Triandika Weblog Rotating Header Image

Lintas Generasi di Bogor dan Ulat Sutra

Pada kesempatan akhir pekan, kami di undang dalam pertemuan para ex pekerja Oil & Gas area Jabodetabek yang diadakan di kota Bogor. Perkumpulan ini kurang lebih awalnya di galang oleh ex Vico Indonesia (diantaranya yang mempunyai lapangan gas di Badak, Kalimantan Timur), yang kemudian bergabung ke Oil & Gas yang lain, seperti Medco, HESS, EMP dll. Karena sifatnya silaturahim, maka tidak ada salahnya kami dalam waktu senggang off duty datang jalan-jalan ke Bogor.

Dalam silaturahim sendiri tentu ada beberapa agenda, diantaranya tukar informasi, bakti sosial, arisan, dan sebagainya. Sesuai dengan latar belakangnya, maka para peserta silaturahim adalah bapak-bapak dan istri nya yang rata-rata sudah diatas usia 50 tahun atau seusia orang tua kami. Sangat jauh dengan kami, pasangan muda usia kurang dari setengahnya. Tentu awalnya kami merasa ‘risih’ karena perbedaan usia tersebut, namun suasana akrab dan kekeluargaan menghapus pelan-pelan rasa canggung itu.

Sebenarnya ini bukan kali pertama kami bergaul dengan bapak-ibu yang usianya jauh di atas kami, karena di komplek perumahan kami (perumahan sejak tahun 70-an), hampir 80% penghuninya diatas 50 tahun. Selalu ada plus minus nya, bagaimanapun kami memandang hal-hal tersebut sebagai semacam “balancing” bagi kehidupan muda kami.

Silaturahim tersebut dilaksanakan di Rumah Sutra Alam, daerah Ciapus Kabupaten Bogor. Hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik kami untuk ikut datang, sambil melihat langsung proses pembuatan kain sutra di tempat tersebut. Sekarang kami akan ajak para pembaca untuk menelusuri perjalanan study tour kami ke Rumah Sutera Alam.

penjelasan murbei

Ini adalah salah seorang pekerja di Rumah Sutera yang sedang menjelaskan seluk beluk tanaman murbei. Dari tanaman inilah proses pembuatan benang sutera itu bermula. Tanaman murbei berasal dari Cina. Di Indonesia sendiri, murbei tumbuh di daerah basah, di lereng gunung yang banyak terkena sinar matahari. Di lahan sekitar 4 hektar ini, murbei dibudidayakan secara stek. Tidak hanya sebagai makanan ulat sutera, ternyata tanaman ini juga mengandung banyak manfaat untuk kesehatan. Daun murbei dipercaya dapat menormalkan tekanan darah, menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah, menurunkan kadar gula darah, menguatkan fungsi liver, memperlambat penuaan, mencegah flu, batuk, demam dan sakit kepala.. setidaknya begitulah yang kami baca dari kemasan Murbey Tea, yang sengaja kami beli disana sebagai oleh-oleh.Cukup dengan harga 15 ribu, kita bisa merasakan sensasi berbeda dari sebuah teh celup. Rasanya enak dan kaya manfaat.. (promosi nih). btw, anak farmasi itb kayanya belum ada yang meneliti ini deh :p

ulat sutra

Ini adalah ulat sutera yang sedang berada dalam fase hibernasi. Jadi ulat sutera itu punya fase-fase pertumbuhan. Fase pertama (berusia 1-4 hari), ulat sutera kecil berganti kulit. Pada fase kedua dan ketiga, semua kulit ulat sutera berganti. Tiga fase ini ditempuh dalam dua belas hari. Pada fase ini, ulat masih sangat sensitif. Pengunjung tidak diperbolehkan masuk kecuali mengenakan peralatan standar yang disediakan. Sayangnya saat itu kami belum diperbolehkan masuk. Nah di foto ini, sang ulat sedang masuk dalam fase ke empat, yang dimulai dari hari ke 13, selama 4-6 hari. Ulat sutera yang kami lihat saat itu berwarna putih bergaris-garis hitam dengan kepala sedikit cokelat. Sang ulat sedang tertidur, tapi sepertinya ada beberapa yang ngelindur karena kepala mereka sedikit bergerak-gerak, lucu tapi menjijikan juga. Tapi jangan khawatir, ulat ini jinak, kalo tidak disuapi makan, dia tidak akan makan meski kita pancing ia dengan murbei pada jarak sekitar 30 cm. what a lazy animal :p. atau mungkin karena saking eksklusif, jadinya pengen dimanja terus.

