<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Triandika Weblog &#187; Culture</title>
	<atom:link href="http://triandika.net/category/culture/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triandika.net</link>
	<description>Trian dan Dika Weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Dec 2009 05:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Mengikuti Rencana Indah Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka</title>
		<link>http://triandika.net/2009/01/11/mengikuti-rencana-indah-hayam-wuruk-dyah-pitaloka/</link>
		<comments>http://triandika.net/2009/01/11/mengikuti-rencana-indah-hayam-wuruk-dyah-pitaloka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 11:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triandika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triandika.net/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Setelah berlalu lebih dari 650 tahun, Perang Bubat, perang tak seimbang yang menyebabkan kematian seluruh rombongan Kerajaan Sunda yang dipimpin Prabu Maharaja Linggabuana, termasuk sang putri Dyah Pitaloka yang hendak menikah dengan Hayam Wuruk dari Majapahit, ternyata masih menyisakan luka hingga saat ini. Selain tak ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Majapahit di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="FI">Setelah berlalu lebih dari 650 tahun, Perang Bubat, perang tak seimbang yang menyebabkan kematian seluruh rombongan Kerajaan Sunda yang dipimpin Prabu Maharaja Linggabuana, termasuk sang putri Dyah Pitaloka yang hendak menikah dengan Hayam Wuruk dari Majapahit, ternyata masih menyisakan luka hingga saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Selain tak ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Majapahit di Bandung dan sejumlah kota lain di Jawa Barat, salah bentuk luka yang tersisa itu adalah larangan, atau setidaknya keberatan, bagi orang Sunda untuk menikah dengan orang Jawa. Begitu juga sebaliknya. Meski makin lama makin hilang—dan kita tentu berharap begitu—ada kalangan yang menilai pernikahan antara lelaki Sunda dan wanita Jawa tak akan membentuk rumah tangga yang harmonis. Namun kalangan lain justru menganggap pernikahan antara lelaki Jawa dan wanita Sundalah yang sulit menghasilkan rumah tangga yang serasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sejak kapan larangan-atau keberatan-seperti itu ada? <span id="more-54"></span>Menurut catatan sejarah, sejak pemerintahan Bunisora (1357-1371) hingga pemerintahan Niskala Wastukancana (1371-1475), kerabat keraton Kawali (ibu kota Kerajaan Sunda) ditabukan berjodoh dengan keluarga keraton Majapahit. Sanksi atas larangan ini bukan main-main.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Salah satu contohnya, pada 1478, Prabu Dewa Niskala, anak Wastukancana yang menggantikan posisi ayahnya di Galuh, mengawini wanita cantik anggota rombongan pendukung Prabu Kertabumi yang pengungsi dari Majapahit karena diserang Prabu Girindrawardhana. Di sini Dewa Niskala melanggar dua larangan. Pertama, ia mengawini anggota keraton Majapahit. Kedua, wanita itu sebetulnya sudah bertunangan sehingga statusnya <em>rara hulanjar</em> (istri larangan), yang dilarang dikawini oleh lelaki selain tunangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Perkawinan itu membuat Prabu Susuktunggal, kakak Dewa Niskala, yang bertakhta di Pakuan (ibu kota Sunda), marah besar. Ia menganggap sang adik telah menodai <em>purbatisti-purbajati</em> keraton seperti diamanatkan ayah mereka, Wastukancana. Namun Dewa Niskala menganggap kakaknya terlalu ikut campur urusan intern Kerajaan Galuh. Konflik memuncak ketika Susuktunggal mengancam memutuskan hubungan kekeluargaan dengan Galuh, bahkan jika perlu menggempur kota Kawali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Melihat konflik makin genting, para pemuka dari Kerajaan Sunda dan Galuh bermusyawarah. Dicapai kesepakatan bahwa keduanya, Susuktunggal dan Dewa Niskala, meletakkan takhta. </span><span lang="FI">Kedua raja yang bertikai itu mematuhi keputusan itu dan meletakkan takhta pada 1482.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">**</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Bunisora dan Wastukancana pasti memiliki alasan yang kuat untuk menabukan perkawinan antara kerabat keraton Sunda dan Majapahit. Namun kita harus melihat bahwa tabu itu hanya berlaku di antara kedua keraton. Mestikah warga kebanyakan mengikuti tabu yang sama?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Di sisi lain, ada dua hal yang patut menjadi catatan. </span><span lang="SV">Pertama, larangan itu berlaku berabad-abad yang lalu. Kedua, bila kita telusuri, rencana perkawinan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka ada kaitannya dengan upaya mempersatukan dua saudara yang terpisah jauh. Ya, baik Hayam Wuruk maupun Dyah Pitaloka memiliki leluhur yang sama, yakni Prabu Darmasiksa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kenapa kita tidak mengikuti langkah yang direncanakan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka, yang sayangnya gagal terwujud?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tentu sudah tertulis dalam rencana Tuhan bahwa pertemuan antara Trian Hendro Asmoro dan Dika Amelia Ifani sedikit banyak difasilitasi oleh terbitnya buku Dyah Pitaloka (DP), Senja di Langit Majapahit. Trian adalah pemuda asal Magetan, Jawa Timur, dan Dika asal Bandung, Jawa Barat. Keduanya sama-sama menyukai buku DP dan diskusi di antara keduanya makin membuka jalan ke arah hubungan yang lebih dalam dan bahkan akhirnya bermuara pada rencana mempersatukan hubungan itu dalam mahligai pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Boleh jadi, semula ada hambatan sepanjang perjalanan hubungan mereka, baik karena sisa luka masa lalu maupun karena alasan lain. Namun sungguh indah kalau rencana mulia mereka kita bandingkan dengan rencana pernikahan Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk -meskipun levelnya tentu saja berbeda- yakni menyatukan lagi dua saudara yang terpisah jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Semoga pernikahan Trian-Dika lancar, mewujudkan rencana indah Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka. </span><span lang="SV">Amin</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>Hermawan Aksan</strong><br />
<em>Penulis <a href="http://3an.blogspot.com/2007/04/perang-bubat-dyah-pitaloka-dan.html">Dyah Pitaloka</a> dan <a href="http://dikaameliaifani.blogspot.com/2008/12/niskala.html">Niskala</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triandika.net/2009/01/11/mengikuti-rencana-indah-hayam-wuruk-dyah-pitaloka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
