuangan pra nikah, dimana ‘tidak mengandalkan’ orang tua sebagai domainnya. Singkatnya, semua harus dipersiapkan. Ini artinya kita membicarakan perencanaan (planning) yang matang. Hal yang kami alami dalam mempersiapkan pernikahan bukan hanya biaya pernikahan saja melainkan juga perihal rumah yang datang di “saat yang tepat”. Meski sebenarnya rumah dan menikah sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merupakan sebuah tantangan untuk mengelola keuangan pra nikah, dimana ‘tidak mengandalkan’ orang tua sebagai domainnya. Singkatnya, semua harus dipersiapkan. Ini artinya kita membicarakan perencanaan (<em>planning</em>) yang matang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Hal yang kami alami dalam mempersiapkan pernikahan bukan hanya biaya pernikahan saja melainkan juga perihal rumah yang datang di “saat yang tepat”. Meski sebenarnya rumah dan menikah <a href="http://3an.blogspot.com/2008/10/kenapa-mulai-dengan-rumah.html">sudah direncanakan dengan matang</a>, namun ternyata dalam prakteknya, pengaturan dan pengalokasian keuangan tetaplah menantang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Pertama adalah menikah yang akan dilaksanakan pada 1 februari 2009. <span id="more-39"></span>Pada saat itu telah jelas teralokasikan rancangan kebutuhan dana pernikahan. </span><span lang="SV">Tentu ini tidak terlepas dari pertama kali mendapatkan penghasilan. Hal yang menurut saya harus juga dilaksanakan oleh para lajang yang sudah bekerja untuk selalu <a href="http://3an.blogspot.com/2007/07/belajar-mengelola-keuangan.html">mengelola keuangan</a> demi tujuan yang lebih besar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pelajaran dalam menyiapkan dana pernikahan adalah siapkan alokasi dana untuk masing-masing tahap, misalnya untuk biaya lamaran (termasuk akomodasinya), akomodasi saat pernikahan, mahar, dan pastinya biaya pernikahan itu sendiri. Biaya pernikahan bisa dibicarakan bersamaan dengan bentuk pernikahan seperti apa yang akan diselenggarakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kami berprinsip bahwa pernikahan adalah peristiwa sakral yang harus disyukuri dengan resepsi (walimah) sederhana namun pantas. Jadi, alangkah sayang jika pernikahan dilaksanakan dengan ’berlebihan’, karena dananya bisa digunakan untuk keperluan lainnya semisal rumah beserta isinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><img class="alignleft size-medium wp-image-49" title="rumah" src="http://triandika.net/wp-content/uploads/2009/01/dsc00016-300x225.jpg" alt="rumah" width="190" height="144" />Kedua adalah rumah, yang mendapatkan titik terang. Melalui fase DP, pengurusan di kantor dan akhirnya proses transaksi serta notaris, semuanya memerlukan biaya. Dengan ”tidak mengganggu” dana pernikahan, maka Alhamdulillah <a href="http://3an.blogspot.com/2008/11/menjadi-warga-depok.html">kepemilikan rumah</a> berproses dengan cukup lancar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Namun kepemilikan rumah yang ditunjukan dengan sertifikat itu masih belum cukup, karena ada keinginan untuk benar-benar menyiapkan rumah yang ’layak huni’ untuk ditempati setelah pernikahan. Maka muncullah agenda ’beberes rumah’, yang dari awal rencana tidak banyak namun pada prakteknya menjalar ke beberapa sisi lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Inilah moral yang harus di ambil dalam memperbaiki rumah, bahwa perencanan harus cukup detil sehingga kemungkinan pembengkakan biaya bisa terprediksi. Dan pastinya, siapkan jumlah batas atas dana yang tersedia untuk perbaikan rumah, karena jika batas atas terlewat maka akan besar potensi untuk merusak alokasi yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dengan dua ’agenda besar’ pararel yakni persiapan pernikahan dan beberes rumah, maka dibutuhkan bantuan team dengan komunikasi yang baik. Pernikahan dengan bantuan panitia dan keluarga, sedang beberes rumah dengan tukang yang terpercaya (dan tetap dengan harga wajar). Sebagai tambahan, kondisi pekerjaan yang mengharuskan hanya 12 hari dalam sebulan tidak berada di Palembang, maka harus mengatur kapan masuk kantor Jakarta, beberes rumah di Depok, serta persiapan teknis di Bandung dan Magetan. Disinilah tantangan yang praktis dihadapi khususnya dalam 2 bulan terakhir menjelang pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lalu ke depannya, kami sudah jelas akan menghadapi tentang ’isi rumah’, menyelesaikan S2, dan pastinya rencana kami dalam pengelolaan <a href="http://3an.blogspot.com/2008/07/keuangan-masa-depan.html">keuangan pasca pernikahan</a>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sekali lagi adalah <em>planning</em> keuangan yang matang, nyatakan di awal apa yang ingin kita tuju di masa depan. Pernikahan, rumah, atau sekolah disertai dengan turunan kebutuhan yang cukup detil perihal plan tersebut. Sehingga akan di dapatkan berapa yang harus kita tabung atau investasi kan sesuai dengan <em>time frame</em> nya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dan dengan usaha dan do’a, insyaAllah kelancaran itu akan datang pada waktunya. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/01/09/mengelola-keuangan-pra-nikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
