Triandika Weblog Rotating Header Image

MCB vs Power Load di Rumah

MCB rumah

Gambar diatas adalah MCB (Main Circuit Breaker) yang terpasang di rumah. Background saya bukan Elektro, namun secara umum prinsipnya MCB membagi beban listrik ke blok-blok instalasi dalam rumah tersebut, semacam beberapa pintu untuk masuk rumah. MCB dipasang setelah meter utama (PLN), dan umumnya rumah standard instalasi listrik nya langsung dari meter utama ke rumah (tanpa MCB). Karena MCB semacam pintu, maka ada kapasitas maksimal nya. Ambil contoh 1000 watt untuk 1 Circuit Breaker/CB (jadi gambar diatas total nya 4000 watt), sehingga jika 1 CB menahan beban > 1000 watt maka normalnya breaker akan drop (putus). Pun jika ada gangguan (ex: konslet) dalam blok tersebut, maka hanya 1 breaker drop dan tidak akan mengganggu CB lainnya dan meter utama. Kecuali jika total beban semua CB melebihi daya utama (type ruma tangga kecil 450, 900, 1200, 2200 watt) maka meter utama akan drop.

Kasusnya di rumah kami, daya listrik menggunakan 2200 watt dimana MCB nya; CB 1 untuk listrik utama lantai dasar (semua lampu dan stop kontak untuk lemari es, mesin cuci, dispenser, magic jar, kipas angin, exhaust fan dapur, setrika jika terpakai, tv termasuk accessoriesnya nanti, dll), CB 2 untuk semua beban ruang atas termasuk AC 1 pk, CB 3 khusus untuk AC 1 pk kamar bawah, dan CB 4 khusus lampu kamar mandi utama. Sangat terlihat beban yang tidak seimbang antar CB, CB 1 sangat berat sedang CB 4 sangat ringan. Tidak heran jika CB 1 sering drop dan kadang membuat meter drop juga.

Maka solusinya, saya meminta tukang listrik untuk mempararelkan CB 1 dan 4 sehingga beban nya menjadi beban bersama. CB 1 dan 4 akan drop jika beban nya melebihi gabungan kapasitas CB 1+4 (atau beban melebihi meter utama). Praktis jika keluar rumah dalam jangka waktu lama, kalau dulu mematikan CB 2, 3, 4 dan tetap mengaktifkan  CB 1, mulai sekarang mode nya sama namun beban CB 1 berkurang. Artinya beban listrik stand by dan biayanya menjadi berkurang.

Sebelum modifikasi MCB, saya berdiskusi dengan teman dan bos (keduanya background Elektro pastinya) tentang listrik yang sering drop apalagi saat malam lampu nyala, dispenser, magic jar, 2 AC, kulkas, kipas, exhaust dan drop CB 1. Padahal AC berbeda CB nya. Dihitung-hitung 2200 watt memang mepet untuk alat-alat diatas, namun masih bisa digunakan asal bijak dalam penggunaan. Opsi nya diantaranya;

1. Menaikan daya menjadi 3500 watt, dengan biaya kenaikan daya sekitar 850 ribu. Biaya bulanan kwh pun menjadi lebih mahal daripada 2200 watt (selisih sekitar 50 ribu). Keuntungan nya, hilang khawatir listrik drop dan spare daya melimpah. Namun dengan aktivitas keseharian, rasanya tidak 24 jam beban 2200 watt itu terpakai. Catatan dari teman, daya naik seharusnya spek kabel instalasi dicek lagi, apakah ampere nya masih sesuai. Jangan sampai nanti kabel menjadi cepat panas dan peluang terbakar menjadi besar. Untuk urusan cek atau penggantian instalasi kabel sangat tidak efisien karena rumah ini beli second sehingga agak sulit melacaknya.

2. Tetap dengan daya 2200 watt, sesuai saran teman dengan modifikasi MCB seperti diatas. Hasilnya cukup terbukti. Disimulasikan dengan menyalakan semua lampu utama, 2 AC, magic jar, kipas, dispenser, dan mesin cuci (tanpa beban) dan meter tetap jalan. Kemudian ditambahkan setrika, tidak selang 1 menit meter utama drop karena beban > 2200 watt (catatan: MCB tidak drop).