kokon putih

Pada fase akhir, ulat sutera akan berhenti makan dan mulai membuat kepompong selama 2-3 hari. Pada tahap ini, ulat akan membentuk kokon (kepompong). Selama 5-8 hari, ulat sutera membuat kepompong tanpa lelah. Foto ini adalah plastik khusus dimana ulat akan naik dan mulai membuat kepompong. Satu kepompong, jika diproses bisa menghasilkan benang sutera sepanjang 900-1200 m. Selama enam hari, ulat dibiarkan menjadi pupa dalam kokon. Agar menghasilkan benang yang bagus, tanpa terputus, pupa tersebut tidak dibiarkan menjadi kupu-kupu. Padahal ingin banget lihat kupu-kupu sutera kaya gimana..

kokon kuning

Ada dua jenis kokon di rumah sutera, kokon putih yang bersifat lokal dan kokon kuning yang ulatnya berasal dari luar negeri.

kokon masak

Kokon kemudian direbus agar mengembang (jadi si pupa direbus ‘hidup-hidup’) dan zat perekatnya terlepas.

kokon sisa

Setelah masak, ujung kokon digunting untuk mengeluarkan pupa. Terlihat tidak benang halusnya? dan si pupa masih terjebak di dalam, tapi tenang, pupa sudah mati, setelah memberikan manfaat sepanjang hidupnya.

pupa kokon

Ini adalah pupa masak yang biasanya dimanfaatkan untuk pakan ikan. Katanya penuh dengan protein. hm, mungkin bisa jadi cadangan makanan masa depan, seperti spirulina..(agak ngaco sih :p)

memintal kokon

Setelah pupa dikeluarkan kemudian benang mulai diolah dengan mesin yang semi automatic. Ini bukan pekerjaan gampang, sebab benang yang diolah harus diupayakan satu ukuran (denier). Disini mesin memproses menjadi seikat benang sutera seberat 2 kg. Harga benang sutera putih dijual Rp.370 ribu, adapun yang kuning 400 ribu per kilogram (Tempo, 8 Feb 08)

benang sutra

Ini salah satu gulungan benang sutera mentah yang sudah jadi.  Saat dipegang, seratnya masih kasar, entah berapa denier.. yang pasti ini bahan baku mahal.

memintal kain sutra

memintal sutra

Setelah dari pengolahan benang, kami beranjak ke ruang pemintalan. Alat tenun yang digunakan masih tradisional, terbuat dari kayu. Dalam gambar terlihat ada celah-celah kawat tempat melewatkan satu helai benang, entah ada berapa ratus celah. Dan karena masih tradisional, satu benang itu harus dilewatkan satu demi satu. Bagi mereka yang sudah terbiasa, katanya paling cepat selesai dalam satu hari untuk memasukkan semua benang ke dalam celah. Setelah semua benang terbentang ke arah vertikal, benang yang lain kemudian dimasukkan ke dalam “pistol kayu” yang akan digerakkan secara horizontal, melintang terhadap benang yang pertama. So simple, tapi luamaaaaa…

membentang sutra

Hasilnya ya beginilah, satu helai kain sutera untuk kerudung. Tapi karena benangnya masih mentah, jadi hasilnya masih kasar. Satu kerudung ini dihargai sekitar 50 ribu.

Perjalanan study tour pun selesai. Kami beranjak menuju pendopo untuk menikmati makan siang. Silaturahim pun semakin hangat dengan adanya perkenalan anggota (pasangan) baru, kita salah satunya sebagai pasangan termuda :p.

Ada banyak pelajaran yang di dapat dalam silaturahim ini. Kami membayangkan 20-30 tahun lagi bisa jadi kami dan teman-teman se-pantaran yang sekarang menyebar di beberapa Oil & Gas Indonesia mungkin akan mengadakan hal serupa di masa yang akan datang. Selain itu, kami melihat bahwa bapak-ibu yang dalam perkumpulan ini sudah lebih dari 30 tahun menikah dengan segala kondisi lika liku (terutama dunia Oil), ternyata sampai sekarang masih sehat dan harmonis. Sebuah releksi kehidupan untuk jalan yang sedang mulai kami tapaki hari ini.

Selain itu, dari awal sudah diniatkan bahwa silaturahim ini sendiri tidak hanya ajang kumpul-kumpul tanpa adanya manfaat. Setidaknya ilmu baru seperti ulat sutra atau lainnya diusahakan ada dalam pertemuan setiap bulannya. Karena sifatnya perkumpulan tanpa organisasi, maka tidak ada paksaan harus datang atau iuran (tempat silaturahim digilir), sehingga kedatangan anggota hanya karena merasa butuh.

Kami sendiri tidak bisa memastikan akan selalu hadir, karena bulan-bulan mendatang tentu akan semakin memasuki bulan tua bagi calon buah hati kami. Terima kasih kepada bapak-ibu yang mengundang dan memberikan kesempatan hadir dalam pertemuan bermanfaat ini.

27 Comments

  1. edratna says:

    Menarik sekali liputannya Trian..kapan-kapan bisa ditengok.
    Kapan ya?

