Triandika Weblog Rotating Header Image

Ke Kampus ITB; Anti Nyontek

Bukan merupakan yang istimewa sebenarnya berkunjung ke kampus ITB. Namun buat saya, hal ini menjadi sedikit berbeda karena sudah 2 periode dalam 2 bulan terakhir berkunjung sampai seakan ‘menyelami’ kembali kehidupan kampus. Tidak lain karena harus menemani istri tercinta mengejar deadline thesis nya. di LabSehingga waktu off justru lebih banyak di Bandung (baca: di sekitar kampus) daripada di Depok. Seperti minggu ini, 5 hari saya setiap hari ke kampus plus kadang jika sepi ikut ke Lab menemani penelitian bahkan hari libur sekalipun (sudah pasti mas tidak mengerti apa yang dinda kerjakan, namun cukup membantu kakak menemani di Lab kan? 🙂 ).

Seperti yang sudah saya sampaikan, ke kampus tidak hanya menjadi ajang  ‘menemani istri’, tapi sekaligus merasakan kembali kehidupan kampus. Kembali ke suasana Salman, makan pagi dan siang di Bengkok, Gelapnyawang dan area mahasiswa lainnya. Agak sedikit beruntung karena perawakan yang masih belum terlampau jauh (dari sisi wajah, atau ukuran hehe), maka saya pun menikmati seolah-olah menjadi mahasiswa kembali. Bedanya merasa agak santai dan nyaman karena tanpa beban kuliah serta bisa makan lebih enak (baca: mahal :p) dibanding dulu.

Selain suasana kampus, tentu saja berkunjung ke perpustakaan adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Kali ini cukup lah perpus Salman dan perpus TI (disamping Farmasi pastinya hehe) yang menjadi tujuan. Tujuannya jelas, membangkitkan semangat belajar dari kampus ‘pusatnya ilmu’. Maka berkunjung ke TI serasa me-refresh kembali pengetahuan ke-TI-an setelah 2 tahun banyak berkutat di pekerjaan yang sifatnya lebih praktis dan berkarakter Oil and Gas.

Maka, ke perpus TI di kampus adalah kesempatan mencari hal-hal yang bisa diambil untuk menjadi pencerahan di aktivitas bisnis perusahaan yang digeluti sehari-hari terkait keilmuan TI. Padahal hal tersebut nyata-nyata juga dipelajari dulu 3-4 tahun yang lalu. Ternyata pengetahuan juga membutuhkan stimulus untuk dibangkitkan dari dormant-nya. Dan stimulus itu salah satu yang paling besar dari lingkungan kampus.

Dan aktivitas menemani di Lab pun menjadi aktivitas menuliskan kembali ‘tarian-tarian’ ilmu yang bangkit ke dalam laptop. Sehingga aktivitas di Lab pun menjadi sempurna, sang istri bekerja keras meneliti tentang bawang tiwai, sedangkan sang suami membuat sebuah rancangan improvement untuk pekerjaan nya.

Di kampus ITB sendiri khususnya dalam minggu-minggu ini sedang punya ‘gawe’ yakni Ujian Akhir Semester (UAS). Yang menarik pihak kampus dan Keluarga Mahasiswa ITB sedang getol-getolnya mengkampanyekan UAS bebas nyontek (bukan artinya nyontek sebebas-bebasnya lho..), atau lebih tepatnya UAS tanpa nyontek (menyontek atau mencontek?). Beberapa spanduk dan baligho di pasang di sudut-sudut strategis kampus seperti di bawah.

nyontek3

Tulisan ada di baligho depan gerbang ganesha
Anda Memasuki Kawasan Bebas Menyontek

nyontek1

Ada di depan Aula Barat (Ujian Bersih, Bangga dengan Hasil Sendiri)

nyontek2

Sebuah karangan bunga duka cita di gerbang.
Turut Berduka Cita Kepada Mahasiswa Penyontek (Pencontek?)
Kampanye UAS Bersih

nyontek4

Loe disubsidi negara, bukan buat nyontek (di depan Teknik Perminyakan)

nyontek5

Cheaters Now = Future Corruptor
Menyontek adalah perbuatan curang, curang = tindakan korupsi
(Spanduk bertema anti nyontek di gerbang belakang)

Kampanye UAS tanpa nyontek pun menjadi bahan khutbah Jum’at di Salman kemarin. Khotib mengingatkan resiko kebohongan nilai hasil contekan sampai dibawa kemana-mana setelah lulus (hingga mati) serta tingginya keutamaan menuntut ilmu sehingga jangan sampai dicemari dengan kebohongan mencontek. Disampaikan bahkan Imam Al Bukhari dalam meriwayatkan hadis tidak mengambil dari orang yang berbohong bahkan ‘hanya’ kepada binatang. Tema khutbah yang sangat spesifik khususnya kepada mahasiswa atau umumnya juga pengingat untuk berlaku jujur.

Terakhir agenda di kampus adalah bertemu dengan teman yang masih ‘tertinggal di kampus’. Maka obrolan gaya laki-laki yang ngalor ngidul pun menjadi tema termasuk kemajuan TA nya. Akhirnya saya cuma berpesan kepada beliau untuk segera lulus, mengingat tahun ini benar-benar deadline 7 tahun. Saya sendiri pun tidak sabar masuk ke aula hikmah untuk wisuda istri tercinta.. 🙂

Similar Posts:

5 Comments

  1. Mike says:

    Hi, nice posts there 🙂 thank’s for the interesting information

  2. errick says:

    lapor… laporan sudah dibuat… laporan selesai…

    1. triandika says:

      Erri, jadi ilmu yang di dapat selain properti apa saja? 🙂

    2. errick says:

      iya euy cuman tiga jam… tapi efektif kan… langsung dapet yg bagus…

      iya blm rejekinya dpt makanan… mungkin dikira sy dateng cuman cari makannya aja, jd g dikasih 🙂

      ada lagi sih selain properti, semacam kebiasaan orang sukses gitu lah… cuman ga kecatet euy… banyak sih… pun sabuganya gelap banget 🙂

      klo yg properti mah masih bisa dicatet pake HP, kan dikit poin2nya…

  3. Kalebarkab says:

    I want to find good pop music. Help me please.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Adobe Flash player