Dengan opsi 2 tersebut, ada hal yang ingin saya coba digunakan yakni pemakain capasitor bank (umumnya dibilang penghemat listrik). Sekalipun banyak yang mengulas dan saya juga percaya ketidakefektifan alat tersebut, tapi bagaimanapun pembuktian sendiri tidak ada salahnya. Tujuannya bukan untuk menghemat (tagihan) listrik, namun sebagai pengoptimal daya listrik karena alat-alat listrik diatas (daya semu vs daya nyata). Namanya juga mencoba, saya memilih yang tidak terlalu mahal di internet (delivery minggu depan dengan).  Menurut bos saya, kalau tidak berhasil anggap saja THR untuk penjual nya. Nice to try..

Dari pengalaman listrik di rumah, maka ada beberapa pelajaran yang bisa di ambil;

1. Pakailah listrik sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Jika tidak digunakan lebih baik matikan. Kecuali untuk alat-alat yang sifatnya non-stand by (Kulkas, Magic Jar, AC jika perlu), memilih yang daya nya kecil. Khusus untuk AC, pertimbangan coverage memang utama, namun daya juga penting. Memang kalau daya AC (pk) sesuai, mendinginkan ruangan menjadi lebih cepat, plus ruangan di sekitarnya jika dibutuhkan. Apalagi AC sekarang sudah banyak yang ada ‘system penghemat daya’ nya.

2. Instalasi listrik di rumah sangat krusial, karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan. Instalasi air hanya berefek kenyamanan, sedangkan listrik menyangkut keamanan penghuninnya. Bagi calon pembeli rumah (baru atau second), memahami instalasi listrik menjadi prioritas setelah cocok dengan tampilannya. Untuk rumah second, bisa ditanyakan ke tukang yang melakukan instalasi listrik di rumah tersebut. Jika background electrical kurang, setidaknya pahami jalur-jalurnya. Ubah pertama kali setelah membeli jika instalasi listrik tidak user friendly atau membahayakan, sebelum mengarah ke instalasi air dan pengecatan.

Khusus bagi yang akan membangun rumah sendiri (beli tanah), kesempatan yang sangat baik untuk men-desain instalasi listrik (air dan LAN) yang sesuai dengan kebutuhan, bahkan sedikit over-spec lebih baik untuk kebutuhan masa datang. Tentu dengan bantuan ahlinya, urusan desain mendesain rumah ini akan menjadi menarik. Rumah komplek sekarang sudah banyak yang melibatkan pembeli/penghuni untuk mendesain rumah yang akan di bangun.

Yang belum memiliki rumah, membeli rumah second atau rumah baru sudah jadi pun anugerah yang harus disyukuri. Tinggal mengoptimalkan diri untuk mempelajari seluk-beluk rumah tersebut sampai tuntas, menjadikan pelajaran berharga untuk rumah kedua, ketiga dst nantinya, amin.. 🙂

@triandika

Similar Posts:

5 Comments

  1. vici says:

    sekedar pendapat..
    opsi bertahan di 2200 watt kayanya udah tepat tuh dengan alat2 seperti itu. soalnya rumah ortu juga kurang lebih seperti itu dan ga ada masalah, jadi opsi naik daya sepertinya belum saatnya. tinggal bagaimana bijaknya aja menggunakan alat-alat elektronik tsb. dimulai dari memilih AC yang berdaya kecil , hanya menyalakan AC kamar tidur ketika berada di dalam kamar tidur, tidak mencuci dan menyetrika di malam hari, menggunakan laptop daripada PC dll..

    btw, jadi capasitor banknya gimana ni reportnya? hehe. memuaskan?

    1. triandika says:

      yup, bertahan di 2200 lebih bijak. alat elektronik juga harus cerdas dipakai.

      capasitor belum bisa dibandingkan peer to peer, karena banyak di copot nya.
      mending jangan beli capasitor bank kl ga penasaran hehe.

  2. Gunawan says:

    Thx pencerahannya 🙂

  3. Petrus says:

    Tq ilmunya….
    bs nambah pengetahuan…
    Ada ilmu yg lain lagi? he he he

    Aku tunggu…
    Trims

  4. benzo says:

    Informasi praktis bagi saya yang gak begitu faham tentang perlistrikan.. thanks yaa infonya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Adobe Flash player