    1. triandika says:

      mudah2an bisa Bu..menarik menemukan hal yang berbeda.

  2. sobir says:

    Selama ini kami membuat alat2 untuk close kepompong, yang berminat hubungi HP.081310988132

  3. tina says:

    minta info alamat lengkap rumah sutra alam plz….tertarik melihat postingnya jadi pengen ikutan kesana. thx bgt

    1. triandika says:

      Dari Bogor ke Jalan Ciapus (tempat jualan sepatu kulit), terus saja nyusur jalan Ciapus. sekitar 5 km, tanya rumah sutra. selamat jalan-jalan.. :)

  4. michael says:

    klo mau beli plastik tmpt seriframe tu dmana???
    harga nya kira-kira brapa??
    yg sperti gambar fto di atas.
    tlong hub di email silver_soul@ymail.com

  5. michael says:

    klo mau beli plastik tmpt seriframe tu dmana???
    harga nya kira-kira brapa??
    yg sperti gambar fto di atas.

    1. triandika says:

      wah Mas..kami kurang tahu, tanya yang sering pakai aja ya.

  6. Sobir Mutaman says:

    Pak kami ingin tahu cara pemintalan benang dengan mesin semi automatic, dari kokon sampai menjadi benang, gambar serta peralatannya, terima kasih

  7. gunar says:

    pak, bs minta no tlp/hp rumah sutra alam? tks y

  8. wenny-malang says:

    dimana kalo mau beli telor ulat sutera yang bisa menghasilkan kokon kuning? Dan saya juga ingin ikut pelatihan budidaya ulat sutera dimana?

  9. arya says:

    masQ pengerajin sarung sutra. ukuran benangsutranya brapa?aq pakek 210nm/2 dan 140nm/2 aq perlu banyak kira2 kemampuan produksinya brapa? tlong konfirmasi secepatnya. Gresik -jawa timur.

    1. the3an says:

      Maaf, saya tidak tahu detail. mungkin bisa beli buku khusus tentang ternak ulat sutera. terima kasih sudah berkunjung ya.. :)

  10. dhini says:

    mas,, kita mau ada lomba KTI dan ingin meneliti tntng ulat sutra, alamatnya bisa di jelaskan lbih detail?? atau jika naik angkutan itu jurusan apa?? saya dari bekasi *terimA kasih

    1. the3an says:

      setelah dari terminal bogor (atau station bogor), tanya angkutan yang ke arah ciapus. nanti sambil di angkot tanya saja tempat rumah ulat sutera nya. sesuai petunjuk, dari tempat2 jualan sepatu sekitar 5 km sebelah kanan jalan.

  11. Flory oktrian says:

    Saya dari jakarta barat mas dan saya mau ke sana naik motor…
    Maaf tolong bisa kasih tau rutenya secara detail ga?
    Kira2 berapa jam perjalanan mas?
    Terima kasih sebelumnya…

  12. fanny funeeta djuardi gandasasmita says:

    Waaaahh asiiikk,,,
    Ada liputannya !!!

    Makasiih udah kunjung drumah sutera milik kakekku ,, hehehe

  13. IYO says:

    Bagus jg tuh bisa buat Ide usaha kecil-kecilan…..kpn ya bisa main kesana

  14. aini says:

    waaahhh…keren…

    ikut pelatihannya mahal ga yah???

    InsyaAllah…kesana…

  15. SDI AL HUSNA says:

    Bisa minta tolong minta No. Telpon yang bisa di hubungi. kebetulan kami membutuhkan untuk saat ini. terima kasih

  16. fadhil says:

    kami Menyedikan Benang sutra spun silk 140/2 dan 210/2 Import dari China juga menyediakan Benang Rayon import dan lokal 40/2 dan 60/2

    Ym : aachmads@yahoo.com

  17. Adi says:

    Untuk kunjungan study banding reservasi dulu ya ?
    untuk reservasi kemana dan bisa saya dikasih no telp/Hp.
    terimaksasih

  18. Bisa dapatkan no telp rumah sutera nya? Kami berminat untuk liburan akhir tahun ini? Terima kasih

  19. nadia says:

    lokasi wisata nya dimana ya ?
    boleh saya minta nomer hp ?

  20. citra gumay erika says:

    mau tanya…
    kalau dari daerah cisarua ke ciapus tempat rumah sutera jauh gak ya???
    bleh mnta nomer hp yang bisa dihubungi???

  21. della says:

    biasanya sih setiap kunjungan diharuskan melakukan reservasi terlebih dahulu. no teleponnya 0251 8388281.

  22. devita says:

    wahh..kakak…jadi pingin bisnis ulat sutra..
    kalau bleh tahu dimana kak bsa beli benih ulat nya..
    trima kasih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Get Adobe Flash player